Keluarkan Rp300 Ribu untuk Listrik Empat Jam

Sanggau

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 160

Keluarkan Rp300 Ribu untuk Listrik Empat Jam
SAMPAIKAN KELUHAN – Sejumlah Warga Desa Jeranai, Kecamatan Kapuas, Kabupaten Sanggau saat menyampaikan keluhan terkait listrik negara yang belum masuk ke kawasan pemukimannya. Di desa itu. (SP/Ratno)

Nestapa Masyarakat Desa Jeranai Sanggau

Warga, Ida Irma 

"Listrik tempat kami ini ada yang pakai genset dan ada yang pakai mesin dongfeng. Kalau yang pakai dongfeng, setiap kepala keluarga harus bayar Rp300 ribu per bulan untuk beli solar."

SANGGAU, SP - Kedaulatan listrik belum sepenuhnya dirasakan masyarakat secara merata, salah satunya warga Desa Jeranai, Kecamatan Kapuas, Kabupaten Sanggau. Di desa itu ada sekitar 200 kepala keluarga, di antara mereka terpaksa mengeluarkan Rp300 ribu untuk menikmati penerangan non PLN selama empat jam.

“Listrik tempat kami ini ada yang pakai genset dan ada yang pakai mesin dongfeng. Kalau yang pakai dongfeng, setiap kepala keluarga harus bayar Rp300 ribu per bulan untuk beli solar,” kata Ida Irma (44) ditemui wartawan di desanya, baru-baru ini.

Genset dan mesin dompeng menjadi tumpuan mereka untuk bisa menerangi daerah mereka pada malam hari. Itupun, menurut Ida, hanya bisa dinikmati selama kurang lebih empat jam, dari pukul 18.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB. 

“Mau gimana lagi, karena memang listrik PLN di tempat kami tidak ada. Mau tidak mau kami harus bayar untuk bisa merasakan listrik walau hanya empat jam. Padahal kerjaan warga di sini rata-rata motong (menyadap karet), dengan pendapatan rata-rata Rp35 ribu sampai Rp50 ribu,” ucapnya.

Untuk itu, besar harapan Ida, listrik PLN bisa segera masuk di desa mereka. 

“Sudah lama kami menanti listrik PLN seperti desa lainnya. Kami berharap keinginan kami ini didengar untuk segera dipasang listrik PLN,” ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan warga Jeranai lainnya, Erni (39). Menurutnya, meski listrik non PLN ada, ibu-ibu rumah tangga di Desa Jeranai selama ini memasak dengan tungku kayu. 

“Sekali-kali pengen juga kami beli magic com (rice cooker), tapi listrik yang ada ini tak mampu,” ucapnya.

Erni membeberkan, jumlah kepala keluarga di Desa Jeranai 200 lebih, sementara dusun terdekat sudah bisa menikmati listrik PLN. 

“Dusun Standing sudah ada listrik, kok kami di sini belum ada. Padahal jaraknya antara Dusun Standing dengan Jeranai tidak terlalu jauh,” keluhnya.

Untuk diketahui, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PM-PTSP) Kabupaten Sanggau mencatat 273 dusun dari 865 dusun di Kabupaten Sanggau belum menikmati listrik. 

Sebelumnya, Kabid ESDM Dinas PM-PTSP Kabupaten Sanggau, Zaenal mengatakan, 273 dusun belum beristrik itu angka per 31 Desember 2017, baik listrik PLN maupun non PLN seperti PLTS dan PLTMH.

Sesuai komitmen dan program PT PLN Persero Wilayah Kalbar yang didukung sepenuhnya Pemkab Sanggau, diharapkan sampai tahun 2019 program melistriki seluruh desa dapat tercapai. 

“Pemkab Sanggau berkomitmen untuk terus mengomunikasikan persoalan kebutuhan listrik ini dengan PLN maupun pemerintah provinsi sesuai kewenangan yang dimiliki. Semua desa yang belum berlistrik sudah dilakukan survei,” kata Zaenal.

Jangan Bosan Berkoordinasi


Anggota DPRD Kabupaten Sanggau, Konggo Tjintalong Tjondro meminta pemerintah daerah melalui dinas terkait terus melakukan koordinasi dengan PT PLN Cabang Sanggau. 

Menurut dia, hal itu perlu dilakukan agar daerah yang belum teraliri listrik seperti Desa Jeranai ini segera merasakan suplai listrik PLN. 

“Dinas terkait jangan bosan berkoordinasi. Kalau pakai genset pribadi tentu memberatkan masyarakat di sana. Kan mayoritas mereka berpenghasilan dari menyadap karet,” kata Konggo.

Apalagi, lanjut legislator daerah pemilihan Kapuas ini, harga karet sekarang ini belum menggembirakan. 

“Sangat kasihan karena ingin merasakan listrik walau hanya empat jam, mereka terpaksa mengeluarkan rupiah yang lumayan besar setiap bulan,” pungkas Konggo. (jul/bah)