BPN Sanggau Diduga Terbitkan Sertifikat Palsu, Dedi Irwandi Alami Kerugian Rp150 Juta

Sanggau

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 76

BPN Sanggau Diduga Terbitkan Sertifikat Palsu, Dedi Irwandi Alami Kerugian Rp150 Juta
MENUNJUKKAN- Korban Dedi Irwandi saat menunjukan sertifikat diduga palsu yang dikeluarkan BPN Sanggau. Akibat kejadian ini, Dedi Irwandi mengalami kerugian sebesar Rp150 juta. (SP/Ratno)
SANGGAU, SP - Masalah di Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Sanggau seakan tak ada habisnya. Setelah Kepala BPN Kabupaten Sanggau VS, tertangkap dalam operasi tangkap tangan (OTT) terkait dugaan pungutan liar (pungli), kini persoalan lain muncul. BPN setempat di masa kepemimpinan Herman, diduga menerbitkan sertifikat palsu.

Korbannya adalah Dedi Irwandi. Akibat sertifikat yang dikeluarkan BPN itu, warga Sanggau ini harus menelan kerugian mencapai Rp150 juta. 

“Saya menjadi korban ketidakberesan oknum di BPN Sanggau,” katanya, Minggu (15/4).

Dedi menjelaskan, tahun 2016 ia membeli sebidang tanah bersertifikat lengkap dengan salah seorang warga Sanggau di Jalan Jendral Sudirman, Kelurahan Bunut. Sertifikat tersebut diterbitkan tahun 2013 oleh BPN dan dibeli Condro S yang dijual kepada Sudyanto.
 
“Saya membeli tanah yang berlokasi di Desa Sungai Mawang, Kelurahan Bunut, Kabupaten Sanggau seluas 194 meter persegi dari Sudyanto, dengan surat hak milik nomor 917. Setelah mau buat akta jual beli, notaris tidak berani karena tanah tersebut sudah ada yang memiliki,” terangnya.

Transaksi jual beli itu, lanjut Dedi tepatnya terjadi pada tanggal 15 Januari 2016, saat itu ada dua saksi yakni Gusti Jurir hamzah dan Agus Tumri. 

“Tanah itu saya beli Rp150 juta, bukti kuitansinya ada. Ditandatangani diatas materai 6000,” katanya.

Dedi mengatakan, awalnya ia tidak percaya kalau sertifikat yang dikeluarkan BPN itu palsu. 

“Saya tanya ke kawan di BPN pun katanya asli. Namun, ketika saya mau mendirikan bangun di tanah tersebut, ada orang Pontianak yang komplain. Waktu itu juru ukurnya pak Asri, Kepala BPNnya pak Herman, saya tidak tahu juga kalau ternyata tanah dari orang yang saya beli itu palsu,” kesalnya.

Dedi pun baru sadar sertifikat yang ia pegang itu ternyata paslu setelah mendapatkan keputusan pengadilan yang menyatakan bahwa pemilik aslinya adalah orang Pontianak, berdasarkan risalah lelang dari salah satu bank swasta.

Merasa menjadi korban ketidakberesan oknum di BPN Sanggau, ia akhirnya mengadu masalah tersebut ke BPN Sanggau pada 28 Maret 2018. 

“Sudah kita laporkan ke BPN, tapi belum ada jawaban. Saya hanya minta tanggungjawab BPN, karena saya dirugikan. Karena tanah yang saya beli lengkap dengan sertifikatnya itu ternyata palsu,”ujar Dedi.

Dikonfirmasi via WhatsApp, Kepala BPN Kabupaten Sanggau, Yuliana hanya meminta dan mempersilahkan untuk berkunjung ke kantornya.

“Silahkan besok (hari ini, red) ke kantor. Insya Allah jam 10 saya sudah di kantor. Terima kasih,” tulisnya.

Hingga berita ini ditulis belum ada keterangan dan penjelasan lebih lanjut dari pihak BPN Sanggau.(jul/jek)

Mesti Ditindak Tegas

Wakil Ketua LSM Citra Hanura Kabupaten Sanggau, Abdul Rahim, SH meminta BPN Sanggau tidak tinggal diam menyikapi persoalan tersebut. Ditegaskan dia, apa yang dihadapai salah satu korban dugaan pemalsuan sertifikat ini adalah persoalan serius. 

“Jika memang ada dugaan penyimpangan dalam penerbitan sertifikat itu, BPN harus tegas menindak anak buahnya yang diduga melakukan pelanggaran dengan menerbitkan sertifikat palsu,” katanya.

Rahim mengaku, sering mendengar kasus seperti ini. Namun baru kali ini ada yang berani angkat bicara dan apa yang dilakukan Dedi Irwandi adalah wajar, agar kedepan BPN mampu melakukan pembenahan secara menyeluruh.

Terutama, lanjut dia, dalam proses penerbitan sertifikat “Ini momentum yang tepat menurut saya, agar BPN mampu melakukan perbaikan kinerja. Ambil positifnya saja agar ke depan BPN semakin baik,” pungkas Rahim. (jul/jek)