Di Stasiun Tugu Kulepas Dia Pergi

Sastra

Editor Andrie P Putra Dibaca : 279

Di Stasiun Tugu Kulepas Dia Pergi
ilustrasi
AKU duduk persis di sebelah Trisna yang sesekali masih mengusap air matanya. Isaknya kedengaran lamat-lamat. Aku mulai dihinggapi rasa cemas. Aku takut Trisna benar-benar pergi. Sangat takut. Aku mencintai Trisna.

“Kumohon, jangan pergi. Maafkan aku,” ujarku lirih, nyaris tenggelam oleh derap kaki orang-orang yang kebetulan lewat di depan kami.

Kulirik Trisna. Sepertinya dia tak mendengar ucapanku barusan. Entah tak mendengarkan, entah tak peduli. Sedu sedannya masih terdengar sekali-sekali. Peron tak terlalu sibuk. Orang-orang yang ada pun tampak wajar, tampak bergelut dengan urusannya masing-masing. Bangku tunggu banyak yang kosong. Udara sedikit gerah. Lengking peluit kereta terdengar sesekali. Stasiun Tugu hidup, namun tak begitu bergairah seperti saat jelang idulfitri atau hari besar lainnya.

“Aku mau ketemu sama ibu, Gha. Aku pulang bukan karena sedang ada masalah dengan kamu. Jadi...” Trisna terisak lagi. Aku tak percaya dengan kalimatnya yang belum selesai itu. Aku tahu soal dia yang sudah hampir setahun di Jogjakarta dan bercakap-cakap dengan ibunya hanya lewat telepon. Beberapa kali dia bilang dia ingin pulang ke Solo menemui ibunya. Cepat atau lambat. Tapi ini? Ini bukan perkara cepat atau lambat lagi. Trisna tiba-tiba memesan tiket kereta dan di sini lah dia sekarang. Sebelumnya...iya, sebelumnya dia bertengkar denganku.

“Aku bukan kanak-kanak, Trisna. Aku...”

“Kalau kau bukan kanak-kanak, kau tak akan melakukan hal tolol itu, Gha!”

Ada yang meledak di dalam kepalaku. Aku tewas oleh kalimatku sendiri. Sialan. Oke... oke... aku salah. Aku tolol. Aku sudah minta maaf dan, oh... Trisna bahkan tak peduli dengan permohonan maafku kali ini. “Boleh aku menjelaskan sesuatu?” pintaku sungguh-sungguh.

Aku sama sekali tak berharap perempuan seperti Trisna sudi memberikan waktu kepada kekasihnya untuk membuat pembelaan dalam bentuk penjelasan yang bisa jadi sudah di-cut dan diedit sana-sini. Penjelasan yang menambahkan informasi pendukung dan membuang bagian yang melemahkan posisi. Apalagi saat ini Trisna sedang labil. Pasti...

“Jelaskanlah. Aku dengarkan. Aku masih punya waktu dua jam untuk mendengar pembelaanmu. Keretaku berangkat jam lima!” Oh, Trisna memberiku waktu untuk membela diri? Aku menarik napas panjang. Lalu... lalu aku bingung harus mulai dari mana.

***  

Aku ingin bercerita perkara Rizukiwa, mahasiswaku asal Jepang. Bahasa Indonesia Rizu bagus sekali. Padahal baru satu semester dia menetap di Indonesia. Rizu tipikal perempuan Jepang pada umumnya. Kulit putih, mata sedikit sipit. Rizu ramah, dan sialan... senyumnya manis. Handoko bahkan bilang, dada Rizu penuh. Kumaki si Handoko meskipun soal dada Rizu yang bagus itu tak kupungkiri kebenarannya.

“Dia suka sama kamu, Gha. Hajar sudah. Kapan lagi kamu nganu sama cewek Jepang? Mumpung ada barangnya. Masa iya kamu nonton JAV terus?” kata Handoko suatu hari di kantor fakultas.

Beruntung kantor sedang sepi. Jadi aku bisa misuh-misuh sesuka mulutku. “Jangan sampai Trisna tahu soal ini, Han. Gawat,” pintaku sembari mewanti-wanti supaya Handoko sedikit jaga bicara saat ada Trisna nantinya. Handoko malah terbahak. Sialan betul.

“Tapi kamu suka kan, sama mahasiswa sodaranya Miyabi itu?” Handoko terbahak lagi. Aku misuh lagi. Tapi aku tersenyum juga akhirnya.

Lantas, suatu ketika, saat aku tengah sendirian di kantor fakultas, aku dikejutkan oleh suara pintu yang diketuk dari luar. Tak ada pikiran apa-apa saat dengan wajar seperti biasanya kupersilakan masuk si pengetuk pintu itu. Baru aku sadar bahwa yang mengetuk pintu barusan adalah Rizu. Seperti terhipnotis, aku mengangguk saja manakala Rizu mengutarakan niatnya untuk menumpang mobilku saat jam pulang hari ini. Dan memang itulah yang terjadi. Aku benar-benar lupa dengan Trisna.

Celakanya, aku mengulangi lagi hal tersebut; mengantar Rizu pulang.

Trisna semakin tenggelam. Terlebih, Rizu sudah mulai bergerak cepat dengan mengajakku mampir terlebih dahulu sebelum aku lanjut pulang seperti biasanya. Hipnotis itu bekerja dengan sangat baik. Di ruang tamu yang sejuk itulah untuk kali pertama kukecup bibir Rizu. Trisna tak cuma tenggelam, tapi seperti hilang dari ingatan, seperti tak pernah ada manusia yang bernama Trisna di dalam batok kepalaku yang tengah eror itu. Rizu sudah menguasai hampir seluruh imajinasiku sebagai laki-laki. Benar kata Handoko; mumpung ada barangnya. Ah, sialan betul sahabatku itu.

Suatu hari yang terasa lain, aku mengantar Rizu pulang lagi. Kali ini aku tak bisa singgah. Aku harus menjumpai Trisna meskipun sebenarnya aku lebih memilih berlama-lama menghabiskan hari di ruang tamu rumah Rizu. Petuah sesat Handoko terngiang lagi. Sebelum turun, Rizu menyodorkan bibirnya. Matanya yang bagus itu terpejam. Aku tak bisa pikir panjang. Kuterima tawaran Rizu barusan. Dan... dan... Trisna sudah berdiri persis di depan mobilku. Trisna melesat dengan motornya beberapa detik seusai aku dan Rizu berciuman. Tuhan seperti melemparkan begitu saja kesadaranku dengan seketika. Kuminta Rizu segera turun. Bahkan, mobil sudah aku larikan di saat pintunya belum tertutup dengan sempurna.

Trisna tak sudi aku temui. Berhari-hari. Belasan hari. Puluhan hari. Entahlah. Pesan-pesanku tak ada yang dia balas. Teleponku tak pernah diangkat. Sampai pada suatu hari, Trisna bersedia aku temui. Kuakui segala kesalahanku sembari berjanji tak akan kembali ke pelukan perempuan Jepang itu lagi. Trisna mengangguk meski aku tak yakin dia benar-benar memaafkan. Ah, itu urusan nanti.

“Mainmu kurang rapi, bego!” Handoko memaki aku.

Dikatainya aku ini tidak profesional. Katanya, aku goblok saat berciuman di dalam mobil. Ruang tamu itu tempat yang bagus dan leluasa. Berciuman di dalam mobil sama saja cari penyakit. Dan aku sudah membuktikannya, kata Handoko lagi. Aku menggeleng, “Jangan bikin aku jatuh untuk kedua kali. Aku gak mau Trisna memergoki aku gituan lagi sama perempuan Jepang itu. Kalau kau mau, kau saja yang ciuman sama dia.”

“Dia maunya sama kamu, tolol! Kalau dia mau sama aku, sudah dari dulu aku sikat perempuan keturunan penjajah bangsa kita itu.”

“Kau kan bisa merayunya! Kau tampan. Dosen filsafat pula. Kurang keren apalagi coba?” Handoko terbahak, “Aku hanya akan merayu perempuan yang aku cintai dan yang pantas jadi ibu dari anak-anakku kelak,” Handoko mengerling.

“Tahi!” pisuhku padanya.

Pada suatu pagi yang jernih, Rizu mendatangi rumahku. Aku bersikap biasa saja. Aku sudah minta maaf kepadanya soal aku yang tak bisa melanjutkan hubungan terlarang kemarin. Rizu bisa mengerti. Bahkan dia setuju bahwa lebih baik kembali ke nol lagi ketimbang melanjutkan sebuah hubungan yang sudah salah sejak awal. Sebab Rizu berpikir seperti itu, maka hari ini aku merasa aku akan bisa menguasai keadaan. Nyatanya aku salah. Rizu memintaku untuk menciumnya sekali lagi. Untuk yang terakhir, ujarnya memelas. Sialan. Sialaaaaan.  Aku tak punya kuasa untuk menolak. Rupanya pengaruh hipnotis itu belum hilang. Aku mencium Rizu lagi. Di sini. Di rumahku sendiri. Dan yang paling sialan adalah... Rizu sudah berhasil membuka tiga buah kancing kemejaku. Aku sadar kemejaku sudah nyaris terbuka saat telepon genggam Rizu berbunyi dan Rizu melepaskan ciuman. Dikatakannya bahwa dia harus buru-buru pergi. Aku tak mengatakan apa-apa. Kubiarkan dia pergi. Pintu terbuka. Udara dingin leluasa menerobos, masuk ke dalam ruang tamuku yang barusan terasa sangat gerah. Aku duduk di sofa. Mengusap muka. Memejamkan mata. Menarik napas panjang-panjang. Menghembuskannya perlahan. Dan ketika aku membuka mata, Trisna sudah berdiri di ambang pintu. Matanya menyimpan bara. Dan... dan kancing kemejaku masih terbuka.

***  

Lengking peluit kereta berbunyi lagi. Prambanan Ekspres tiba. Berhenti persis di sebelah Argo Lawu yang terdiam seperti ular sanca kekenyangan. Satu per satu orang-orang keluar dari gerbong. Peron seketika gaduh. Hiruk-pikuk. Semrawut. Seperti pikiranku saat ini. Sudah kuceritakan semua kepada Trisna. Trisna mencibir.

“Aku hanya ciuman, Tris. Hanya ciuman!” tegasku sekali lagi.

“Tapi kancing kemejamu terbuka. Siapa yang percaya kalau kamu cuma ciuman, Gha?” selesai berkata seperti itu, Trisna menangis lagi. Air matanya kian membuatku merasa bersalah. Aku memang tolol. Tak ada satu pun manusia di dunia ini yang suka dengan yang namanya pengkhianatan. Tak ada.

“Maafkan aku, Trisna, maafkan aku,” ujarku untuk kesekian kali. Trisna menggeleng.

“Aku sudah pernah memberimu maaf untuk perkara terkutuk ini, Bagha. Telah kumantapkan hati untuk menerimamu sekali lagi. Tapi...”

Aku menyandarkan punggung ke sandaran kursi. Dadaku sesak. Telah kupatahkan sekali lagi hati Trisna. Dan jika pada akhirnya Trisna tak memberiku maaf untuk kali ini, itu hak dia. Aku tak dapat lagi memaksa. Aku menundukkan muka. Di depan sana, kereta yang akan membawa Trisna pergi tengah melangsir gerbong. Stasiun Tugu masih menyisakan orang-orang yang sibuk dengan kepentingan masing-masing. Sore merangkak turun. Matahari kian condong. Sinarnya jatuh dengan leluasa.

“Aku paham, aku salah. Aku juga tahu, kelak aku akan sangat merindukanmu. Merindukan segala hal yang sudah kita jalani, sudah kita lakukan.”

Kuraih jemari Trisna. Ada rasa hangat menjalar ke dalam tubuhku sendiri. Kutatap wajah Trisna yang masih menunduk, “Aku tak pantas meminta maaf, aku sadar betul. Tapi bagaimana pun, aku harus melakukannya. Jangan menangis, Trisna. Kamu adalah perempuan yang baik. Semoga setelah ini, hidupmu akan berubah lebih baik lagi. Sekarang pergilah. Keretamu sudah menunggu,” ujarku dengan suara bergetar.

Kupeluk Trisna. Mungkin untuk kali penghabisan. Aku meminta izin mengusap air matanya yang jatuh. Trisna mengangguk perlahan. Kuberikan dia senyum getir. Senyum yang aku paksakan. Senyum perpisahan. Di Stasiun Tugu, kulepas dia pergi. Aku membalikkan badan, meninggalkan Trisna dengan sisa-sisa ketegaran yang ada. Tak ingin aku menoleh ke belakang lagi. Bahkan, aku berjalan setengah berlari.  

Di dalam mobil, dadaku kian sesak. Entah sejak kapan, aku merasa pipiku basah. Aku memejamkan mata. Tapi itu sebentar saja. aku memilih membiarkan air mataku tumpah. Kunyalakan radio. Kucari frekuensi secara acak. Dadaku tambah sesak. Di radio, Jikustik tengah melantunkan bait terakhir lagunya:

Ini saatnya kita harus mengerti
Kereta ini kan membawamu pergi
Dan bila kau sampai di sana
Tak pernah ada lagi kita...*  

Air mataku tumpah lagi. Sialan!      

Mempawah Juni 2018                            




Penulis
Kakanda Redi, penulis. Lahir di Jembrana, Bali, maret 1985. Tinggal di Mempawah, Kalimantan Barat.