Kamis, 19 September 2019


Bupati Beri ‘Lampu Hijau’ Vaksinasi Massal

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 57
Bupati Beri ‘Lampu Hijau’ Vaksinasi Massal

VAKSINASI – Petugas melakukan vaksinasi kepada hewan penular penyakit rabies. Bupati Sanggau Paolus Hadi memberikan lampu hijau terkait rencana vaksinasi massal hewan penular penyakit rabies di Kabupaten Sanggau.

SANGGAU, SP - Bupati Sanggau Paolus Hadi (PH) memberikan lampu hijau terkait rencana vaksinasi massal hewan penular penyakit rabies di Kabupaten Sanggau. Rencana tersebut sebelumnya diusulkan Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) setempat sebagai upaya pengendalian dan pemberantasan penyakit rabies.

“Potensi hewan penular rabies di Kabupaten Sanggau sekitar 35 ribu. Dan harus kita kontrol. Saya sudah sepakat dengan Kadisbunnak, nanti kita akan kerja gotong-royong, kita membuat suatu gerakan yang nantinya akan kita diskusikan secara detail. Karena kalau tidak, tetap penyakit itu tak bisa kita hindari,” ujarnya saat peresmian RSUD Temenggung Gergaji di Balai Karangan, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, kemarin.

Bupati dua periode ini menyebut, hingga saat ini sudah lima orang meninggal dunia karena gigitan anjing rabies. Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat agar mau hewan atau anjing peliharaanya disuntik vaksin. 

“Nanti dari provinsi akan ada gerekan di seluruh perbatasan. Saya mohon kepada tokoh masyarakat, bantu kita. Karena saya sering dengar dari petugas kita kalau datang, mereka mengeluh anjingnya hanya lima, enam ekor saja. Tetapi yang lain, mereka cuek saja,” kata PH.

Bupati melanjutkan, kesadaran masyarakat perlu ditingkatkan mengenai perlunya vaksinasi untuk mencegah penyebaran virus rabies. Artinya masyarakat perlu diberikan pengetahuan dan pemahaman mengenai vaksinasi melalui sosialisasi. 

“Karena macam-macam pendapat masyarakat. Kalau anjing disuntik mati katanya, lalu loyo lemah dan mati. Itu harus kita jelaskan mengapa begitu, tapi ada yang tidak,” ucapnya.

Hewan penular rabies, sambung PH, begitu disuntik maka akan mati. Begitu juga dengan manusia, jika terkena gigitannya dan tidak langsung ditanggani dalam waktu 1x24 jam maka berakibat fatal, bisa menyebabkan kematian.

“Jadi mohonlah kita bersama untuk ini. Dan tentunya nanti kita akan buat gerakan untuk itu, saya mau menargetkan lima tahun masa pemerintahan ini, Sanggau harus bebas rabies. Karena yang di zona merah menurut data di Kalbar seluruh kabupaten/kota, kecuali Kota Pontianak,” ungkap bupati.

Sebelumnya, Plt Kabid Peternakan Dinas Perkebunan dan Penernakan Kabupaten Sanggau, Emiliana menyebut, selama ini vaksinasi terhadap hewan penular rabies belum maksimal. Tahun ini saja, dari 32 ribu hewan penular rabies, hanya 10 persen yang sudah divaksin.

“Kita, untuk penanganan rabies memang selama ini mengandalkan vaksinasi untuk anjingnya. Data kita, hewan penularan rabies di Kabupaten Sanggau 32 ribu ekor. Tapi karena anggaran terbatas, baru sekitar 10 persen yang kita vaksin,” ungkapnya.

Menurut Emiliana, penanganan rabies itu idealnya dilakukan secara massal. Artinya, seluruh hewan penular rabies itu perlu dilakukan vaksin. 

“Jadi sebaiknya memang divaksinasi massal, 32 ribu itu harus divaksin. Tidak bisa yang sifatnya spot-spot, tidak bisa bertahap, misalnya tahun ini 10 persen, tahun depan 10 persen, tidak bisa, jadi harus serentak. Jadi kalau tahun ini disuntik 32 ribu, tahun depan harus juga disuntik 32 ribu, setelah ternyata tidak ada lagi, berartinya kita sudah nyatakan bebas rabies,” ujar Emiliana.

Supaya 32 ribu hewan penular rabies tersebut bisa divaksin, Disbunnak berencana mengusulkan anggaran Rp2 miliar lebih dalam APBD 2020. 

“Kita akan ekspos ke Pak Bupati untuk 2020. Kemarin kita hitung-hitung, sekitar Rp2 miliar lebih. Karena di samping untuk membeli vaksin, juga untuk tenaga operasional penyuntikan, untuk sosialisasi juga, untuk melatih petugas. Karena kalau kita lakukan massal perlu juga tenaga vaksin yang agak banyak,” beber Emiliana.

Selain terkendala anggaran, lanjut dia, kesadaran masyarakat akan rabies masih kurang. 

“Kalau kita datang vaksin, kadang anjingnya dibawa ke hutan, kita harus door to door ke rumah. Kadang anjingnya tidak bisa ditangkap. Sehingga perlu sosialisasi,” ucap Emiliana.

Kemudian, sambung dia, ada juga anjing liar yang susah untuk dilakukan menyuntikan. 

“Kalau kita sudah sosialisasikan dengan tokoh adat, tokoh masyarakat, apakah terhadap anjing liar ini harus diemelinasi atau bagaimana, itu harus ada kesepakatan. Target kita 2025 Sanggau bebas rabies. Sampai tahun 2023 kita vaksinasi terus menerus,” kata Emiliana.

Terkait jumlah kasus gigitan tahun ini, ia tidak begitu ingat. Namun kasus terbanyak ada di Kecamatan Sekayam, Parindu dan Tayan Hulu. 

“Kalau anjing tersebut sudah mengigit seseorang, dalam waktu 24 jam harus sudah divaksinasi untuk manusia. Kalau telat, menyerang otak dan bisa menyebabkan kematian. Virusnya itu juga bisa bertahan di tubuh manusia selama 2 tahun. Dari tahun 2016 sampai 2019 sudah 28 yang meninggal. Untuk tahun ini lima orang,” pungkas Emiliana. (jul)

Tercatat 915 Kasus Gigitan 

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sanggau dr Jones Siagian menyebut, hingga September 2019, sebanyak 915 kasus gigitan anjing rabies yang terjadi di Kabupaten Sanggau. Dari jumlah itu, lima orang diantaranya meninggal dunia.

“Hingga saat ini di tahun 2019, sudah ada lima orang meninggal dunia karena rabies,” ungkapnya, Sabtu (7/9).

Jones menegaskan, jika terkena gigitan anjing rabies harus segera ditanggani. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah dengan cara cuci luka pakai air mengalir dan pakai sabun selama 5-10 menit. Setelah itu, segera bawa ke Puskesmas terdekat untuk diberikan vaksin anti rabies. 

“Jika lambat ditanggani, fatalitas akibat gigitan anjing rabies bisa menyebabkan kematian,” tutupnya. (jul)