Bayi Perempuan Asal Sanggau Divonis Gizi Buruk

Sanggau

Editor sutan Dibaca : 534

Bayi Perempuan Asal Sanggau Divonis Gizi Buruk
Nurbertus Limhuan, bayi berusia delapan bulan saat di ruang IRNA RSUD Sanggau, Rabu (20/7). (SUARA PEMRED/saiful fuat)
SANGGAU, SP – Isak tangis Nurbertus Limhuan, bayi perempuan berusia delapan bulan pecah di ruang Instalasi Rawat Inap (IRNA) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sanggau, Rabu (20/7).

Anak dari pasangan Akiang (20) dan Dirin (18) warga Dusun Kuala Tadan, Desa Bula Bala, Kecamatan Balai Batang Tarang, Kabupaten Sanggau ini terus mengerang kesakitan lantaran divonis menderita mal nutrisi atau gizi buruk.

Mirisnya lagi, bayi malang ini bukan malah mendapatkan pertolongan sigap dari pihak rumah sakit.  Namun justru dibiarkan. Lantaran pihak keluarga belum tuntas membereskan administrasi.
Kerabat korban, A Toni menyebutkan, Huan mulai dirawat sejak Selasa (19/7), sekitar pukul 23.00 WIB.

Namun sampai Rabu (20/7) kemarin, bayi malang itu belum juga mendapatkan pelayanan yang baik dari pihak rumah sakit. “Rencananya orang tua Huan mau pulang, soalnya mereka sudah tidak sanggup mengurusi masalah administrasinya. Kalau mau bolak-balik ngurus itu jauh, ongkosnya sudah berapa,”  ujarnya, ditemui di ruang IRNA Anak RSUD Sanggau, Rabu (20/7).

Menurutnya, anak kerabatnya itu diketahui menderita gizi buruk setelah diperiksa di Puskesmas. "Jadi petugas kesehatan Puskesmas mengatakan Huan kekurangan gizi, berat badannya berada di garis merah. Artinya, dalam posisi tidak normal di usia sekarang, makanya dibawa ke sini," jelasnya.

Kejadian aneh, tak hanya dirasakan pihak keluarga, atas lambannya penanganan yang diberikan rumah sakit. Namun saat awak media mencoba meliput kejadian ini, petugas RSUD sempat menolaknya. “Abang ni siapa ya, ada surat izin tidak. Semestinya ada surat izin dulu, baru bisa meliput di sini,” kata petugas tersebut.

Bukan itu saja, petugas tersebut bahkan sempat memprotes wartawan, lantaran telah mengekspos kasus yang dialami Jisen, pasien gizi buruk yang juga sempat dirawat di sana beberapa waktu lalu. “Kami dulu kecolongan sama wartawan, masa kami dilaporkan ke bupati gara-gara waktu itu, kasus Jisen,” kesalnya kepada wartawan.

Bahkan  usai melarang meliput, petugas bernada kasar tersebut sempat menutup pintu ruang IRNA dengan cara membanting. Menunjukkan kemarahannya akibat liputan kasus gizi buruk oleh sejumlah wartawan.
Sementara itu, seorang keluarga pasien lainnya, mengaku sempat mendapatkan perlakuan buruk dari petugas di RSUD. 

  Dia menceritakan pernah ditegur dengan cara yang tidak mengenakkan.
“Saya memang salah. Saya dikasi tahu jangan membawa orang ramai-ramai di saat bukan jam besuk.  Petugas itu bilang, kami sudah cukup besabar, jangan bawa orang ramai-ramai ke ruangan ini, bernada tinggi,” ceritanya.

Akibat kejadian itu, dia merasa sakit hati terhadap perbuatan petugas kesehatan. Padahal menurutnya, hal ini bisa dibicarakan baik-baik.

Terkait hal ini, anggota Dewan Pengawas RSUD Sanggau, Adriyus Wijaya sangat menyayangkan kejadian ini bisa terjadi. Menurutnya, persyaratan administrasi seharusnya bisa menyusul dilakukan. Karena yang terpenting adalah penanganan pasien.

“Mereka (petugas) juga harus segera lapor ke manajemen. Supaya bisa diambil kebijakan. Hal seperti ini sudah sering dialami, paradigma yang tidak berubah-rubah juga," singkatnya.

Desak Perbaiki Layanan

Ketua DPRD setempat, Jumadi meminta pihak Polindes, Pustu dan Puskesmas yang berada tak jauh dari kediaman bayi tersebut, segera mengecek kebenaran diagnose gizi buruk tersebut. “Cek apa benar kasus gizi buruk itu, atau ada penyebab lain,” katanya.

Politisi PDI Perjuangan itu meminta Dinas Kesehatan setempat, juga berkoordinasi dengan petugas-petugas di lapangan agar cepat menangani kasus ini.  “Jangan sampai ada lagi kasus gizi buruk di Sanggau ini di kemudian hari. Karena Sanggau ini menurut data statistik terbebas dari kemiskinan," timpalnya.

Jumadi sangat menyangkan lambannya penanganan oleh pihak RSUD sehingga pasien semakin menderita. “Jangan sampai pasien meninggal baru sibuk mengurusinya. Ini nyawa manusia bukan nyawa benda tak bernyawa,” kesalnya.

Persoalan pelayanan RSUD itu, menurutnya memang sudah lama dikeluhkan warga. Anehnya, sampai sekarang tak kunjung berubah. Mestinya pihak manajemen terus mengontrol pelayanan.  “Kuncinya kalau pelayanannya sudah baik, boleh memikirkan naikkan tipe rumah sakit tersebut,” terangnya.

Jumadi juga menyayangkan ulah petugas RSUD yang sempat menghalangi peliputan wartawan. Menurutnya, itu sama saja mengganggu tugas kerja untuk memberikan informasi akurat kepada masyarakat. “Kalau mereka (petugas kesehatan itu) marah, marahkan saja lagi,” tegasnya.

Atas kejadian itu, dia mendesak agar ada perbaikan pelayanan oleh manajemen dan seluruh petugas yang bekerja di RSUD.  “Rumah sakit ini pelayanan publik, mengurus orang sakit, harusnya dengan senyuman kalau negur orang, bukan dengan marah-marah,” pungkasnya. (pul/and/sut)