Kawin Campur, Warga Malaysia Akan Dideportasi

Sanggau

Editor hendra anglink Dibaca : 383

Kawin Campur, Warga Malaysia Akan Dideportasi
SANGGAU, SP - Tim Pengawasan Orang Asing (Tim Pora) Kabupaten Sanggau mulai action. Selasa (3/10), Tim Pora yang dibagi empat kelompok menyasar dua kecamatan, yakni Entikong dan Sekayam, termasuk menemui warga Indonesia yang menikah dengan warga Malaysia atau kawin campur.

Di Dusun Sontas, Desa Entikong, Kecamatan Entikong, tim menemui warga Indonesia yang menikah dengan warga Malaysia. Namanya Natalia Nina, warga Sontas. Dia menikah dengan warga Malaysia bernama Muhammad Zainul. Zainul berprofesi sebagai tukang bangunan yang pulang ke Indonesia seminggu sekali.
“Paling sehari suami saya pulang ke rumah,” kata Natalia kepada wartawan, kemarin.

Hal yang sama juga dialami Yunita Darnieta Melcy. Warga asli Dusun Sontas ini juga menikah dengan warga Malaysia.

“Mereka yang melakukan pelanggaran imigrasi akan dipulangkan. Sementara warga Indonesia yang menikah atau kawin campur dengan warga Malaysia, selain dideportasi juga diberikan pengarahan bahwa pernikahan mereka tidak sah secara hukum negara,” kata Kepala Imigrasi Entikong, Heri Prihatin.

Sebelum menggelar operasi orang asing, Kantor Imigrasi Entikong bekerjasama dengan lintas instansi diantaranya BIN, Bea Cukai Entikong, Polsek Entikong dan Sekayam, Koramil Entikong dan Sekayam, Kejaksaan Entikong, Kecamatan Entikong dan Sekayam dan KUA Entikong dan Sekayam menggelar rapat koordinasi Tim Pora yang dilaksanakan di Aula Kantor Imigrasi Entikong, Selasa (3/10), sekitar pukul 09.00 WIB.

Rapat tersebut merupakan bagian dari tugas Imigrasi sebelum melaksanakan operasi orang asing yang dilaksanakan selama dua hari, 3-4 Oktober 2017. Rapat tersebut membahas dugaan pelanggaran keimigrasian yang dilakukan orang asing di Indonesia.

“Kami menyiapkan ruangan untuk memeriksa orang asing yang diduga melakukan pelanggaran. Tim dibagi dalam empat kelompok yaitu tim A, tim B, tim C dan D dengan sasaran orang asing yang melakukan pelanggaran keimigrasian dan tanpa melalui jalur resmi, over stay, pemalsuan identitas oleh orang asing serta kawin campur dan memeriksa orang asing yang masuk melalui jalur tikus,” terang Heri.

Tim Pora berharap selama operasi mendapatkan hasil karena dari informasi yang diperolehnya banyak orang asing yang diduga melakukan pelanggaran keimigrasian di wilayah Indonesia.

“Saya berharap tim selalu berkoordinasi dengan sesama anggota untuk menjawab rumor pelanggaran keimigrasian yang beredar di masyarakat,” pungkas Heri. (jul/lis)

Komentar