Kondisi yang Memprihatinkan, DK IKMAS Minta Pemda perhatikan Asrama Jogja

Sambas

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 278

Kondisi yang Memprihatinkan, DK IKMAS Minta Pemda perhatikan Asrama Jogja
KONDISI - Beginilah kondisi Asrama Mahasiswa Kabupaten Sambas (AMKS) Sultan Muhamad Tsafiuddin di Yogyakrta, yang beralamat di Jalan Garuda, Gang Beo UH III Yogyakarta. Pemda Sambas diminta dapat memberikan perhatiannya. (SP/Nurhadi)
Dewan Kehormatan (DK) Ikatan Mahasiswa Kabupaten Sambas (IKMAS) Yogyakarta meminta Pemerintah Daerah (Pemda) Sambas memperhatikan Asrama Mahasiswa Kabupaten Sambas (AMKS) Sultan Muhamad Tsafiuddin di Yogyakrta, yang beralamat di Jalan Garuda, Gang Beo UH III Yogyakarta.

SP - Dikatakan DK IKMAS, Ardy Sanjaya, bahwa AMKS merupakan aset Pemda yang harus diperhatikan dan dirawat. Karena di sanalah tempat tinggal mahasiswa Sambas yang menimba ilmu di Yogyakarta.

"AMKS Yogyakarta merupakan struktur bangunan bekas rumah dua lantai, bukan bangunan layaknya gedung asrama. Itu dibeli tahun 2006 lalu dan hanya pernah satu kali di renovasi, yaitu dengan penambahan empat kamar pada tahun 2014," ujarnya, Selasa (27/3).

Memurut pria yang juga alumni AMKS tahun 2015 ini, jumlah kamar yang sedikit tak sebanding dengan warga asrama yang cukup banyak, sehingga sudah seharusnya Pemda Kabupaten Sambas merenovasi bangunan tersebut menjadi layak.

“Kondisinya saat ini sangat memprihatinkan, atap genteng bocor, kamar yang tidak layak, kabel listrik yang semraut, WC hanya satu yang bisa digunakan. Bahkan loteng pun disulap menjadi kamar oleh mahasiswa karena keterdesakan tersebut," terangnya.

Asrama tersebut memiliki tujuh kamar yang masing-masing kamar diisi tiga orang, ditambah dua kamar terbuat dari triplek ukuran 1x3 cukup untuk satu orang. Dan terdapat lagi dua kamar di atas genteng, yang ketika berdiri kepala akan membentur langit-langit kamar.

AMKS juga sering kali digunakan oleh warga Sambas sebagai tempat menginap ketika berkunjung ke Yogyakarta, dan tempat menginap bagi warga Sambas yang anak-anaknya akan di wisuda setelah menyelesaikan pendidikanya di Yogyakarta.

"AMKS menjadi rumah sementara bagi setiap warga Sambas yang berkunjung ke Yogyakarta. Sudah selayakanya tempat ini harus dijadikan milik bersama warga Sambas," tuturnya.

Dengan keadaan yang memperhatinkan tersebut, tentunya warga AMKS tidak tinggal diam, iuaran gotong royong untuk memperbaiki sering dilakukan. Bahkan tiap bulan iuran Rp100 ribu per orang disisihkan untuk memperbaiki atap yang bocor.

"Pengurus AMKS dari tahun ke tahun sering mengirim proposal dan upaya audiensi bersama Pemda Sambas, untuk dapat menyelesaikan persoalan bangunan AMKS yang sudah tidak layak ini," katanya.

Ardy meminta, Bupati Sambas Atbah menanggapi hal ini. Selain bangunan, AMKS yang tidak layak aset seperti komputer, telivisi, kipas dan alat kesenian yang d beli pada tahun 2011 sudah tidak bisa digunakan. 

AMKS dikenal masyarakat Yogyakarta sebagai pusat kesenian Akustik Melayu dan Tarian Melayu Sambas. Di bawah Divisi Kesenian IKMAS, cukup sering mengadakan even besar Kebudayaan Sambas seperti Gelar Budaya Sambas (GBS) dan lainnya. (nurhadi/pul)