Penderita Gangguan Jiwa di Sanggau Capai 243 Orang

Sanggau

Editor Indra W Dibaca : 124

Penderita Gangguan Jiwa di Sanggau Capai 243 Orang
Kepala Bidang P2PL Dinkes Sanggau, Sarimin Sitepu. (SP/Jul)
SANGGAU, SP - Angka Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Kabupaten Sanggau lumayan banyak. Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat mencatat, hingga tahun 2018 jumlahnya mencapai ratusan orang.

“Di Kabupaten Sanggau jumlah penderita ODGJ sesuai laporan Puskesmas pada Juni 2018 sebanyak 243 orang. Data ini termasuk kasus lama,” kata Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Kabupaten Sanggau, Sarimin Sitepu, kemarin.

Menurut dia, pihaknya sudah melakukan langkah untuk berbagai langkah melalui program CERIA (Conseling, Edukasi, Rehabilitasi, Informasi dan Adaptasi). Ia menyebut, konseling adalah bimbingan kepada pasien dan keluarganya.

Kemudian, lanjut Sarimin edukasi, yaitu memberikan pengetahuan bagaimana cara perawatan jiwa dan pengobatan. Selanjutnya rehabilitasi, yaitu dengan cara merujuk kasus-kasus ODGJ berat ke RSJ dan memberikan informasi tentang rujukan dan kesehatan jiwa. Terakhir adaptasi, yakni bisa diterima di lingkungannya setelah kembali ke keluarga.

Selain itu, Dinkes juga bekerjasama dengan lintas sektor seperti Dinas Sosial, BNNK Sanggau, pihak kecamatan, Polsek dan Danramil serta desa/dusun. Bentuk kerja sama itu, dijelaskan Sarimin dalam hal meningkatkan koordinasi.

“Karena masalah kesehatan jiwa ini sangat kompleks sehingga perlu melibatkan semua sektor. Misalnya dari Dinas Sosial membantu merujuk pasien dan menjemput pasien yang dinyatakan sudah sembuh. Dari pihak kecamatan sama-sama kita melihat ke lapangan kondisi pasien dan lain sebagainya,” tandasnya.

Terpisah, anggota Komisi D DPRD Kabupaten Sanggau, Yulianto meminta pemerintah daerah terus menekan ODGJ di Kabupaten Sanggau. Pemerintah, kata dia, harus bekerjasama dengan berbagai pihak termasuk para tokoh agama.

“Persoalan kesehatan jiwa ini banyak faktor, salah satunya yang paling menentukan adalah lemahnya iman. Oleh karena itu, peran tokoh agama ini sangat penting guna memberikan pemahaman agama kepada umat,” kata pecinta olah raga sepeda motor ini.

Di samping itu, legislator Partai Hanura ini, faktor ekonomi bisa menjadi pemicu orang dengan gangguan jiwa.

“Zaman sekarang ini, lapangan pekerjaan sangat terbatas, sementara pencari kerja terus meningkat setiap tahun, ini juga persoalan. Pemerintah harus membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat agar ODGJ ini bisa ditekan,” pungkas Yulianto. (jul)