Pergelaran Budaya Nyeser di Desa Temiang Taba

Sanggau

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 152

Pergelaran Budaya Nyeser di Desa Temiang Taba
DISAMBUT MASYARAKAT - Bupati Sanggau, Paolus Hadi dan Ketua DPRD Sanggau, Jumadi disambut masyarakat adat Dusun Manuk dan Manuk Labong, Desa Temiang Taba, Kecamatan Balai, Sabtu (10/2). (Ist)

Paolus Hadi Minta Masyarakat Lestarikan Budaya


Bupati Sanggau, Paolus Hadi mengatakan, adat dan budaya Dayak merupakan aset masyarakat dan kebanggaan bagi masyarakat adat, khususnya masyarakat adat Dayak setempat. Untuk itu, perlu terus dilestarikan adat dan budaya warisan nenek moyang agar tidak hilang dari peradaban dunia.

SP - “Kepada masyarakat adat harus kompak. Tunjukkan jati diri, tingkatkan semangat gotong royong. Pelihara hutan adat, pelihara simbol-simbol adat, jaga tanah air yang kita miliki agar tidak menjadi penonton di tempat sendiri, terus gali potensi adat budaya lokal yang ada sehingga bertambah pula aset budaya yang kita miliki,” ujar PH, sapaan akrab Paolus Hadi saat menghadiri Pergelaran Seni dan Budaya Nyeser di Dusun Manuk dan Manuk Labong, Desa Temiang Taba, Kecamatan Balai, Sabtu (10/2).

Hadir dalam acara tersebut Ketua DPRD Sanggau, Jumadi, Wakil Ketua DPRD Sanggau, Usman, anggota DPRD Sanggau, Kimsuan, Kadis Pemberdayaan Masyarakat dan Pemdes Sanggau, Siron, Ketua TP PKK Kabupaten Sanggau, Arita Apolina, Camat Balai, Luvianus, para Kades se-Kecamata Balai, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh pemuda, tokoh agama, PKK desa, kelompok dasawisma.

Pada kesempatan itu, PH juga menyinggung pembangunan bidang pendidikan. PH meminta masyarakat, khususnya para orangtua agar mendukung anak-anaknya bersekolah.

“Begitu juga sebaliknya kepada anak-anak dianjurkan harus sekolah karena dengan sekolah anak-anak akan menjadi cerdas. Jika cerdas maka secara otomatis dapat menjadikan modal utama dalam menjalani kehidupannya nanti,” kata PH.

Ketua Panitia Pergelaran Seni dan Budaya Nyeser, Mateus Yus melaporkan, acara nyeser bagi masyarakat Dusun Manuk dan Manuk Labong ini selalu dilestarikan dan dilaksanakan masyarakat setiap tahun.

Nyeser, kata dia, artinya buru hantu (mengusir hantu) dan sangat dikagumi dan dikenal sebagai budaya lokal yang sangat unik. Dimana pada tahun 2009 budaya Nyeser pernah tampilkan di Pantai Kuta Bali, sehingga sempat mengharumkan Kalimantan Barat, pada umumnya, dan khususnya Kabupaten Sanggau.

Pergelaran Budaya Nyeser diakhiri dengan menghanyutkan lanting di sungai oleh masyarakat setempat. Ini sebagai simbol pengusiran terhadap segala hantu pengganggu di wilayah kampung mereka.

Sementara Ketua DPRD Sanggau, Jumadi mengatakan, kegiatan adat budaya sebagai jati diri masyarakat adat yang harus tetap dipertahankan dan dilestarikan. Karena, adat dan budaya merupakan cirri khas dalam satu bangsa. 

“Maka, kita harus berbangga hati terhadap adat dan budaya yang kita miliki. Dan saya sangat mengapresiasi setinggi-tingginya kegiatan adat dan budaya yang diselenggarakan ini. Sebab kegiatan ini merupakan upaya mempertahankan adat dan budaya,” ucap Jumadi.

Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sanggau ini juga berpesan kepada para gerenasi penerus agar dapat berkontribusi dan secara bersama-sama melestarikan adat dan budaya lokal ini.

“Para gerenasi penerus juga harus didorong tentang begitu pentingnya membudayakan budaya yang sesungguhnya merupakan jati diri kita. Jangan sampai adat dan budaya ini hilang oleh perkembangan zaman. Itu tidak boleh terjadi,” pungkas Jumadi. (julianus ratno/bah)