Pemerintah Diminta Berikan Solusi Untuk Peladang

Sanggau

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 210

Pemerintah Diminta Berikan Solusi Untuk Peladang
Ilustrasi. (Net)
SANGGAU, SP - Ladang berpindah masih menjadi bagian penting masyarakat pedalaman Kabupaten Sanggau sebagai sumber penghidupan. Disisi lain, kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) menjadi fokus pemerintah untuk ditangani secara serius.

Tokoh Pemuda Pedalaman Kecamatan Tayan Hulu, Amin mengatakan, program pencegahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang dilakukan selama ini harus disertai solusi, terutama bagi masyarakat adat terdampak.

Menurutnya, kegiatan ladang berpindah yang dilakukan masyarakat adat sudah berlangsung ratusan tahun. Artinya, kebiasaan yang sudah mengakar itu tidak mudah untuk diubah begitu saja. “Masyarakat adat yang berladang berpindah-pindah itu sudah menjadi turun temurun. Tentunya dengan cara dibakar supaya padi yang ditanam tumbuh dengan baik,” kata kepada wartawan, Selasa (17/7).

Untuk itu, Amin CS, sapaan akrabnya menyarankan agar pemerintah baik pusat maupun daerah memikirkan jalan keluar terhadap aktivitas pertanian masyarakat yang dilakukan dengan cara dibakar. 

Misalnya, lanjut dia, pemerintah daerah mengalokasikan anggaran untuk merubah pola pertanian masyarakat. “Mulai dari pengenalan teknologi hingga menyediakan alat bagi masyarakat untuk membuka lahan tidak dengan cara dibakar. Seperti menyiapkan excavator, traktor dan lain sebagainya yang berkaitan dengan pembukaan lahan pertanian,” ujar Amin CS.

Namun, sambung dia, tentu pemerintah daerah lebih dulu melakukan pendataan di daerah mana saja masyarakat yang membuka lahan dengan cara dibakar atau perladangan berpindah. 

“Sekarang ini masyarakat sudah mulai menebas, menebang di lahannya yang nanti dijadikan ladang (lahan pertanian). Dan dalam hal ini masyarakat adat yang membakar lahan untuk ladang tidak bisa disalahkan. Karena ini merupakan salah satu kearifan lokal, sudah turun temurun dilakukan masyarakat adat,” jelas Amin.

Ketua DPRD Sanggau, Jumadi berharap pemerintah bisa memahami kearifan lokal masyarakat Kabupaten Sanggau.

“Bakar lahan untuk berladang itu sudah menjadi tradisi masyarakat pedalaman Sanggau sejak ratusan tahun. Dan lahan yang dibakar juga tidak besar,” katanya.

Menurut legislator PDI Perjuangan ini, masyarakat berladang selama ini tidak mengenal pupuk untuk menyuburkan tanah dan juga mereka belum mengenal teknologi pembersihan lahan dengan cara lain.

“Hasil pembakaran lahan itulah yang menjadi penyubur tanah. Dan ketika dibakar, lahan itu juga dibuat pembatas atau sekat-sekat supaya tidak merembet ke lahan lain. kemudian, saat membakar ladang juga tidak berlangsung lama, berbeda dengan kebakaran di lahan gambut,” kata Jumadi.

Untuk merubah pola pertanian masyarakat itu, ditegaskannya, pemerintah harus hadir memberikan solusi sehingga masyarakat tidak lagi membakar lahan untuk membuat ladang. “Untuk mencegah kebakaran lahan, pengawasan kepada perusahaan yang harus ditingkatkan,” pungkasnya. (jul/jek)