Kamis, 30 Januari 2020


Sungai di Desa Puringan Tercemar CPO

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 148
Sungai di Desa Puringan Tercemar CPO

Tercemar – Genangan CPO yang ada di Penyeberangan Kubung-Penyulong, Desa Puringan, Kecamatan Teluk Keramat. Kondisi ini dikhawatirkan masyarakat akan mempengaruhi kehidupan keseharian mereka. ist

SAMBAS, SP - Tumpahan minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) di Penyeberangan Kubung-Penyulong,  Desa Puringan, Kecamatan Teluk Keramat dikeluhkan masyarakat.

"Air merupakan kebutuhan hidup orang banyak, sehingga kualitasnya harus dijaga. Kami minta pemerintah segera melakukan pengecekan," kata warga Desa Puringan, Dhika, Rabu (4/12).

Genangan CPO juga dikhawatirkan membuat nelayan kesulitan mencari ikan karena dapat menyebabkan mahluk hidup di dalam sungai keracunan. "Kita juga khawatir nanti akan menjadi polusi di sungai, air tercemar dan ikan-ikan mati atau pindah ke tempat yang jauh,"keluhnya.

Terpisah, Kepala Dinas Perkim LH Sambas, Eko Susanto akan mengirimkan tim ke lokasi genangan CPO setelah sebelumnya mendapat laporan dari masyarakat sekitar.

"Tim sudah langsung meluncur ke lokasi untuk melihat dan menganalisa laporan yang disampaikan dan mengambil sampel air di sana," katanya.

Sekretaris Komisi II DPRD Sambas, Erwin Johana meminta perusahaan sawit yang menyebabkan tumpahan CPO di sungai bertanggungjawab.

"Apapun hasil pemeriksaannya, saya meminta pihak perusahaan bekerja dengan baik dan bertanggung jawab dalam melaksanakan pekerjaannya," tegasnya.

Erwin juga meminta Pemkab menghadirkan fasilitas yang mumpuni untuk memeriksa kondisi air sungai. 

"Saya harap di Sambas punya laboratorium sekelas Baristan di Pontianak. Beberapa waktu terakhir pencemaran sungai di Sambas selalu terjadi. Kita mesti punya alat yang cukup untuk tahu kadar polusi air dengan cepat," katanya.

Selain itu, kata Erwin, sangat diperlukan upaya sosialisasi rutin agar pencemaran sungai yang juga banyak dilakukan masyakat bisa dikurangi.

"Banyak masyarakat yang tidak tahu kalau perbuatannya melanggar hukum, libatkan desa, libatkan komunitas dan kelompok masyarakat untuk menyampaikan pesan ini," pintanya.

"Kita punya banyak sungai dan bergantung dari sungai, namun kita juga tidak tahu sejauh mana sungai kita bisa bertahan dengan polusi dan pencemaran. Ini juga mesti diukur oleh instansi terkait, berapa kapasitas toleransi sungai kita terhadap pencemaran, Pontianak sudah lakukan ini," pungkasnya. (noi/jee)