Kata-Kata Itu Sudah Hilang Sejak Kami Dilahirkan

Sastra

Editor K Balasa Dibaca : 212

Kata-Kata Itu Sudah Hilang Sejak Kami Dilahirkan
ilustrasi.
Padang pasir yang kami susuri dengan segenap beban dipundak, terik panas kami abaikan demi menembus badai depan mata. Kami tinggalkan banyak kota yang hancur dalam perjalanan, kami hanyalah segerombolan pria, wanita serta anak-anak yang tak tahu asal usul kami. Hal yang kami lakukan hanya terus bergerak dari tempat konflik ke daerah aman, hanya itu yang kami lakukan bertahun-tahun bahkan berabad-abad berlalu.

Kami sendiri tak tahu tahun berapakah sekarang, kami hanya mengikuti arah terbit matahari dan tenggelam berganti bulan. Bumi saat ini porak-poranda mendekati kiamat, perang terjadi di mana-mana tanpa sebab tak jelas. Berebut lahan, mempertahankan martabat, etnis ataupun agama untuk membunuh dan menghabisi manusia laksana menyembelih leher hewan. Nyawa tidak ada gunanya, hukum rimbalah yang berlaku di sini. Terkuatlah hidup dan jadi penguasa, lemah tersingkir dan mati tercabik-cabik.

Itulah nasib kami, kumpulan hati-hati yang kalah dan tidak menemukan jalan pulang. Tidak mempunyai rumah untuk disinggahi karena semua sudah hancur dihantam nuklir hingga debunya memasuki jalan dan rongga pernapasan, tiap manusia menghirup akan tewas mengenaskan.

Sepanjang jalan yang kami jumpai hanya bangunan yang luluh lantak tersembul kobaran api melahap habis tak tersisa. Pemadangan tak lazim dan abnormal, mayat-mayat berserakan seperti sampah dicampakkan begitu saja. Bau bangkai yang menyengat saat kami melintas kota itu, tidak ada tanda kehidupan sekali pun. Sisa-sisa penjarahan dan pembantaian menyisakan perih di hati, kami harus berhati-hati melangkah karena genangan darah itu membanjiri jalan yang kami lalui.

Bahkan sesekali kami harus melangkahi mayat-mayat yang telah terbakar hangus dan dikerubuti lalat. Berbagai mayat tersaji, pria atau wanita sampai bayi tergeletak dengan mulut menganga dan mata melotot layaknya babi yang dikerat. Mereka tampak berpelukan satu sama lain, di wajah mereka terlihat lelehan air mata yang tak sempat diseka sebelum ajal menjemput. Begitu biadab yang melakukan ini semua, iblis telah keluar dari wadah manusianya.

Tapi semua itu menjadi makanan sehari-hari, pemandangan yang sudah terbiasa di mata kami. Awalnya kami mual dan pening hingga memuntah makanan yang ditelan tadi pagi, tapi setelah itu lambat laun membuat mata kebal dan hati mengeras. Kami terus melewati puing-puing kota yang hancur, memungut sesuatu yang bisa dibawa. Pakaian, makanan, selimut, sepatu atau apa pun yang bisa kami manfaatkan, kamilah pemulung kesedihan. Mengais bekas-bekas kebahagiaan dan kejayaan manusia.

Semua yang kami temukan, kami angkut dalam gerobak-gerobak. Berjalan beriringan saling menjaga satu sama lainnya bak keluarga biar pun di masa lalu kami tak saling kenal dan tidak ada pertalian. Kami disatukan karena keadaan, perang tidak memenangkan apa pun hanya menyisakan sengsara dan derita mendalam bagi siapa pun.

Dulu hanya sepuluh orang saja, tapi setiap memasuki kota yang luluh lantak dipastikan para penghuni ikut serta. Mereka mengekor dan jumlah kami terus bertambah. Dari 10 menjadi 100 dan 1000 setiap kami melewati kota yang binasa. Kami kaum proletar tanpa negara tanpa pengenal bangsa. Layaknya sihir, sekumpulan kami yang berbaris berjajar bagai magnet bagi siapa pun melihat. Bagi mereka, kami seumpama kawanan sirkus penghibur dari galau penyakit dunia. Terus menjejak kaki, kami tak lelah berjalan dan tak tahu arah. Terkadang, kami dihentikan oleh penjaga-perjaga perbatasan saat berusaha memasuki kota. Penjaga itu selalu bertanya kepada kami.

“Siapakah pemilik tubuh kalian?"

“Apa yang kalian puja?”

“Rasa apa yang tanam dalam hati kalian?”

Kami pun diam tak bisa menjawab dan tak tahu jawabannya.

“Pergi kalian!”

“Di sini hanya kaum Langit dan berdarah biru.”

“Kalian bukan golongan kami.”

“Enyah dan pergi yang jauh.”

Suara-suara membentak itu teringang di telinga. Kami mendaki bukit, menyeberangi sungai atau menyibak hutan belantara. Bahkan sampai memanjat puncak gunung untuk melihat matahari di ujung langit, merasakan damai hingga berpikir mati.

Jika lelah, kami mendirikan tenda dan membakar api unggun di tengah-tengah kawanan. Para lelaki menyanyikan senandung leluhur, para wanita menanak nasi dan anak-anak bermain petak umpet. Hiburan kami hanyalah dongeng-dongeng masa lalu yang diceritakan berulang oleh sang tetua. Bahwa dulu, negeri kami gemah loh jinawi, tanahnya subur dan penduduk hidup sejahtera tanpa kekurangan. Hidup berdampingan dan saling menyanyangi satu sama lainnya. Dahulu kala banyak dibangun menara menjulang. Bangsa kami menguasai bumi, mencaplok lautan dan merangkul langit. Kami adalah penguasa sejati kala itu.

Tapi itu hanya cerita-cerita kemasyuran purba yang telah berabad-abad hilang disapu ketamakan dan kerakusan. Mereka selalu menumpah darah sejak penciptaan pertama Adam dan Hawa, takdir manusia di tangannya sendiri.

Kami hanya ingin bertahan hidup, itu saja dan tidak lebih. Terkadang berburu hewan apa saja, rusa, babi hutan, kelinci, burung atau ikan. Semua daging binatang itu kami awetkan untuk bekal dalam perjalanan, cukup mengenyangkan perut kami yang penuh cacing kelaparan.

Jumlah kami tak pernah menyusut, jika 99 mati pasti ada 99 bayi dilahirkan. Beranak pinak dalam rombongan, berahi itu yang melanggengkan generasi dan mewarisi gen-gen manusia kalah. Kami terusir dari negeri kami dan tidak ada pengakuan.

Ini selalu terjadi jika memasuki suatu negeri asing, dihadang pasukan berkuda berlegiun kereta perang.

“Berhenti kalian semua!”

“Siapakah kalian?”

“Darah apa yang mengalir di tubuh kalian?”

“Tuhan manakan kau sembah?”

Mereka membentak sambil mengacungkan senjata. Kami tak bisa menjawab.

“Kalian angkat kaki dari sini atau kami bantai!”

“Di sini bukan tempat kalian, manusia barbar!”

“Kami bangsa Pemuja Matahari.”

“Kaum yang diberkati dan lebih suci daripada kalian.”

Kesombongan mereka sebagai bangsa besar tak buat kami segan. Kami bentrok. Rombongan dihantam kocar-kacir. Terpecah dengan hujan anak panah dan tombak di atas kepala.

Kami bukanlah tipe pejuang tapi pencinta kedamaian hingga tak bisa berbuat banyak melawan kawanan beringas. Kami terpecah. Ke puncak gunung, berhambur ke lautan, menyusup dalam hutan.

Aku dan kelompok kecil berhenti di lembah yang di atasnya selalu bersinar pelangi-pelangi hidup.

“Kenapa ada peperangan dan saling menumpahkan darah?” suara Maneka bertanya kepadanya, ia duduk di sampingku.

Aku hanya terdiam dan bisa menjawab, hanya memandang matanya yang berkilap bak pualam diterangi sinar rembulan.

Aku tak tahu, Maneka.
Semua itu terjadi begitu saja.
Aku juga tidak bisa ingat apa yang terjadi sebelum kita.

“Manusia kala itu saling bunuh demi etnis, agama atau dogma yang mereka percayai. Surga di belakang mereka, bukan neraka. Itu yang mereka anut.”

“Apakah itu etnis?”

“Apakah kita mempunyai agama?”

Maneka menanyakan itu kembali, lidahku begitu ngilu untuk menjelaskan karena linglung bagaimana menjawab. Hal yang kami lakukan cuma bertahan hidup dan terus memikirkan nasib saudara-saudara yang lain.

Di lembah pelangi itu kami dirikan tenda, membelah kayu bakar, menanak nasi, membakar sisa-sisa daging rusa dan menyanyikan lagu sendu yang menyayatkan hati. Setidaknya kami bisa mengurangi pedih di jiwa yang kosong dan itu membuat kami terlelap dalam malam menuju peraduan sang Khalik.

***

“Bangun kalian semua!!”

Bentakan dan lengkingan menggema pagi hari itu, hentakan kaki-kaki kuda membuat debu di lembah pelangi beterbangan memasuki paru-paru.

“Siapa kalian? Berani-berani berada di tempat suci. Tubuh kalian mengotori tempat ini.”

Kulihat sekelompok berkuda, memakai jubah dan berzirah perak. Mereka terlihat ganas mengelilingi dengan mengacungkan pedang dan tombak ke tubuh kami. Terdesak dan tidak tahu harus bagaimana, nyawa terasa akan lepas di ujung tenggorokan.

“Kuulangi sekali lagi, siapa kalian? Di sini tanah para raja dan turunan dewa-dewa! Cuiih!”

Ludah itu melekat di wajahku, sempat kuseka tapi hantaman kaki mendarat di dada. Aku tersungkur di tanah dan mata berkunang. Mata itu hanya sempat melihat jeritan para wanita, tangisan bayi bercampur teriakan para lelaki bercampur gemuruh dalam telinga.

“Bunuh semua!”

Pembantaian itu terjadi sesaat aku terjerembab dan pingsan. Banjir darah. Mayat-mayat bergelimpangan, disembelih layaknya binatang dan dikerat. Pria, wanita, muda, tua bahkan orok bayi mereka habisi tanpa bergidik ngeri.

Saat aku berdiri, dari belakang sesuatu mendekap keras. Sebatang golok menyentuh kulit leherku dan sedikit lagi bahkan nyaris.

“Oh, kau masih hidup rupanya.”

Salah satu dari mereka mencekikku dari belakang.

“Kau yang tersisa dari kaummu. Sekali lagi aku tanyakan padamu. Siapa dirimu? Suku apa kau ini? Agama apa yang kau puja?”

Semua pertanyaaan seperti yang ditanyakan Maneka dan aku tak tahu jawabannya. Karena kata-kata itu sudah hilang sejak kami dilahirkan. Dan itu, kata terakhir yang keluar dari mulut ini sebelum mereka menggorok leherku.  

Surabaya, Mei 2017  


Penulis, Ferry Fansuri, kelahiran Surabaya adalah travel writer, fotografer dan entreprenur lulusan Fakultas Sastra jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Karya tunggalnya kumpulan cerpen "Aku Melahirkan Suamiku" Leutikaprio (2017) dan karya lainnya di beberapa antologi puisi dan cerpen. Pernah bergabung dalam teater Gapus-Unair dan ikut dalam pendirian majalah kampus Situs dan cerpen pertamanya "Roman Picisan" (2000) termuat. Mantan redaktur tabloid Ototrend (2001-2013) Jawa Pos Group. Sekarang menulis freelance dan tulisannya tersebar di berbagai media nasional.