Dinkes Sanggau Tak Tanggap Tangani Kasus DBD

Sanggau

Editor Kiwi Dibaca : 152

Dinkes Sanggau Tak Tanggap Tangani Kasus DBD
Ilustrasi
SANGGAU, SP – Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sanggau, Fransiskus Ason mengaku kecewa dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat yang tidak tanggap menangani kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang jumlahnya terus meningkat.   “Saya banyak mendapat laporan dari orang tua di Meliau tentang kondisi anak-anak mereka yang terserang DBD. Mereka minta bantuan ke saya agar menyampaikan ke pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan untuk segera fogging. Dan mereka mengeluhkan fogging cuma dilakukan dua kali setahun,” katanya kepada wartawan di ruang kerjanya, Rabu (1/10).  

Menurut Ason, sudah ada satu penderita DBD di Meliau yang dikabarkan meninggal dunia.
  “Ada warga yang kirim pesan WA (WhatsApp) ke saya menginfokan anak SDN 30 di Meliau meninggal dunia. Ini yang membuat saya prihatin,” ucapnya.   Menyikapi kondisi DBD di Meliau, Ason mengaku sudah berupaya menghubungi Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Sanggau, Jones Siagian agar segera menangani kasus DBD tersebut. Namun sangat disayangkan, yang bersangkutan tidak merespons.  

“Saya coba hubungi Kepala Dinas Kesehatan tapi tidak menjawab. Yang jadi pertanyaan saya, kemana Dinkes? Apa yang sudah mereka kerjakan? Ini dihubungi saja susah. Bagaimana mau memutus mata rantai penyebaran DBD ini,” kesal Ketua DPD Partai Golkar Sanggau ini.


  Kasus DBD juga menyebar ke Kecamatan Tayan Hilir. Menurut Ketua Komisi D DPRD Sanggau, Robby Sugianto, hingga Oktober 2017 tercatat tujuh kasus DBD di Kecamatan Tayan Hulu yang umumnya menyerang balita dan anak-anak.  

“Di kecamatan Tayan Hulu di Oktober ini terjadi kenaikan kasus DBD, dimana penderitanya kebanyakan anak-anak, dari usia 4 bulan - 9 tahun. Kemarin saya ketemu dengan salah satu pasien yang dirawat di RSUD M Th Djaman. Memang betul akhir-akhir ini terjadi peningkatan meski tidak ada yang meninggal dunia,” jelasnya.
 

Politisi Partai Gerindra ini mengaku sudah bertanya kepada pihak kecamatan dan Puskesmas terkait langkah-langkah pencegahan yang dilakukan mereka.  

“Memang ada sosialisasi terkait 3M. Kemudian mereka juga melakukan abatesasi. Kita berharap Dinkes melakukan fogging,” tandas Robby.
 

Harusnya, Dinkes lebih proaktif dan bergerak cepat dalam menangani kasus DBD. Jangan sampai ketika sudah menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB), baru Dinkes sibuk.  

“Padahal ini kan sudah ada tanda-tandanya. Kita minta Dinkes konsisten untuk melakukan sosialisasi. Jangan hanya pada saat ada laporan, baru berbenah. Ini harus dilakukan secara berkelanjutan untuk pencegahan,” kata Robby.
 

Ternyata tidak hanya Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sanggau, Fransiskus Ason yang kesulitan untuk menghubungi Kepala Dinkes Kabupaten Sanggau. Awak media ini juga mengalami hal serupa, yang bersangkutan sulit dikonfirmasi. Pesan WA yang dikirim tak kunjung direspons. (jul/bah)