70 Persen Pidum Didominasi Kasus Narkotika

Sanggau

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 82

70 Persen Pidum Didominasi Kasus Narkotika
Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Sanggau, M Idris F Shite
SANGGAU, SP - Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Sanggau, M Idris F Shite menyampaikan keprihatinnya atas tingginya kasus narkotika di Kabupaten Sanggau. Terhitung empat bulan sejak dirinya menjabat, tercatat sekitar 70 persen kasus pidana umum adalah kasus narkotika.

“Sudah kurang lebih empat bulan saya menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Sanggau, dari perkara yang kita terima dari penyidik dalam konteks tindak pidana umum, sekitar 70 persen perkara narkotika. Jumlahnya fantastik sekali,” kata Idris, belum lama ini.

Pihaknya, kata Kajari, menerima pelimpahan tahap II dari Kejaksaan Agung didampingi oleh BNN dengan jumlah narkotika jenis sabu sebanyak tujuh kilogram. Selain itu, juga menerima pelimpahan tahap II dari Kejati dengan jumlah empat kilogram.

“Ada lagi pelimpahan dari Kejati yang ditangani BNN, dan locusnya tentu di Sanggau karena dilimpahkan di Kejari Sanggau dengan memanfaatkan PLBN Entikong,” terangnya.

Kajari pun berharap seluruh elemen masyarakat bergerak melawan penyalahgunaan narkotika. “Kita ini sudah betul-betul dalam kondisi darurat narkotika, tempat kita ini bukan lagi transit barang haram itu, tapi sekarang sudah menjadi pasar,” kata Idris.

Kajari menyebut, sisi lain dari megahnya PLBN ternyata memperlancar pelaku-pelaku kejahatan mendistribusikan narkotika. Sebagai wujud perang melawan narkotika, pihaknya akan mengoptimalkan dari sisi penegakkan hukum terhadap pelaku.

“Ancaman kita hukuman mati, sudah tidak ada tawar menawar lagi itu. Tapi kita kan tidak bisa juga hanya fokus di hilir, persoalan di hulunya juga harus kita selesaikan. Masyarakat punya peran disitu, bukan hanya dibebankan ke Polisi, BNN, jaksa dan hakim,” ujar Kajari.

Tidak hanya didominasi di perbatasan, peredaran narkoba juga terjadi di kota Sanggau.

“Kasus-kasus masyarakat Sanggau yang jadi pemakai juga banyak sekali. Ironisnya banyak juga dari kalangan yang kurang mampu, ini kan sudah ada pergeseran, dulukan yang konsumsi rata-rata orang kaya, sekarang sudah tidak lagi, bahkan semua kalangan, itu yang membuat saya sangat prihatin,” pungkas Idris. (jul/jek)