Puisi-puisi Faris Al Faisal

Sastra

Editor K Balasa Dibaca : 338

Puisi-puisi Faris Al Faisal
ilustrasi
Warna Tanah Tubuhmu  

seseorang yang kukenal di ibu kota tiba-tiba warna/ tubuhnya mirip sekali dengan tanah

di tanah merah kulitnya merah

di tanah hitam kulitnya hitam

di tanah coklat kulitnya coklat

seakan kulitnya dapat melakukan kamuflase

seperti bunglon mengikuti warna tempatnya

jejaknya tak ingin diketahui mata mengelabui siapapun yang tak awas mirip serangga-serangga yang dilumat maka kukukirimi ia surat kaleng pada suatu hari ingin kutanyakan

tentang warna tanah tubuhnya kenapa warna kulitku tetap saja? hitam bagai kayu arang yang dingin

walau terkadang hangus dibakar peluh kudapatkan jawabannya dalam pesan pendek warna tanah ditubuhku adalah pekerjaanku, katanya

kubalas lagi jika aku ingin bekerja dengannya lompatanmu mesti sehebatnya tupai, jawabnya aku pun mulai
memanjat pohon sawo mengadu lompat

aku melihat tupai begitu lihai sedang aku gemetar di tempatku

pohon ke pohon dilompati dengan kendali decak kagumku seperti suara cicak hendak kawin tapi aku tekejut
mendengar bunyi dedaunan kering mungkin buah sawo matang yang jatuh menimpa jerit tupai

mengaduh sakit ia pun digelandang pemilik kebun mungkin kandang besi telah menantinya atau bahkan tubuh berkecap terhidang di meja makan

segera kukirimi lagi pesan padanya kubatalkan tentang permintaanku ingin punya warna kulit seperti tanah tupai yang lihai jatuh terkulai, kataku dasar bodoh

minggu depannya kubaca berita di koran wajahnya muncul dalam headline

oh, warna tubuhnya menjadi jingga tapi langkahnya seperti tupai yang digelandang –tertunduk pasrah memasuki kandang jeruji

Indramayu, 2018


Orasi Bahagia

dalam sebuah demo di bunderan yang ternama itu sang orator berpidato tentang sebuah negeri bahagia tangannya

menunjuk-nunjuk ke atas gumpalan awan seakan di sanalah letak negeri itu adanya isinya mirip kisah yang tertulis dalam kitab suci para nabi

negeri sungai dan telaga tumbuh di bantarannya pohon dengan buah-buahannya dipetik adam dan hawa tanpa pengusiran lagi

orasi itu berlangsung hampir satu jam sehingga orang-orang pergi meninggalkannya memanjat bangunan yang tinggi
menjulang mirip perpaduan lingga dan yoni seolah hendak memanjat pohon langit

mengintipnya dari celah harapan

teropong doa menyaksi begitu mereka pun turun seperti jatuhnya surat sulaiman menyeru pada nama tuhan dalam orasi bahagia

Indramayu, 2018    


Bukan Nabi

barangkali seseorang yang bukan nabi akan diutus di tengah kerumunan orang-orang di hutan moyangku rimbun pepohonan bercabang membawa ruh dalam buntalan kapas putih menyuling getah-getah melekat pada jiwaku  
barangkali ungkap yang terbaca pada bening telaga wajahmu mulai memudar pudar saat musim mengabarkan pesan melalui ranting yang berguguran akan burung-burung terbang tak lagi kembali ke sarang tinggalkan cangkang kosong  
aku sudah belajar mencintai dari ketiadaan kepada ketiadaan  

Indramayu, 2018    


Orasi Suci   

pada unta yang berjalan di padang pasir. Jalanan berubah bentuk dan tak berjejak. Seorang musafir bergulat dengan waktu   jauhnya perjalanan yang ditempuhi. Sedikitnya perbakalan yang disiapkan. Hanya membuat kerongkongan kering kerontang

pasir membakar. Debu mengubur. Angin menghembuskan napas terakhir. Kota perdagangan tiada tertuju. Merugi segari-hari

unta dengan punuk menggunung. Perbekalan di kanan kiri perut. Ziarah mengantarkan musafir pada gemerlap cahaya. Kota abadi  

Indramayu, 2018          


Penulis, Faris Al Faisal lahir dan tinggal di Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. Bergiat di Dewan Kesenian Indramayu. Karya fiksinya adalah novella Bunga Narsis Mazaya Publishing House (2017), Antologi Puisi Bunga Kata Karyapedia Publisher (2017), Kumpulan Cerpen Bunga Rampai Senja di Taman Tjimanoek Karyapedia Publisher (2017), dan Novelet Bingkai Perjalanan LovRinz Publishing (2018) sedangkan karya non fiksinya yaitu Mengenal Rancang Bangun Rumah Adat di Indonesia Penerbit Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2017).   Puisi, cerma, cernak, cerpen dan resensinya tersiar berbagai media cetak dan online seperti Kompas, Tempo, Media Indonesia, Republika, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Lampung Post, Padang Ekspres, Rakyat Sumbar, Radar Cirebon, Radar Surabaya, Radar Sulbar, Radar Banyuwangi, Radar Bromo, Media Jatim, Merapi, Minggu Pagi, Banjarmasin Post, Bali Post, Bangka Pos, Magelang Ekspres, Malang Post, Solopos, Suara NTB, Joglosemar, Tribun Jabar, Tribun Bali, Bhirawa, Koran Pantura, Riau Pos, Tanjungpinang Pos, Fajar Makasar, Serambi Indonesia, Majalah Simalaba, Majalah Hadila, Majalah Suara Muhammadiyah, Tabloid Nova, IDN Times, Sportourism.id, Puan.co, Nyontong.Com, takanta.id, galeribukujakarta.com, SastraPurnama.Com, Simalaba.Net, Jurnal Asia, dan Utusan Borneo Malaysia. Email ffarisalffaisal@gmail.com.