Senin, 17 Februari 2020


Sosok Perempuan yang Peduli Pelestarian Kalengkang

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 70
Sosok Perempuan yang Peduli Pelestarian Kalengkang

MOTIVASI - Ketua Dekranasda Kabupaten Sanggau, Arita Apolina Paolus Hadi memotivasi para pelajar yang mengikuti Pelatihan Sulaman Kalengkang di Sekretariat Dekranasda Sanggau. Ist

Kabupaten Sanggau memiliki kain khas yang dikenal dengan nama Kalengkang. Kini, salah satu aset budaya Bumi Daranante, julukan Kabupaten Sanggau itu terus dilestarikan. Berbagai upaya dilakukan Pemerintah Kabupaten bersama Dekranasda, agar kain peninggalan kerajaan Sanggau ini tidak hilang oleh perkembangan zaman. 

ARITA Apolina Paolus Hadi, adalah sosok perempuan yang peduli dengan pelestarian sulaman Kalengkang. Melalui Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Sanggau yang dipimpinnya, istri Bupati Sanggau Paolus Hadi ini terus berbuat, bukan hanya agar budaya ini tak hilang ataupun diklaim oleh negara lain, tetapi juga agar semakin dikenal dan berkembang.

Sebagai perempuan yang lahir dan dibesarkan di Kabupaten Sanggau, Arita sangat tertarik memperlajari dan melestarikan Kalengkang. Semua itu bermula pada saat ia menjabat sebagai Wakil Ketua Dekranasda Kabupaten Sanggau.

“Tahun 2009, waktu itu bapak (Paolus Hadi, red) masih Wakil Bupati. Waktu itu saya sangat tertarik dengan Kalengkang ini, karena melihat semakin hari semakin tidak ada yang mengerjakan dan menggunakan. Bagi saya, nilai sejarah yang terkandung dalam Kalengkang ini sangat penting, dulu Kalengkang ini digunakan terutama oleh pejabat Keraton Sanggau,” kata Arita.

Sejak itu, ia terus memikirkan bagaimana Kalengkang dapat terus dilestarikan dan dikembangkan. Apalagi, pelestarian Kalengkang dihadapkan pada mahalnya harga bahan baku, belum lagi soal peralatan dan SDM. Untuk benangnya saja pada tahun 2009 harganya mencapai Rp350 ribu per gulung. 

“Untuk benangnya saja kalau sekarang sudah Rp1,8 juta per gulung. Jadi cukup mahal biaya produksinya. Tapi saya tidak akan patah arang, berapapun mahalnya biaya yang dikeluarkan, saya akan terus berjuang. Apalagi ada nilai sejarah yang terkandung dalam Kalengkang, saya harus terus berbuat yang terbaik, sebagai bentuk apresiasi terhadap nilai-nilai yang sudah diturunkan leluhur kita,” ucap Arita.

Atas komitmennya yang tinggi terhadap pelestarian nilai-nilai sejarah dan budaya, termasuk, sulaman Kalengkang ini, pada tahun 2017, istri Bupati Sanggau dua periode ini pernah mendapatkan penghargaan Upakarti dari Pemerintah Republik Indonesia.

Saat ini, sudah ada sekitar 100 perajin mengikuti pelatihan pembuatan Kalengkang. Hanya saja, perajin yang mahir, ulet dan tekun melestarikan Kalengkang ini tidak lebih dari 10 orang. “Inilah salah satu hambatan dan juga tantangan bagi kita untuk melestarikan Kalengkang. Tetapi kita tetap terus dorong pelestariannya, kita juga ajak kaum milenial, generasi muda kita melalui pelatihan di sekolah dan melibatkan dinas/instansi terkait,” tutur Arita.

Gayung bersambut, upaya pelestarian Kalengkang juga dilakukan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro (Disperindagkop dan UM) Kabupaten Sanggau. Yakni dengan rutin melaksanakan pelatihan-pelatihan kepada perajin. “Kalengkang ini warisan leluhur kita. Meskipun di setiap kabupaten ada, akan tetapi yang aslinya tetap dari Sanggau, karena milik kerajaan Sanggau. Makanya kita tetap minta izin kepada pihak kerajaan, khususnya untuk beberapa motif yang kita jadikan ornamen seperti dasi, kopiah dan syal,” kata Kepala Disperindagkop dan UM Kabupaten Sanggau, Sy Ibnu Marwan Alqadrie.

Selain mendorong produksi, Disperindagkop dan UM juga memfasilitasi pemasaran Kalengkang dengan menyediakan kios atau gerai di Pasar Jarai. “Di sana (Pasar Jarai, red), tidak hanya Kalengkang yang dijual, tapi juga berbagai produk kerajinan tangan lainnya. Jadi kalau ada tamu-tamu yang datang kita arahkan ke sana,” kata Marwan.

Selain itu, Kalengkang dan produk kerajinan lainnya juga akan dipasarkan di perbatasan Indonesia-Malaysia, tepatnya di Entikong. Saat ini, proses pengajuan permohonan gerai di Entikong melalui Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) sudah dilakukan. “Kami minta di sana (Entikong, red), karena beranda depan negara kita kan ada di Entikong. Produk-produk kerajinan akan dipasarkan di sana,” harap Marwan.

Pelestarian Kalengkang juga mendapat dukungan dari penggiat seni dan budaya Kabupaten Sanggau, Sunaryo Adema. Bahkan, pria ini telah memperkenalkan sulaman Kalengkang kepada generasi muda dengan memasukannya ke dalam pelajaran prakarya.

“Di SMPN 2 Sanggau sudah masuk tahun keempat materi tentang Kalengkang ini diajarkan di sekolah. Untuk kelas VIII seputar materi dan untuk kelas IX sudah mulai praktik. Pertama anak harus tahu apa itu Kalengkang (dari materi pelajaran). Kemudian melestarikan. Karena ini kalau tidak dilestarikan akan habis. Kalau ada produknya bisa dipasarkan melalui Dekranasda,” tutupnya. (julianus ratno/yun)