Langganan SP 2

Dinas LH Terkendala Personel Awasi Aktivitas Pabrik

Sanggau

Editor Kiwi Dibaca : 70

Dinas LH Terkendala Personel Awasi Aktivitas Pabrik
Ilustrasi
SANGGAU, SP – Aktivitas Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Kabupaten Sanggau perlu terus diawasi. Terutama mengawasi aktivitas pabrik pengolahan minyak mentah sawit atau CPO itu dalam mengelola limbahnya, agar tidak mencemari lingkungan.  

“Kami tidak bisa sepenuhnya melakukan pengawasan aktivitas pabrik terhadap dampak lingkungan. Ini karena kami kekurangan personel dan anggaran.

 Kami hanya punya tiga orang yang biasa ke lapangan dan kami juga tidak punya yang namanya Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup. Yang ada itu di provinsi,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kabupaten Sanggau, Basita Ginting, kemarin.  

Untuk pengawasan, ia mengaku selama ini pihaknya mengandalkan laporan masyarakat maupun laporan periodik dari pihak perusahaan terkait pelaksanaan penanganan dan pengelolaan pemantauan lingkungan.  

“Dari perusahaan disampaikan enam bulan sekali. Dalam enam bulan kan pabrik ada kewajiban melakukan pemantauan. Setiap bulan juga ada. Termasuk limbah yang tergolong B3. Di Kabupaten Sanggau, ada sekitar 20 pabrik,” ujar Basita.   Pengecekan yang dilakukan pihaknya ke lapangan, lanjut dia, dilakukan setahun sekali karena tidak mungkin dengan jumlah personel yang hanya tiga orang harus turun ke 20 pabrik yang ada di Kabupaten Sanggau.  

“Sekarang ada yang namanya Proper. Ada yang dari pusat, ada yang provinsi. Atau ada pabrik/perusahaan melapor sendiri dalam rangka proper. Mudah-mudahan tahun depan kita bisa menambah anggaran untuk pengawasan dan pengambilan sample,” harap Basita.  

Ia menambahkan, jika ada laporan masyarakat pihaknya akan berkoordinasi dengan camat setempat. Dalam hal pengecekan limbah tetap berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan.  

“Seperti kemarin di PT TBS Kembayan kita juga ambil sampel airnya. Tapi dari pihak Dinas Kesehatan bilang tidak sembarangan dalam pengambilan sampel itu. Harus tahu di mana tempatnya, jam berapa, apakah sudah bercampur dengan air hujan atau tidak, teknik pengambilannya, alat yang dipakai dan sebagainya,” pungkas Basita. (jul/bah)