Perjalanan Kelompok Mutiara Cakra Melestarikan Kesenian Tionghoa Keliling Kalbar

Sekadau

Editor sutan Dibaca : 1333

Perjalanan Kelompok Mutiara Cakra Melestarikan Kesenian Tionghoa Keliling Kalbar
ATRAKSI NAGA - Sejumlah warga Kabupaten Sekadau terpukau dengan atraksi naga yang mengelilingi pasar Sekadau. Perjalanan tim naga Apin ini sudah berjalan hingga Nanga Pinoh, Minggu (14/2). (SUARA PEMRED / AKHMAL SETIADI MUSRAN)
Upayanya melestarikan kesenian Tionghoa, yakni liong atau naga patut diacungi jempol. Pria ini padahal sudah lansia. Tapi semangat yang berkobar, membuat kalangan muda gigit jari. “Kami ingin meramaikan, menghibur masyarakat. Ini kan hanya setahun sekali, tidak setiap hari ada,” ujar pria 48 tahun itu yang juga memimpin aksi kelompok Mutiara Cakra, Minggu (14/2).

Sudah seminggu ini, dia dan kelompoknya sambangi berbagai tempat. Di antaranya, Nanga Pinoh, Sintang, Mahap, Sungai Ayak, Ngabang dan saat ini di Sekadau.

Setelah dari Sekadau, Apin berencana untuk ke Sanggau dan memamerkan naga yang ditampilkan kelompoknya berjumlah 19 orang.   Dalam masa perjalanan tersebut, dia dan rekan-rekannya menginap di Pekong.

Tugasnya pun semakin berat, tak hanya mengenalkan kesenian Tionghoa dan mengawasi rekan-rekannya yang lain. Sebab, dia adalah pimpinan dan yang tertua di antara yang lainnya.   “Ini rata-rata usianya 20 tahun ke atas. Tidak ada yang usia sekolah, semuanya sudah bekerja,” ujar ayah dua anak itu yang sudah memimpin sejak 12 tahun lalu.  

Liong merupakan hiburan rakyat yang bisa dinikmati semua etnis tidak hanya Tionghoa saja. Hal ini, semakin menumbuhkan ketertarikannya untuk menjaga dan melestarikan kesenian Tionghoa.  

Mereka akan memamerkan liong itu hingga Cap Go Meh mendatang. Setelah itu, semuanya akan kembali keaktivitasnya masing-masing. “Kalau sudah selesai semuanya akan balik kepekerjaannya masing-masing. Ini kan juga ada yang usaha sendiri, jualan,” ungkapnya.  

Karena kecintaannya terhadap kesenian, Apin tidak perduli seberapa banyak uang yang telah dia keluarkan untuk mendatangi tempat-tempat mereka datangi.  “Bukan dapat uang, yang ada justru keluar uang sendiri. Tetapi, kami tetap senang,” timpalnya.  

Meski kemajuan zaman dan teknologi tidak terbendung lagi, Apin masih yakin jika generasi muda Tionghoa masih memegang teguh kebudayaan yang ada. Dia tidak takut dengan arus globalisasi dapat mempengaruhi generasi muda Tionghoa untuk melupakan kebudayaannya. (akhmal setiadi musran)