Senin, 17 Februari 2020


FAO Gandeng Petani di Perbatasan Kalbar

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 55
FAO Gandeng Petani di Perbatasan Kalbar

PANEN RAYA - Panen raya di Desa Tunggal Bhalti, Kabupaten Sanggau, Kamis (12/2) dihadiri Deputi Kepala Perwakilan FAO Indonesia Bidang Program, Ageng Herianto dan Bupati Sanggau, Paulos Hadi.

SANGGAU, SP - Badan Pangan dan Pertanian PBB (FAO) dan Kementerian Pertanian RI menggandeng sejumlah petani di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia di Kabupaten Sanggau, untuk mengelola lahan pertanian menggunakan bahan organic, sehingga menghasilkan beras sehat dengan harga tinggi.

"Sudah dilakukan panen perdana di tiga kecamatan perbatasan yakni Entikong, Sekayam dan Kembayan dengan total luas 77 hektar, dan produksinya sekitar 255 ton," kata Deputi Kepala Perwakilan FAO Indonesia Bidang Program, Ageng Herianto saat panen raya di Desa Tunggal Bhalti, Kabupaten Sanggau, Kamis (12/2).

 Ia melanjutkan, program pertanian organik telah dicanangkan sejak tahun 2016. Panen raya ini adalah produksi beras sehat pertama dengan tidak menggunakan bahan kimia. "Panen pertama ini juga diharapkan menjadi pemicu awal penyebaran informasi beras sehat kepada kelompok petani lain, untuk menerapkan praktik pertanian organik di wilayah Kalbar khususnya, dan juga di wilayah lain di Indonesia," katanya.

Di Kalbar, FAO Indonesia menggandeng Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Pemprov Kalbar dan Pemkab Sanggau.

Ageng juga menjelaskan, bersama Kementrian Pertanian, FAO meningkatkan kapasitas petani dan penyuluh di Kabupaten Sanggau tentang prinsip dan praktik pertanian organik melalui pelatihan dengan Sekolah Lapang, termasuk proses persiapan untuk memperoleh sertifikasi organik di musim mendatang.

"Disamping itu kami juga menyiapkan fasilitas penggilingan padi yang memenuhi standar pengolahan beras organic, termasuk pengemasan dan pelabelan produk untuk menjangkau pasar yang lebih luas," ujar dia.

Sebelum program ini dilaksanakan, sebagian besar petani dan kelompok tani serta agen penyuluh belum memiliki kapasitas teknis yang memadai untuk menghasilkan produk pertanian organic. Apalagi hanya terdapat satu lembaga sertifikasi organik di Kalbar.

“Program padi atau beras sehat ini sejalan dengan program pemerintah menuju peningkatan ekspor beras khusus, yang menjadi salah satu program strategis Kementan saat ini," katanya.

Sementara itu, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Gatut Sumbogodjati menambahkan, berbarengan dengan panen pertama ini akan diluncurkan beras sehat Sanggau dengan label "Serumpun Borneo".

"Nama tersebut lahir dari kesepakatan para penerima manfaat untuk menggambarkan keanekaragaman budaya pertanian di tanah Borneo, namun hidup di tanah yang sama. Disamping itu, untuk segmentasi pasar lainnya, Pemerintah Kabupaten Sanggau meluncurkan produk beras sehat pangan humanis," katanya.

Menurutnya, panen raya itu akan menjadi pondasi penguatan kapasitas petani dan kelompoknya serta penyuluh untuk mengembangkan dan meningkatkan produk beras organik pada lahan percontohan yang mereka kelola, sehingga mendapat sertifikat beras organik pada musim tanam berikutnya.

"Peluncuran beras sehat ini juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran konsumen tentang perbedaan antara beras sehat dan beras non-organik yang umum dikonsumsi," katanya. (jee/yun)

Tingkatkan Sinergisitas

Di lokasi panen raya, Bupati Sanggau, Paulos Hadi mengatakan, Pemkab Sanggau akan bersinergi dengan FAO untuk menyukseskan program beras sehat di Sanggau.

“Tentu ini akan kita dorong terus, dan ke depan, kita ingin beras yang dihasilkan bersertifikat juga,” ungkap Paulos.

Paulos berharap, petani juga dapat bersinergi untuk menjalankan program yang akan dilakukan dua tahun di Sanggau.

“Petani disini saya harap konsisten menjadi petani organic, meski tentunya ada tantangan, seperti penggunaan bahan-bahan organik,” harapnya.

Persoalan mengenai irigasi untuk lahan persawahan petani juga menjadi perhatian untuk dicarikan jalan keluarnya. Selama ini, petani masih mengandalkan pola tadah hujan untuk keberlangsungan lahan pertanian mereka.

“Masalahnya ketika musim kemarau, pasti ada jeda tanam di lahan pertanian. Ini juga tentunya menjadi perhatian kita untuk dicarikan jalan keluarnya,” pungkas Paulos. (jee/yun)