Mubarok

Sastra

Editor Andrie P Putra Dibaca : 216

Mubarok
ilustrasi.
 “Anjing dan babi itu haram”.

Fardan ingat pesan Herol, guru ngajinya yang baru dan masih hijau, yang suka bercelak. Lalu sederet sabda bahasa Arab dilontarkan seolah memberitahu saja tidak cukup, tanpa menakut-nakuti. “Ingat, yang melanggar perintah Allah hukumannya apa?” Muridnya yang masih bocah itu akan serempak menjawab, “Neraka”.

“Hanya orang kafir yang memelihara haram-haram itu!” Herol mempertegas dengan jari menandak-nandak langit. Fardan yang duduk di saf depan, di hadapan gurunya yang asing ini, mundur sedikit-sedikit. Almarhum Teh Muin, gurunya terdahulu yang lembut tak pernah menghujaninya dengan liur seperti ini. 

Sifat bebal seorang kanak ada sepenuhnya dalam diri Fardan. Ajaran dan pesan Herol akan bekerja pada waktu disebutkan, dilontarkan dengan tegas tak jarang kecam, dan berhasil membuat murid-muridnya terkesima, merinding, membayangkan aliran api panas yang mengalir sementara pendosa-pendosa direndam seperti pakaian kotor. Ia takut membayangi dosa-dosa apa yang pernah ia kerjakan dan hukuman apa yang pantas dan adil untuknya di neraka. Ia membayangkan bagaimana tangannya terulur kemudian sesosok malaikat berwajah durja menebasnya, lalu tangannya yang buntung itu tumbuh lagi, ditebas lagi, begitu seterusnya tiada henti. Itu bila dosa yang ia perbuatnya mencuri. Belum lagi hukuman punggung disetrika, ah, Fardan ingin tobat saat itu juga. Membayangkannya saja ia ngeri. Fardan yakin, Herol tidak bohong karena begitulah yang diceritakan komik tipis tentang siksa neraka yang pernah ia dan teman-temannya baca di pos ronda Gang Alim. Tapi sifat bebal itu lebih raja ketimbang nasihat dan ancaman Herol, sebab setelah waktu mengaji itu usai, semua itu termasuk Herol sendiri, adalah keringat yang kering tanpa jejak. Masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Sepulang mengaji, ada saja anak-anak tadi berulah lucu, mencuri manggis Bik Salbiah, misalnya.

Namun perkara anjing dan babi yang haram itu memaksa Fardan untuk mengingat kembali ancaman Herol. Dua binatang itu berlarian di kepalanya. Ia tahu babi itu haram kalau dimakan dan ia sedang tidak makan babi. Bahkan melihat babi saja ia tak pernah. Tapi dalam otak tujuh tahunnya, ia bertanya-tanya mengapa anjing itu diharamkan. Ia sering melihat hewan itu keliaran di televisi, dengan rupa-rupa yang menarik, dicintai orang-orang, dipeluk, dicium, dibikinkan rumah, bahkan ada yang cerdik saat mengerjai dan menangkap maling––anjing pahlawan. Suatu kali ia pernah bertanya mengapa kepada Herol, dan guru ngajinya itu tak memuaskan ingin tahunya selain menggoyang-goyangkan telunjuk sambil bersabda, “Pokoknya haram, dosa, dan tempat bagi pendosa itu adalah neraka!” Ludah itu menyembur di wajah Fardan, membikinnya jera. Tapi kali ini, pertanyaan mengapa itu muncul setelah ia cukup lama merenung, dengan seekor anjing yang mengelus-eluskan kepalanya di pahanya, di sebuah taman yang tak seorang pun tahu kecuali Tuhan.                                                                    

***

Sudah hampir sebulan ini Fardan diam-diam mengunjungi taman terbengkalai itu, taman yang berada di ujung buntu Gang Alim. Ada pagar bata tinggi yang menyekatinya dengan pabrik pupuk sebelah, yang angker katanya. Sebelum ke taman itu, ada beberapa rumah kontrakan yang saling berhadapan, beberapa kosong dan satu kontrakan diisi oleh seorang perawan tua tukang fitnah bernama Sumiah. Di sudut taman itu ada gubuk kosong yang doyong dan dirambati benalu. Dulu anak-anak suka bermain di situ, tapi setelah gosip Sumiah yang bersumpah mati telah melihat kuntilanak melolong di beranda gubuknya, resmilah wilayah itu sebagai tempat yang terlarang untuk didatangi, apalagi untuk anak-anak. Di taman itu, bermukim sekeluarga anakonda sebagai penjaga, yang pernah membantai kucing-kucing piaraannya, teman hidupnya, adalah gosip Sumiah di lain waktu. Ada lapangan kosong di pusat gang, di samping rumah Fardan––di situlah kerap anak-anak berlari galasin, nyentil gundu, atau bermain layangan. Sementara teman sebayanya di lapangan itu, Fardan diam-diam berbaring di belakang gubuk reot taman, bercengkerama dengan seekor anjing. Baginya, tak ada yang ganjil dari tempat itu. Tak ada kuntilanak, tak ada anakonda, selain ketenangan. Ia suka kenyal rerumput seolah-olah ia berbaring di atas agar-agar. Ia suka kicau burung yang hinggap di himpun belimbing tak jauh dari gubuk. Langit biru dengan awan-awan gemuk terbentang di atasnya. Angin semilir. Seekor anjing duduk manis dengan lidah menjulur, di samping tubuhnya yang telentang.

“Mubarok, kamu sudah kenyang?”

Anjing itu diam, lalu menelusupkan kepalanya di ketiak Fardan. Mereka berbaring bersisian.

“Kalau kamu haram dan aku masuk neraka gara-gara kamu, kamu harus bisa jelaskan kepada Allah bahwa kamu yang datang mencariku. Bukankah di akhirat nanti semua bisa bicara. Tangan, kaki, mata—bukan berarti kamu hanya menggonggong selama-lamanya, kan?”

Anjing itu mengaing lemah.

****

Pertemuan dengan anjing itu terjadi pada suatu Kamis siang saat Fardan disuruh ibunya memetik kenanga di sekitar halaman salah satu rumah kontrakan. Kenanga nantinya akan direndam air bercampur iris pandan untuk mereka siram setelah membaca yasin di makam Mubarok. Ia dan ibunya berencana nyelaseh[1] di makam kakek sore harinya. Mengingat reputasi kawasan itu yang suram, ditambah santernya sunyi, jadilah Fardan lekas-lekas memetik kenanga dan mengantonginya di saku celana. Wangi mistis membuatnya mual. Ia merasa ada mata-mata yang mengamatinya, menghunusnya entah dari mana. Ketika dirasa cukup berurusan dengan bunga itu, ia berbalik, dan ada seekor anjing cokelat kusam duduk di belakangnya. Ia terlonjak, jantungnya nyaris lepas. Ia mau berteriak, tapi pita suaranya seolah putus. Ia mundur pelan, menyuruk ke rimbun kenanga, tenggelam. Ia amati geligi anjing yang tajam itu, lidah julurnya yang kehitaman, dan tatapan yang penuh makna. Satu hal yang terang di benaknya adalah ia akan mati atau selamat dengan penuh luka gigitan. Setidaknya itulah yang pernah ia saksikan di film-film barat, atau cerita yang pernah ia dengar entah dari siapa.

Hus.. hus.. suaranya gemetar mengusir anjing itu, sementara kakinya menendang jarak dan udara. Anjing itu maju, pelan, nyaris anggun. Ia setinggi paha Fardan dan tampak belang hitam di tubuhnya yang kurus. Kepala anjing itu berhasil ia sepak pelan, tapi anjing itu tak gentar, terus maju. Fardan menemukan sepotong kayu yang tergeletak di samping kakinya, dengan tangkas ia raih, lalu mengancam anjing itu agar tidak bergerak. Tapi si anjing masih bergerak dan Fardan spontan melayangkan tongkat hingga mengenai kepala anjing. Si anjing terpental pelan ke samping, hilang keseimbangan, tumbang. Kesempatan itu ia gunakan untuk berlari sekencangnya menyelamatkan diri.

Jangan lari, itu berarti anjing akan mengerjarmu, diamlah. Itu pesan temannya, tapi ia tetap berlari sampai megap. Ketika ia menoleh ke belakang untuk memastikan tak ada yang mengejarnya, ia pun berhenti––dari kejauhan, anjing itu tergeletak tak bergerak dari posisi tumbangnya. Matikah dia, batin Fardan cemas. Apakah aku telah membunuh seekor anjing?

Ada ketakutan yang tak bisa ia jelaskan. Seketika cuma ada Herol di kepalanya. Ada setitik sikap patriotik sebab yang ia bunuh adalah makhluk haram, dan itu sedikit mengurangi beban takutnya tadi. Tapi, yang tak bisa ia dustai adalah, ia seperti melihat sesuatu yang menyertai anjing itu––meski baru bisa ia akui. Kakeknya, yang pada nisannya baru ia tahu bernama Mubarok. Pada anjing itu ia lihat kerapuhan dan harapan, sebagaimana ia lihat sendiri––hanya sendiri––jelang kematian kakeknya. Ia ingat, bagaimana kakeknya yang renta, sesak napas menatapnya, kesakitan, dan ia tak bisa berbuat apa-apa. Saat itu sore, kakek berbaring di dipan dapur sementara ia mengerjakan pekerjaan rumah di meja makan. Tangan kakek mencoba menggapai-gapainya, kemudian turun dan tiada dengan tenang.

Dengan memberanikan diri ia hampiri anjing itu. Ia amati sekitarnya. Lengang. Anjing itu bisa dibunuh massa karena kemunculannya yang najis bisa mencemari Gang Alim. Sekali lagi, Fardan teringat kakeknya. Ia hanya ingin memastikan jika anjing itu mati, ia akan membiarkannya diurus orang gang, dan bila masih hidup, ia berhutang kasih untuk menyelamatkannya, paling tidak mengusirnya dari tempat ini sebelum baunya diendus warga.

Alhamdulillah, anjing itu masih hidup. Batinnya lega dengan cara yang ganjil. Ada darah di dekat telinga anjing yang serupa tekuk daun mangga. Anjing itu lemas tak berdaya, sakit––beginikah jelang mati? Dengan keberanian yang mantap—meski awalnya ia ragu—ia seret kaki anjing itu hingga memasuki taman terlarang dengan tangan disabuki bajunya yang sudah ia lepas untuk menghindari najis. Anjing pesakitan ini akan pergi setelah makan dan kenyang, dan itulah tanggung jawab Fardan yang sudah kepalang basah.                                                                   

***

Sejak itulah sayang terbit. Setiap sore, ia akan mengendap-endap ke taman lewat jalur belakang rumah. Dengan membawa bekal yang diam-diam ia curi dari lemari dapur. Mubarok akan muncul. Mubarok sudah membaui Fardan dan sebungkus makanan (seringnya sisa makanan berupa belulang lauk). Ia tak lagi takut najis, sebab ia sudah bertanya kepada guru agama di sekolahnya bahwa selama anjing itu kering, ia suci. Guru agama yang ini enak diajak tanya-jawab dan liurnya tidak hujan ke mana-mana. Ia tak perlu lagi mencuci tangannya dengan air dan tanah seperti yang pertama ia lakukan saat mengobati luka di bawah telinga Mubarok.

“Kau tahu mengapa aku menamaimu Mubarok?” tanya Fardan ketika anjing itu menatapnya dengan senyum di matanya. Anjing itu kekenyangan. Ia tampak segar. Bulu-bulunya bersih dan cemerlang. Rusuk-rusuknya tak lagi mencuat seperti pertama kali Fardan mengenalnya. “Karena kau memiliki mata seperti kakek. Dia meninggal karena tua dan sudah waktunya, beberapa tahun lalu.” Fardan mengacak-acak puncak kepala Mubarak.

“Tidak, tidak, jangan jilat aku. Aku jijik dengan liur. Itu mengingatkanku pada seseorang.” Fardan menarik tangannya dan Mubarak berulah manja menggelayut di lengannya, berkaing-kaing.

“Bagaimana kalau kau menjadi anjing yang cerdas dan keren seperti yang ada di film,” Fardan meraih piring plastik tempat minum Mubarok lalu melempar rendah piring itu ke tengah taman. Mubarok lincah mengejar dan menyambarnya. Ia kembali ke Fardan dengan piring dalam gigitannya. Fardan terkekeh.

“Sebentar lagi magrib. Pulanglah kawan.” Fardan berdiri. Ia keluar taman, tapi Mubarok masih duduk di batas taman, mengamati kepergiannya. Setelah itu Mubarok akan melompat gesit ke arah timbunan tangki rongsok di ujung taman, lompat lagi menyeberangi tembok pembatas, kembali ke tempat yang bisa menerimanya, bukan Gang Alim beserta isi-isinya. Ia dan Fardan seperti sepasang sahabat dari dua dunia yang tak sama, yang punya jadwal rindu dan bertemu tanpa orang-orang tahu.

Tapi rahasia itu tidaklah abadi seperti yang Fardan harapkan. Sumiah tiba-tiba saja menyampaikan desas-desus ada seekor anjing raksasa mengobrak-abrik isi dapurnya. Barangkali jadi-jadian, ia menambah-nambahkan. Desas-desus itu sekali diabaikan warga, tapi tidak dua-tiga kali––yang lebih dramatis. Ada kotoran anjing di pelantaran dapur Sumiah. Sempat ada debat antara Sumiah dan warga yang gerah mengingat reputasi perempuan itu. Kuntilanak, anakonda, lalu anjing bak monster… kampung harus disucikan karena barangkali ada warga yang ngobu[2], hasutnya kepada ibu-ibu berdaster di warung. Sumpahnya lagi bahwa yang dilihatnya kini bukan anjing, tapi siluman. Siluman anjing karena ia harus menghubungkan faktanya dengan kotoran anjing tadi.

Fardan pun jarang bertemu lagi dengan Mubarok semenjak isu itu. Itu karena Fardan menjaganya, memintanya agar ia tidak lagi bertandang di gang ini karena bahaya. Fardan mengusirnya seolah-olah marah dan benci. Tapi ia tetaplah binatang yang tak punya logika tapi punya harga diri tinggi untuk setia. Pada pembuktian kesetiaan itulah ia ditangkap oleh warga. Pembuktiannya dengan menunggu Fardan di taman, sementara yang ditunggu enggan datang. Fardan hanya melihat krasak-krusuk antara Sumiah dengan warga di lapangan. Ketika ia mendekat karena curiga, ia mendapat potongan-potongan berita. Siluman itu ada di taman. Bayangkan! Taman terkutuk! Kalau siang dia berbentuk anjing biasa. Malam nanti jadi siluman dan raksasa. Begitu Sumiah menceritakan. Mereka pun berbondong-bondong ke taman. Ada yang membawa tombak, pentungan, parang, seember air panas. Fardan terpaku di tempat. Matanya terasa panas. Ketika ibunya bertanya ada apa, dia menjawab tidak kenapa-kenapa, ia hanya merasa kurang nyaman badan dan ingin tidur saja. Ingin tidak tahu dan diberitahu apa-apa.

Tapi ia tak bisa tidur. Hingar-bingar warga di lapangan sebelah dibawa angin hingga mengisi kamarnya. Suara bising dan bungah Sumiah. Lolongan, geraman, dan kaingan Mubarok yang entah dieksekusi seperti apa. Dan suara khotbah berapi-api Herol yang mengucapkan “Haram! Haram! Haram!” dengan liurnya yang bau dan menjijikan, yang hujan ke mana-mana. Fardan mencoba mengingat, kapan terakhir kali ia bersedih sedemikian ini, yakni kepergian Mubarok, kakeknya.  


[1]  Nyelaseh (Madura-Pontianak): nyekar.
[2] Ngobu (Madura-Pontianak) = memelihara makhluk gaib untuk tujuan tertentu.



Penulis
Mardian Sagian. Karya-karyanya terangkum dalam kumpulan cerita pendek Hujan, Penebang Pohon, Pandurata (Literer Khtulistiwa), Kopang (Literer Khatulistiwa), Cerita Horor Kota (Plotpoint Kreatif), dan Dari Timur 2 (Gramedia Pustaka Utama).