Polisi Tangkap TKI Ilegal di Jalur Tikus, Lima Orang Dikembalikan ke Daerah Asal

Sanggau

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 53

Polisi Tangkap TKI Ilegal di Jalur Tikus, Lima Orang Dikembalikan ke Daerah Asal
MENASEHATI - Kapolres Sanggau, AKBP Imam Riyadi menasehati para calon TKI asal Sukabumi agar tidak mudah termakan iming-iming gaji besar saat bekerja di luar, apalagi jika tanpa melalui jalur resmi. (SP/Ratno)
Kapolres Sanggau, AKBP Imam Riyadi
"Hari ini (kemarin, red) kita pulangkan ke daerah asal, kami bekerjasama dengan BNPTKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia)."

SANGGAU, SP - Upaya penyelundupan calon Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal ke Malaysia melalui Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalbar masih saja terjadi. Kebanyakan melalui jalur tikus, seperti yang terjadi pada Jumat (27/7) lalu. Lima orang calon TKI asal Sukabumi, Jawa Barat yang hendak dipekerjakan ke negeri Jiran berhasil ditangkap oleh jajaran Polsek Entikong.

Kapolres Sanggau, AKBP Imam Riyadi didampingi Kapolsek Entikong, Kompol Amin Siddiq dan Kasat Reskrim Polres Sanggau, AKP M Aminuddin saat menggelar konferensi pers di Mapolres Sanggau mengatakan, lima orang TKI ilegal asal Sukabumi yang diamankan pihaknya, diantaranya Gunawan (25), Saepuloh (49), Amsir (53), M Saleh (52) dan Denni Suhendar (37), kelimanya diamankan pada Jumat (27/7)sekitar pukul 13.30 wib. 

"Untuk kasus ini, satu orang ditetapkan sebagai tersangka yakni berinisial AV (36), warga Dusun Entikong Beduan, Kabupaten Sanggau,” kata Kapolres Sanggau , AKBP Imam Riyadi, Rabu (1/7).

Kapolres menjelaskan, tersangka yang bertugas sebagai kurir para calon TKI ini, sudah mendapat imbalan RM 100.

"RM 100 yang sudah diterima tersangka ini apakah hanya DP atau seperti apa, masih kita kembangkan,” kata Imam.

Menurut Kapolres, para calon TKI ini tidak ditampung di penampung terlebih dahulu di wilayah Kalbar, tetapi dari Jawa langsung dikirim ke perbatasan melalui jalur tikus yang berada di sebelah kanan PLBN Entikong.

“Barang bukti yang kita amankan yakni Hp milik tesangka yang digunakan untuk berkomunikasi dan paspor tidak didapatkan terhadap para calon TKI ini. Kami yakin tidak hanya AV, masih dalam proses pengembangan. Termasuk kemungkinan keterlibatan pelaku lain di wilayah Jawa,” ujar Imam.

Imam menambahkan, untuk kelima korban itu, dijanjikan akan dipekerjakan di perkebunan kelapa sawit dengan gaji RM 2.000 perbulan.

"Hari ini (kemarin, red) kita pulangkan ke daerah asal, kami bekerjasama dengan BNPTKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia)," katanya.

Imam menuturkan, terungkapnya kasus tesebut, berawal dari informasi yang diperoleh anggota Polsek Entikong yang berada di wilayah seputaran border, termasuk di wilayah jalan tikus. 

“Anggota mendapat informasi bahwa akan ada beberapa WNI kita yang akan dikirim untuk dipekerjakan ke negara tetangga. Atas informasi itu anggota melakukan patroli dan upaya penyelundupan TKI ilegal itu berhasil digagalkan,” kata Kapolres.

Menurut pengakuan salah seorang calon TKI, Gunawan,  mereka diajak untuk bekerja ke Malaysia tanpa dipungut biaya.

“Tidak ada keluarkan biaya, kami hanya dijanjikan gaji besar perbulan,” ungkap Gunawan.

Perlu Keterlibatan Tokoh Agama

Tokoh Masyarakat Sanggau, Abdul Rahim mengatakan, persoalan TKI ilegal seakan tidak ada habisnya. Untuk itu, ia berharap keterlibatan tokoh agama dalam membantu mengatasi persoalan tersebut.

“Misalnya tokoh agama memanfaatkan waktu dua atau tiga menit untk menyampaikan pesan kepada umat agar jika ingin bekerja ke luar negeri harus melalui jalur resmi. Jangan melalui jalur tidak resmi karena akan beresiko seperti ditahan pihak keamanan di negera lain, gaji tidak dibayar, dipekerjakan tidak sesuai dan sebagainya,” ujarnya.

Selain itu, menurut Rahim, peran keluarga juga diperlukan. Para orang tua harus ikut menjaga anak-anak mereka dan tidak terbuai dengan iming-iming dari oknum-oknum yang merekrut tenaga kerja.

“Upaya lain dan utama, tentu pemerintah terus melakukan sosialisasi langsung ke daerah-daerah yang selama ini menjadi kantong TKI, atau daerah berpotensi dimasuki para oknum perekrut TKI dengan cara tidak benar,” tutupnya. (jul/jek)