Indonesia Ekspor Perdana 25 Ton Beras ke Malaysia

Sanggau

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 467

Indonesia Ekspor Perdana 25 Ton Beras ke Malaysia
EKSPOR PERDANA - Mentan, Amran Sulaiman saat launching ekspor beras ke Malaysia di Desa Tunggal Bhakti, Kecamatan Kembayan, Kabupaten Sanggau, Jumat (20/10). Ekspor perdana ini sebanyak 25 ton dimuat lima truk. SP/Ratno
SANGGAU, SP – Pemerintah melalui Kementerian Pertanian mengekspor beras sebanyak 25 ton ke Malaysia. Ekspor perdana beras premium dan medium hasil pertanian di Kabupaten Sanggau melalui PLBN Entikong itu, dilakukan Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman didampingi Bupati Sanggau, Paolus Hadi.

“Sanggau sudah surplus 50 ribu ton. Kemudian Kalbar surplus 350 ribu ton. Surplus ini kita kirim ke negara tetangga. Ada permintaan untuk beras kurang lebih 140 ribu ton,” kata Amran, saat melaunching ekspor beras ke Malaysia di Desa Tunggal Bhakti, Kecamatan Kembayan, Kabupaten Sanggau, Jumat (20/10).

Dikatakan Mentan, kebutuhan impor beras Malaysia setiap tahunnya lebih dari satu juta ton. Selama ini, kebutuhan itu diimpor dari Vietnam dan sejumlah negara lain. Pemerintah Indonesia pun telah melakukan pembicaraan dan menyakinkan pemerintah Malaysia, bahwa Indonesia siap ikut serta menutupi kebutuhan beras tersebut.

Ekspor beras ini akan dilakukan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan Malaysia. Selain itu, kata Amran, ekspor produk pangan dari perbatasan bukan kali pertama dilakukan. Sebelumnya, Kementan juga mengeskpor beras melalui perbatasan di Merauke ke Papua Nugini. Selain itu, Indonesia juga pernah menjual bawang melalui perbatasan ke Timor Leste.

Menurut Mentan, kebutuhan beras nasional dipenuhi dari Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi dan daerah besar lainnya. Untuk itu, ia mendorong produk pertanian yang dihasilkan dari perbatasan berorientasi ekspor.

“Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi cukup memenuhi kebutuhan Nasional. Tapi yang berada di perbatasan orientasinya adalah ekspor. Dan kita dorong pertanian organik, beras organik ke negara tetangga,” ujarnya.

Selain beras, pemerintah juga mendorong ekspor jagung dari Sanggau ke Malaysia. Guna memperluas lahan pertanian jagung, Kementan berjanji akan memberikan alat mesin pertanian modern dan bibit jagung berkualitas secara gratis.

“Kita jalan terus, bukan hanya beras tapi juga jagung. Kita tanam di perbatasan baru kita ekspor, sangat sederhana. Tiga bulan yang lalu Menteri Pertanian Malaysia datang ke Indonesia, dan menyatakan siap impor beras dan jagung dari Indonesia. Untuk jagung kebutuhannya 3,1 ton dan beras 1 juta ton lebih. Kurang lebih nilainya Rp20 triliun,” ungkap Amran.

Mentan melihat potensi ini sangat luar biasa dan meminta petani di Sanggau tidak hanya menanam padi, tapi juga jagung yang dibutuhkan negara tetangga.

“Ini luar biasa potensi, kita garap bersama. Minggu depan kami ke Malaysia pertemuan bilateral dan MoU dengan Malaysia. Potensi ini harus kita selesaikan, dan mimpi kami adalah membangun lumbung pangan perbatasan. Apalagi biaya transportnya murah, pasti kita bisa bersaing dengan negara lain dari Pakiztan, Vietnam dan seterusnya. Karena kita berada di perbatasan,” pungkasnya. 

Di hadapan Mentan, Bupati Sanggau menyampaikan keinginan masyarakat, khususnya petani soal Bendungan Merowi di Desa Semayang, Kecamatan Kembayan, agar bisa segera difungsikan.

Untuk diketahui Bendungan Merowi dibangun sejak 1982 di tanah seluas 1.600 hektar dan hingga saat ini terbengkalai, alias tidak berfungsi. “Masyarakat di sini sangat berharap irigasi Merowi yang sudah lama dibangun bisa berfungsi kembali,” ucapnya.

Menurut PH, sapaan akrab Bupati Sanggau ini, tersendatnya irigasi ke areal pertanian masyarakat juga akibat sedimentasi. Padahal jika aliran air yang lebih banyak, lahan pertanian bisa lebih luas dan panen juga meningkat.

Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan ini berharap, Mentan Amran dapat membawa permohonan perbaikan irigasi ini ke Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), sehingga bisa segera dilakukan perbaikan.

Selain itu, Bupati juga berharap mendapat kemudahan untuk membuka lahan pertanian baru yang terbendur kawasan hutan. “Wilayah perbatasan yang masuk kawasan hutan produksi dan juga hutan lindung, kita harapkan bisa menjadi lahan pertanian baru. Dan kami yakin bisa ikut serta ekspor jika lahan lebih banyak dan irigasinya baik,” ucap PH.

Menanggapi permintaan yang disampaikan bupati itu, Amran meminta kepada Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Sanggau, memperbaiki sistem irigasi yang ada. Ia pun berjanji akan memberikan alat berat untuk mempermudah PU dalam melakukan perbaikan.

“Mana pak Kadis PU? Kalau saya kasih excavator, traktor, bisa nggak bapak kerjain? Selesaikan irigasi itu, turunkan masyarakat, pasti mau bantu. Traktor harganya Rp500 juta per unit, saya kasih 4. Dengan catatan itu rampung ya,” ucap Mentan.

Pada kesempatan itu, Amran juga berjanji memberikan 10 mesin pompa air dan bantuan bibit jagung untuk 15 ribu hektar lahan. “Sanggau saya kasih 10 pompa ya. Benih jagung juga, kita kasih 15.000, tahun lalu 7.000 ton. Bisa tanam 15.000 ton benih? Aku kasih gratis, nilainya itu Rp30 miliar. Ini persiapan untuk ekspor. Jadi ini kami berikan 15 ribu hektar, gratis benihnya, gratis pupuknya,” ucap Mentan. 

Sementara, Kepala Desa (Kades) Semayang, Herkulanus Julen berharap apa yang sudah dijanjikan Mentan Amran bisa segera terealisasi, sehingga Bendungan Merowi yang dibangun sejak zaman Orde Baru itu bisa berfungsi.

“Perbaikan pernah dilakukan, tapi masih juga tidak berfungsi. Dan kita sambut baik apa yang sudah disampaikan pak Menteri tadi. Tentu kita berharap janji pak Mentan bisa segera terealisasi,” ucapnya.

Sebagai bendungan terbesar di Kalbar dan keberadaannya sangat dibutuhkan petani untuk mewujudkan pangan berkelanjutan di Kabupaten Sanggau serta mendukung ekspor beras. Menurut Julen, sangat disayangkan jika perbaikannya luput dari perhatian pemerintah.

“Lahan pertanian di sekitar bendungan Merowi itu sekitar 800 hektar, belum termasuk di wilayah Tunggal Bhakti. Nah, kalau bendungan itu berfungsi dengan baik, airnya bisa mengalir sampai ke Tunggal Bhakti,” kata Julen. (jul/lis)

Komentar