Puisi-Puisi D. Purnama

Sastra

Editor Andrie P Putra Dibaca : 188

Puisi-Puisi D. Purnama
ilustrasi.
Pada Dada Kiri Seorang Lelaki, dan Detak Jantungnya

Di kamar kita, Sayangku, botol-botol yang pernah kau pakai untuk menadah air mataku terserak
beberapa tumpah,
menguap dan berkabut

Kamar kita, Sayangku, jadi rumah duka
sesak pekat air mata di udara

Aku menjamu kenangan dalam sebuah perayaan kematian
membagikan berpiring nasi yang ditanak di atas tungku luka

Kami mendengungkan dongeng-dongeng
yang gelap
yang sesat
yang bengkok

Melayat ingatanmu yang mati dalam sebuah perjalanan
Mendoakan ingatanmu yang tak pernah sampai pada pulang

7 Mei 2018  



Tak Ada yang Berulang

Tak ada yang berulang, Kekasih
Pada kau, juga mereka
Ingatan-ingatan telah menjelma lupa
Juga kenang-kenang yang jadi kunang-kunang,
terbang melampaui masa
Kehilangan jejak pulang  

Tak ada yang berulang, Kekasih
Masa lalu telah lama berkhianat pada setiap siapa
Waktu adalah kupu-kupu jahil yang sengaja hinggap di telapak tangan,
kemudian terbang sesukanya sambil menyemburkan bualan dalam kepala, dalam dada kita  

Tak ada yang berulang, Kekasih
Tak ada doa-doa yang berdengung bingung
Katamu, kataku:
"Doa hanya kata-kata yang bersetubuh dengan keputusasaan, di atas ranjang tua yang berderit bising."  

Tak ada yang berulang, kekasih
Hari ini kau tetap menggelandang seperti biasa
Luntang-lantung dan bahagia
Tetap miskin dan tertawa
Tak ada tahun yang berulang
Tak ada masa yang berulang
Pada kau, juga mereka

6 Mei 2018  



Pada Sepi yang Kesepian

Hari ini saya merayakan Valentine lebih dulu
Saya memesan segelas cokelat panas dan menambahkan kepingan-kepingan hati yang patah, menyeduhnya hingga larut.
Saya sendirian.
Saya rasa saya sendirian.
Kemudian ada sepi.
Ia datang, menarik kursi dan duduk di samping saya.
Saya tawarkan segelas cokelat, ia menolak.
Katanya, "Kesedihan lebih nikmat saat kau menyesapnya sendiri."
Saya teguk cokelat panas,
satu...
dua...
tiga...
Dari ujung- ujung mata saya mengalir cokelat panas.
Kental dan pekat.

13 Februari 2018  


Metamorfosis Bulan
Aku menyambut langkah-langkah patah sepasang kaki April yang beranjak kanak
kudekap sebelum jatuh
kudekap sebelum jauh.  

April berceloteh terbata-bata, membicarakan apa saja
Aku duduk bersila mendengar ia mengeja asa
April menyeka luka yang tak mau berhenti darahnya di sekujur tubuh Maret yang mati muda
Hingga rontok segala borok dan bobrok yang disisakan Maret menjelang kematiannya.  

April bersandar di pundakku
Katanya: aku boleh tertawa sampai bergema di kepala dan dada siapa saja.

1 April 2018  



Penulis
D. Purnama, perempuan kelahiran Mempawah, 20 Maret 1995 ini adalah bungsu dari dua bersaudara. Saat ini sedang membangun karir di perusahaan swasta. Aktif sebagai pegiat literasi bersama Kalbar Membaca. Pemuja lipstik merah garis keras.