Sampah Plastik Ancam Pantai Temajuk, Gotong Royong Membersihkan di Hari Lingkungan Hidup

Sambas

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 156

Sampah Plastik Ancam Pantai Temajuk, Gotong Royong Membersihkan di Hari Lingkungan Hidup
SAMPAH PLASTIK – Suasana gotong royong membersihkan pantai Temajuk yang dilakukan Dinas Perkim LH dan beberapa pihak terkait, kemarin. Sampah plastik memang menjadi ancaman pantai tersebut. (SP/Nurhadi)
Kadis Perkim LH Sambas, Eko Susanto
"Kendalikan sampah plastik diambil sebagai perwujudan komitmen bersama seluruh pihak dalam upaya mengatasi bahaya sampah plastik di berbagai belahan dunia, juga di Indonesia"

SAMBAS, SP – Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Pemukiman dan Lingkungan Hidup (Perkim LH) Kabupaten Sambas, membersihkan sampah plastik di Pantai Temajuk, Desa Temajuk, Kecamatan Paloh dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup.

Sampah plastik di pantai sepanjang kurang lebih 43 kilometer ini, memang menjadi salah satu permasalahan tak kunjung tuntas.

"Dalam rangka peringatan hari lingkungan hidup sedunia yang diperingati setiap tanggal 5 Juni, kita telah melakukan beberapa kegiatan di Temajuk, Sabtu kemarin yang temanya kendalikan sampah plastik," ujar Kadis Perkim LH, Eko Susanto, Senin (13/8).

Diketahui, Indonesia sama seperti negara lainnya yang dihadapkan pada permasalahan dampak dari peningkatan aktivitas dan kebutuhan manusia. Yaitu berupa penumpukan sampah plastik, yang hingga kini perlu dilakukan tindak lanjut pengelolaan yang cepat, tepat, dan ramah lingkungan. 

"Hal ini sangat penting, mengingat sampah plastik merupakan benda yang tidak dapat terurai hingga membutuhkan waktu yang sangat lama sampai jutaan tahun, dan dapat mengakibatkan pencemaran tanah, air dan laut," paparnya.

Eko mengingatkan, polusi plastik saat ini telah menjadi ancaman. Banyak plastik yang tidak dibuang di tempat pembuangan sampah, tapi malah berakhir di lautan. Itu membunuh jutaan burung laut dan ratusan ribu mamalia laut tiap tahun, termasuk penyu sebagai hewan yang dilindungi.

"Kendalikan sampah plastik diambil sebagai perwujudan komitmen bersama seluruh pihak dalam upaya mengatasi bahaya sampah plastik di berbagai belahan dunia, juga di Indonesia," katanya.

Tema ini katanya, mengandung arti motivasi kerja sekuat tenaga untuk mengatasi sampah. Selain itu, juga kerja sistematis dalam mengurangi, mengolah dan melakukan pengelolaan sampah berkelanjutan melalui kegiatan daur ulang, atau dikenal dengan istilah 3R (reduce, reuse dan recycle).

“Serta yang penting adalah upaya bersama kolaborasi semua pihak, pemerintah, masyarakat dan dunia usaha untuk mewujudkan Sambas bebas sampah 2020," ujarnya.

Aksi membersihkan pantai ini, juga merupakan upaya untuk menjaga destinasi wisata ini agar selalu bersih dari polusi sampah plastik.

Sampah yang menghampar dan menumpuk hampir di sepanjang pantai, berupa plastik bekas wadah makanan dan minuman. Botol-botol air kemasan, serta pembungkus barang lainnya yang bukan berasal dari Indonesia, namun tertera label produksi Malaysia, Brunai Darussalam, Singapura, Filipina, Thailand, Vietnam, hingga Tiongkok. 

"Hal itu mengindikasikan bahwa sampah tersebut adalah sampah kiriman dari berbagai negara mengingat secara geografis, posisi pantai laut Cina Selatan,” ujarnya.

Dia berharap, agar masyarakat luas untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan, dan mengendalikan sampah plastik.

Ketua Panitia, Septiza mengatakan, kegiatan tersebut dilakukan dengan tujuan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat, akan pentingnya menjaga lingkungan dari polusi sampah plastik. Terdapat 300 peserta dari berbagai kalangan yang ikut terjun dalam kegiatan tersebut. 

“Ini menjadi upaya untuk mewujudkan Sambas bebas sampah tahun 2020. Serta terlaksananya program pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan hidup,” katanya.

Temajuk Ikon Pariwisata Sambas

Pegiat wisata sekaligus anggota Jejaring Wisata (Jewita) Kabupaten Sambas, Sairi menyambut baik gerakan bersih-bersih sampah plastik oleh Dinas Perkim LH di Temajuk.

"Temajuk merupakan ikon Kabupaten Sambas untuk pariwisata. Di sana juga menjadi tempat penyu bertelur. Gerakan bersihkan pantai dari sampah plastik ini sangat baik dan kita apresiasi sebagai sesuatu yang patut dicontoh dan dilanjutkan oleh yang lain," ujarnya.

Beberapa waktu lalu, bahkan pernah ditemukan cangkang penyu yang mati di antara tumpukan sampah di sana. Hal ini kata Sairi menjadi peringatan agar masyarakat harus menjaga kelestarian alam.

"Membuang sampah sembarangan di laut, pantai dan sekitarnya merupakan perbuatan egois dan tidak dewasa masyarakat. Pemahaman bahwa alam ini bukan hanya milik manusia masih perlu untuk disebar luaskan secara masif," paparnya.

Dia juga berharap agar kegiatan serupa dapat dilakukan oleh instansi dan lembaga lainnya di tempat lain pula.

"Kita harap tak hanya satu instansi saja. Dinas, lembaga, kelompok dan komunitas lainnya juga kita imbau untuk melakukan hal serupa, tak hanya di pantai tapi juga di daerah lainnya, termasuk di perkotaan," pungkasnya. (noi/and)