Bangun, Protes, Tidur

Sastra

Editor Andrie P Putra Dibaca : 394

Bangun, Protes, Tidur
ilustrasi.
IA berada di atas mimbar, tepatnya podium stadion kampus yang telah lama terbengkalai. Di tampuk kekuasaan ia dapat melakukan apa yang ia mau. Hari itu tiba saatnya, ia berdiri di hadapan ribuan orang di bawah hujan lebat. Ia memegang sebuah teks pidato dan membacakannya, setelah itu ia mulai menyampaikan gagasan-gagasan yang telah lama diimpikan.

“Selamat datang kepada seluruh mahasiswa baru yang hari ini resmi menjadi bagian dari keluarga besar civitas akademika Universitas Daya Nasional. Ini adalah universitas negeri pertama dan terbesar di Kalimantan Barat,” kata orang tua itu mengucap salam, lalu setengah jam ia berpidato.

“Kalian harusnya bangga menjadi bagian dari universitas terbesar ini, karena kampus ini memiliki segudang prestasi dan mencetak manusia-manusia hebat di Kalbar. Dan kalian adalah generasi berikutnya yang akan membawa perubahan bagi Kalbar,” pidatonya disambut tepuk tangan meriah yang nyaris tak terdengar karena hujan yang lebat. “Generasi ini menjadi saksi sebuah awal yang baru. Kampus kita tahun ini akan membangun beberapa buah gedung yang akan menunjang pembelajaran di kampus. Oleh karena itu, besar harapan saya agar kalian semua dapat membantu proses pembangunan ini agar dapat berjalan dengan lancar. Kita akan menjadi kampus yang modern yang pernah ada di Kalbar. Bersiaplah para mahasiswaku untuk menyambut kampus modern ini,” katanya berpanjang lebar berpidato.

Pidatonya jadi salam selamat datang bagi ribuan mahasiswa baru. Pidatonya juga membuat banyak mahasiswa baru bergetar hebat bahkan sampai jatuh pingsan karena harus berlama-lama di bawah guyuran hujan. Meski sebagian mahasiswa sudah mengenakan jas hujan tapi ternyata jas hujan tidak sebaik atap stadion. Banyak mahasiswa yang belum punya pengalaman berdiri berjam-jam di bawah hujan, jatuh pingsan. Belum satu hari di kampus, para mahasiswa itu sudah roboh diterpa hujan.

***

Beberapa bulan setelah itu, orang tua itu bersama tamu kehormatan dari ibu kota berbincang pada sebuah peresmian yang sudah terencana. Sebuah gedung bertaraf nasional bahkan internasional akan berdiri di atas tanah gambut. Bukan main megahnya perencanaan tersebut, tentu megah juga uang yang harus dikeluarkan, yang terpampang pada papan pengumuman. Untuk membangun gagasan-gagasan tersebut, dalam 48 jam orang tua itu rela membabat habis semua jenis pohon yang ditanam para pendahulunya. Bahkan tidak bersisa. Pohon-pohon itu tumbang, daunnya dibakar, batangnya di potong-potong dan dibagi kepada para kolega dan keluarga besarnya. Tak hanya itu, ia mengumpulkan tenaga-tenaga ahli. Tenaga-tenaga dikumpulkan untuk menyukseskan dan mempercepat pembangunan. Atas nama pembangunan, tanah luas di muka rektorat yang biasa digunakan mahasiswa berkumpul saat penerimaan mahasiswa baru, akan disulap menjadi sebuah bangunan yang membawa universitas pada langkah modern. Malah lebih modern daripada bangunan di belakangnya. Lingkungan kampus menjadi gersang selama proses pembangunan di mulai.

Tidak hanya itu, 10 truk berlalu lalang tiap hari mengangkut tanah kuning, lumpur atau barang-barang rongsokan yang tidak berguna keluar kampus. Hal itu buat jalan kampus seperti jalan ke desa-desa, penuh tanah kuning. Banyak kendaraan mahasiswa seperti keluar dari kubangan dan menguntungkan bisnis cuci motor. Tidak hanya itu, jalanan juga macet karena akses jalan ke fakultas ditutup, sehingga buat mahasiswa terlambat.

***

Dan mahasiswa abadi itu kemudian muncul. Seorang mahasiswa yang belum lulus-lulus. Yang hanya sebatang kara ditinggal wisuda kekasih, dan sahabat karib. Ia kemudian menyampaikan ide revolusioner kepada mahasiswa-mahasiswa yang jauh di bawah angkatannya. Gagasan kritis tentang situasi kampus, tentang pembangunan yang diperuntukkan untuk apa dan untuk siapa. Konon mahasiswa itu adalah orator ulung di masa lalu. Di masa-masa mahasiswa lebih sering kuliah di jalan dari pada di ruang kelas. Lebih suka nongkrong di sudut-sudut warung kopi dari pada Taman Digulist. Dan lebih sering mengutip puisi Wiji Thukul dari pada puisi Sapardi Joko Darmono.

Mula-mula apa yang disampaikannya didengar dengan khidmat oleh para adik tingkat, dikagumi karena bahasa intelektual yang sering dipakai, dan berhasil mengumpulkan dua puluh tiga mahasiswa.

“Kawan-kawan, kita adalah kaum intelektual yang harus bertindak karena situasi di kampus yang sudah berubah. Kita bukan anti pembangunan, namun pembangunan ini tanpa arah dan mengorbankan banyak hal, lihatlah kampus kita kehilangan identitas karena DPR (Di bawah Pohon Rindang) yang sudah tiada, jalanan yang becek yang membuat kita harus mengeluarkan uang untuk cuci motor, dan juga macet terjadi di kampus kita, bagaimana mau belajar pada kondisi seperti ini? Belum lagi raungan buldoser dan mobil truk yang lalu lalang. Ini sudah tidak bisa ditolerir, kita harus merencanakan sebuah aksi untuk menghentikan semua ini. Paling tidak satu hari,” katanya dengan nada penuh gairah di hadapan para mahasiswa.

Para mahasiswa yang mendengarnya kebanyakan memiliki penampilan rapi, celana kain, dan kameja kotak-kotak. Selebihnya mahasiswa berpakaian anak gaul yang lebih cocok datang ke mal. Dari dua puluh tiga mahasiswa, lima di antaranya sibuk menatap ponsel pintar sejak mahasiswa abadi itu mulai bicara. Mereka seperti sedang mengikuti sebuah perang. Diam-diam mengatur strategi, atas bawah tengah, serang mundur hancurkan menang. Para mahasiswa yang lain hanya sesekali menatap layar datar untuk mengusir jenuh. Para mahasiswa itu mengangguk saja, diskusi sore hanya satu arah. Dari senior ke junior, dan diskusi paling singkat di kampus. Seperti dosen menyampaikan materi kuliah, tak ada berani yang bicara.

Diskusi itu kemudian memunculkan sebuah rencana ketika keesokan harinya dua puluh tiga mahasiswa yang berjanji masing-masing akan membawa dua orang kawan, mengajukan protes kepada pemimpin tertinggi di universitas. Artinya terdapat 69 mahasiswa yang akan turun aksi. Aksi yang direncanakan dipimpin langsung oleh sang mahasiswa abadi. Mereka sepakat akan berkumpul di tempat yang sama dan sudah menyiapkan pilihan. Jika protes tidak didengar, mereka akan memboikot pembangunan.  

***

Pagi-pagi sekali mahasiswa abadi itu sudah datang ke kampus. Bahkan saking tidak sabarnya, dia memilih tidak tidur agar tak melewatkan sedikit pun detik-detik aksi kali ini. Setelah lima tahun tidak melakukan protes, kali ini dia begitu bergairah seperti menemukan cinta. Sebagaimana dijanjikan, mahasiswa abadi bersama 69 mahasiswa melakukan protes di depan rektorat. Sejumlah massa membawakan poster tanda protes. Aksi dikawal sejumlah aparat yang harusnya tidak masuk kampus. Di depan rektorat, seorang mahasiswa baru berambut menyentuh pantat, dengan wajah penuh bulu dan tangan yang berotot membawa poster yang bernada “Setop Bangun Kampus, Lebih Baik Bangun Mahasiswa”. Seseorang mahasiswa lain, yang tidak memiliki rambut dengan pakaian rapi menggunakan almamater membawa poster berbeda: “Jangan Gusur DPR Kami, Tidak Ada AC Di Ruang Kelas”. Namun dari semua poster yang telah dibawa, ada satu poster yang paling jujur, yang diungkapkan seorang mahasiswa jauh sejak dalam pikirannya. Poster itu dibawa mahasiswa berpenampilan klimis. Seseorang yang begitu kecewa karena pembangunan telah merusak keindahan dan kenikmatannya. Halaman depan rektorat begitu berarti bagi dirinya, seorang mahasiswa rantau yang kurang ongkos. “Jangan gusur taman cinta kami, Mahasiswa butuh taman untuk bercinta”.

Aparat kewalahan. Mahasiswa terorganisir dan solid menjalankan tugasnya masing-masing. Beberapa perwakilan berhasil buat pejabat kampus cemas. Pejabat paling tinggi pun turun tangga. Di hadapan massa, pejabat paling tinggi itu mengatakan akan menerima protes. Dia bersedia melakukan dialog. Tanya jawab terjadi. Satu tuntutan yang disuarakan semua mahasiswa: hentikan pembangunan di kampus.

“Kenapa mesti kalian tolak pembangunan ini? Padahal pembangunan ini akan membuat kampus ini menjadi modern karena akan dibangun gedung terpadu. Tentu juga akan ada wifi gratis untuk memudahkan kalian semua. Apalagi yang mesti kalian risaukan? Bukankah pembangunan ini untuk kalian semua? Dengan adanya pembangunan ini sarana dan prasarana untuk kalian akan terpenuhi karena pembangunan ini akan menunjang proses pembelajaran. Itu artinya pembangunan ini berdampak positif bagi kalian semua. Toh, kalian juga yang akan menggunakan gedung ini dan itu akan bermanfaat bagi kalian semua. Untuk apa kalian melakukan protes? Ini rumah kalian, kampus kalian, lebih baik belajar yang rajin dan lakukan yang terbaik untuk membanggakan kampus. Harusnya kalian bangga dengan pembangunan di kampus ini! Harusnya kalian berterima kasih karena sebentar lagi kampus ini akan menjadi kampus yang modern!”

Mahasiswa abadi menyampaikan apa yang mengganggu benak. Menanyakan asal-usul dana. Ia khawatir anggaran yang digunakan merupakan dana semester dari mahasiswa.

“Potong leher saya,” kata pejabat tinggi kampus ini dengan nada yang melambung.

“Potong leher saya kalau saya gunakan uang mahasiswa dalam pembangunan ini. Tidak ada sepeser pun uang mahasiswa yang digunakan. Dana yang digunakan dalam pembangunan ini merupakan dana yang berasal dari APBN. Ini uang negara, bahkan negara merestui pembangunan ini. Kenapa kalian mesti ribut?”

Tanya jawab hari itu tidak menemukan kesimpulan. Tidak ada bahasa penolakan dari pihak rektorat untuk menghentikan pembangunan di kampus. Bahkan sejumlah massa tak mampu menahan diri. Tidak ada nasi bungkus atau sebotol air minum. Maka pertemuan hari itu tak menemukan jawaban, sejumlah massa yang terbakar amarah mengancam akan melakukan aksi serupa dengan massa yang lebih banyak. Melihat aksi massa yang begitu mengancam kampus, mereka dipaksa bubar aparat. Bahkan dengan memaksa sejumlah aparat itu tidak segan mengeluarkan tembakan peringatan. Massa kocar-kacir lari entah ke mana.

***

Dua hari kemudian, mahasiswa abadi itu tidak melihat siapa-siapa di kantin kampus. Padahal mereka telah berjanji akan mengerahkan massa yang lebih banyak untuk melakukan protes. Tidak ada massa, juga poster aksi mereka. Hanya ibu-ibu penjual kantin yang terlihat duduk diskusi. 

“Bu, lihat puluhan mahasiswa berkumpul?” “Tidak ada Bang,” kata seorang dari mereka.

“Loh, mereka ke mana, itu kendaraannya penuh di parkiran, tapi orang-orangnya ndak ada. Ke mana para bajingan itu,” makinya. Ibu-ibu itu tertawa mendengar makian sang mahasiswa abadi.

“Kau kenapa masih di sini Bang? Bukannya hari ini ada ujian? Apa kau tidak ikut ujian?”

“Serius, Bu?” tanyanya cemas. “Loh kenapa bisa ada ujian? Kenapa aku tidak dapat info semacam itu.” Ibu-ibu itu kembali tertawa.

“Bang, wajar saja kau kuliah sampai semester 19. Orang ujian kau malah tidak tahu. Makanya jangan sibuk-sibuk protes, cobalah kau kuliah yang benar-benar saja.”

“Bangsat, bangsat, bangsat,” makinya. Ibu-ibu kantin tertawa berderai mendengar makian mahasiswa abadi. Ia membisu dan pulang.

Di depan rektorat, ia mendengar keributan alat-alat  berat, lokasi pembangunan dipagari atap. “Begitu tertutup dan tak transparan,” katanya dalam hati. Sebelum ia mulai menjauh, ia kembali menoleh. Didapatinya seseorang yang telah lama tak dilihat. Seseorang yang paling ia cari, seseorang yang ia kenal di masa lalu. Seseorang yang paling keparat. Ia coba mengingat dua tahun lalu ketika pemilihan rektor berlangsung. Ia masih ingat jelas apa yang terjadi ketika itu. Tidak ada mahasiswa yang tahu pemilihan rektor karena disibukkan tugas kuliah dan ujian tengah semester. Paling celaka, lembaga yang paling prestise, yang harusnya menyuarakan aspirasi mahasiswa malah sibuk dengan acara yang tak kalah seru. Tuan rumah BEM seluruh Indonesia.

”Segitiga setan yang tak pernah aku lupakan. Sepertinya aku mulai paham, ujian hari ini hanya ilusi, menutup mata dan membungkam mulut para mahasiswa. Keparat. Aku telah menghabiskan lima hari waktuku tidak tidur demi rencana ini.”

Mahasiswa abadi itu menjauh. Suara truk masih terngiang. Ia pulang dan memilih tidur ketimbang ikuti ujian aneh itu. Sebelum tidur, ia mencoba menulis sesuatu. “Aku memilih tidur untuk bermimpi indah dan menikmati kebebasanku. Selamat mengikuti ujian kepada kalian semua. Semoga berhasil, dan mendapat IPK tinggi. Yang tak pernah kalian sadar bahwa kalian sedang dibuai mimpi buruk. Karena IPK tak berarti apa-apa dan tak juga mengubah apa-apa. Mampus kau dalam cengkeraman penguasa.”



Penulis
Gusti Eka, lahir di Sekadau, kabupaten yang baru terbentuk 2003 lalu. Senang membaca, dan ngopi sampai dini hari. Menyukai sastra dan literasi dengan apa adanya. Saat ini sedang pulang kampung dan akan memikirkan segala sesuatu dari kampung.