Buruh PT MPE Sekadau Tega Cabuli Bocah

Sekadau

Editor sutan Dibaca : 1361

Buruh PT MPE Sekadau Tega Cabuli Bocah
Sarbo, tersangka kasus pencabulan bocah berumur 3,9 tahun diamankan aparat Polres Sekadau, Selasa (17/5). (akhmal setiadi musran)
SEKADAU, SP – Rudi Efendi alias Sarbo (20) buruh PT Multi Perkasa Entakai (MPE) tega mencabuli bocah 3,9 tahun, sebut saja Mawar, tetangganya sendiri. Hasrat buasnya dilakukan saat korban bermain ke rumahnya. Selama ini, kedua orang tua Mawar sudah menganggap pelaku seperti keluarga mereka. “Anak saya memang sudah biasa bermain dengan pelaku, saat kejadian saya ada di rumah. Kami juga tidak menyangka Sarbo tega berbuat seperti itu kepada anak kami,” ucap Ayah Mawar, Selasa (17/5). Tindakan cabul itu, diketahui setelah ibu Mawar sedang memandikan anaknya sekitar pukul 17.30 WIB, Minggu (15/5). Saat itu, Mawar melarang ibunya membersihkan kemaluannya lantaran sakit. “Anak saya bilang jangan pegang kemaluannya. Dia kemudian cerita kalau Sarbo telah melakukan perbuatan yang tak senonoh,” ungkapnya. Setelah melihat kondisi kelamin anaknya secara langsung, korban dibawa ke RSUD Sekadau agar divisum. “Kami berharap pelaku dihukum seberat-beratnya sesuai dengan perbuatan yang dia lakukan,” ucapnya. Tetangga korban, Sari mengaku kaget dengan kejadian tersebut. Terlebih selama ini dirinya hanya mendengar dan melihat di media mengenai kasus kekerasan atau pemerkosaan terhadap anak di bawah umur. “Ya terkejut sekali. Biasa melihat hanya di televisi ini malah justru di lingkungan sendiri,” ungkapnya. Pasca kasus tersebut, Sari yang mempunyai anak berusia 8 tahun sempat merasa takut. Untuk itu, dia berharap pelaku diberikan hukuman yang sesuai dengan perbuatannya. “Saya sebagai orang tua tentu tidak ingin kejadian serupa menimpa anak sendiri. Pasti akan lebih ekstra lagi untuk menjaga anak-anak,” pungkasnya. Informasi yang dihimpun, Sarbo baru dua bulan bekerja di perusahaan tersebut sebagai pemanen buah sawit. Menurut penuturan tetangga dan pihak keamanan perusahaan, Sarbo dikenal sebagai orang yang tertutup dan jarang bergaul dengan tetangga yang lainnya. Ditemui di Mapolres Sekadau, Sarbo mengaku perbuatannya akibat terangsang saat menonton video erotis yang ada di handphone miliknya. Dia mengaku, perbuatan itu pertama kali dia lakukan terhadap Mawar. “Hari Minggu, sekitar pukul 15.00 WIB, saat itu saya sedang menonton video lagu erotis di handpone lalu korban datang bermain ke rumah saya. Dia pun mencoba mengambil handphone saya, kemaluan saya justru tersentuh oleh korban sehingga saya melakukan perbuatan itu. Saya khilaf,” kata dia. Perbuatannya, dia lakukan di dapur rumahnya. “Saya tidak membekap korban,” ujarnya. Setelah diamankan oleh pihak kepolisian, Sarbo mengaku menyesali perbuatan yang telah dilakukannya itu. Kapolres Sekadau, AKBP Muslikhun mengatakan pihaknya menerima laporan tersebut, pada Senin (16/5). Setelah itu, pelaku pun diamankan. Dikatakannya, berdasarkan hasil visum oleh dokter ditemukan adanya kekerasan dikemaluan korban. Pelaku akan diancam Pasal 82 Ayat 1 Sub Pasal 76 huruf e Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman minimal 5 tahun dan paling lama 15 tahun penjara. Untuk mencegah kejadian serupa, Muslikhun mengimbau agar warga selalu berhati-hati. Dia pun mewanti-wanti agar orang tua agar tidak mudah memposting foto anaknya tanpa mengenakan pakaian di media sosial. Hukum Kebiri Terpisah, Anggota Komisi A, DPRD Kabupaten Sekadau, Aron mengaku prihatin dengan adanya kasus pencabulan terhadap anak di Sekadau. Dia juga meminta agar pelaku tersebut diberikan hukuman yang berat. “Lakukan hukuman kebiri bagi pelaku pemerkosaan terhadap anak di bawah umur. Tujuannya untuk melindungi anak-anak sehingga ada efek jera,” ujarnya. Politisi Partai Demokrat itu menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, kata dia, anak-anak dibina dan diberikan perlindungan. Namun, yang terjadi anak justru menjadi korban kekerasan atau pencabulan. “Kasus ini tentu membuat malu daerah. Untuk itu kami mengimbau tokoh masyarakat serta pemerintah melalui bidang perlindungan anak untuk melakukan sosialisasi keseluruh kecamatan. Paling tidak untuk meminimalisir jangan sampai kasus ini terjadi lagi,” pungkasnya. (akh/and/sut)