Polisi Gagalkan Pengiriman TKI Ilegal ke Malaysia, Masuk Melalui Jalur Resmi

Sanggau

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 112

Polisi Gagalkan Pengiriman TKI Ilegal ke Malaysia, Masuk Melalui Jalur Resmi
MENASEHATI - Kapolres Sanggau, AKBP Imam Riyadi saat menasehati para korban perekrutan calon TKI ilegal agar tidak mudah termakan iming-iming dari siapapun usai konferensi pers di Mapolres Sanggau, Selasa (31/7). (SP/Ratno)
Kapolres Sanggau, AKBP Imam Riyadi
"N alias B yang merupakan perekrut calon TKI itu sudah kita tetapkan sebagai tersangka. Mereka masuk melalui jalur resmi di PLBN Entikong."

SANGGAU, SP - Jajaran Polres Sanggau berhasil menggagalkan penyelundupan empat calon Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal asal Kalimantan Barat  ke negara Malaysia. 

Untuk kasus tersebut, polisi menetapkan seorang tersangka, yakni N alias B (42), warga Jalan Khatulistiwa, Gang Beringin RT/RW 02/11, Kelurahan Batu Layang, Kecamatan Pontiana Utara.

Kapolres Sanggau, AKBP Imam Riyadi mengatakan, perekrut dan para calon TKI itu diamankan anggota Subsektor Polsek Entikong yang bertugas di PLBN Entikong, Sabtu (28/7) sekitar pukul 05.00 wib. 

Keempat calon TKI ilegal yang menjadi korban N alias B itu berasal Kalbar. Masing-masing Haryono (40) asal Sambas, Didit (26) asal Kota Pontianak, Riski (19) asal Kota Pontianak dan Andi Liani (19) yang merupakan anak kandung Haryono. Mereka hendak bekerja ke Malaysia tanpa dokumen lengkap.

“N alias B yang merupakan perekrut calon TKI itu sudah kita tetapkan sebagai tersangka. Mereka masuk melalui jalur resmi di PLBN Entikong,” kata Kapolres didampingi Kasat Reskrim Polres Sanggau, AKP M Aminudin saat menggelar konferensi pers di Mapolres Sanggau, Selasa (31/7).

Imam menjelaskan, berdasarkan hasil pemeriksaan sementara terhadap tersangka maupun para korban, para calon TKI ilegal itu dijanjikan tersangka bekerja di kilang (pabrik) kelapa sawit dengan gaji RM 35 perhari atau sekitar Rp124 ribu. 

Kapolres menegaskan, tersangka dijerat pasal 4 sub pasal 10 UU Nomor 21 tentang Pidana Perlindungan Orang dan pasal 102 huruf a UU Nomor 39 tahun 2004 tentang Tindak Pidana Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri.

“Tersangka ini selain sebagai perekrut, dia juga yang mengantarkan. Setiap satu orang yang berhasil diantarkan ke luar negeri (Malaysia), tersangka dijanjikan memperoleh Rp10 juta per kepala oleh pelaku lain di Malaysia,” terang Imam.

Dari empat calon TKI itu, hanya satu yang berpendidikan SMA yakni Haryono, sementara tiga lainnya hanya tamat SD. Terjadinya kasus tersebut, menurut Kapolres, karena masih ada masyarakat yang bisa diimingi-imingi gaji besar. Untuk itu, ia pun mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya dengan bujuk rayu dan iming-iming dari siapapun yang menjanjikan bisa mencari pekerjaan dengan gaji besar di Malaysia.

"Jika mau bekerja di luar negeri, agar melalui jalur resmi, yakni PJTKI.  Jangan sampai menjadi korban para pelaku. Selain itu, kalau menjadi TKI ilegal, nanti orang-orang kita di sana dikejar-kejar oleh petugas, bahkan bisa dipenjara di sana,” kata Imam.

Usai konferensi pers, mantan Kapolres Kapuas Hulu ini memerintahkan anggotanya untuk mengantarkan para korban kembali ke kampung halamannya masing-masing menggunakan taksi.

Diberangkatkan Gratis 

Salah satu korban perekrutan calon TKI asal Kabupaten Sambas, Haryono (40) mengaku, tidak dipungut biaya sama sekali saat hendak diberangkatkan ke Malaysia, alias gratis. Namun, ketika sudah bekerja di tempat tujuan, gajinya akan dipotong selama tiga bulan.

“Tidak ada biaya sama sekali. Saya dijanjikan dipekerjakan di kilang minyak sawit di Malaysia dengan gaji RM 35 perhari.  Tapi kalau sudah bekerja di sana, gaji dipotong selama tiga bulan, besarannya RM 300 sampai RM 400, sampai potongannya RM 1.300,” katanya.

Haryono yang kesehariannya bekerja serabutan ini juga mengaku, kenal dengan tersangka dari tetangganya di Pontianak. “Kalau dengan yang lain (calon TKI ilegal), kami tidak saling kenal,” ucapnya.

Kepada masyarakat, Haryono berpesan agar tidak menjadi korban perekrutan calon TKI ilegal seperti dirinya. “Pesan saya, jangan mudah diimingi-imingi pekerjaan dan gaji besar dari orang-orang yang tidak jelas,” tutupnya. (jul/jek)