4 Bulan, 40 Kasus DBD di Sekadau

Sekadau

Editor Kiwi Dibaca : 618

4 Bulan, 40 Kasus DBD di Sekadau
FOGGING – Seorang petugas melakukan fogging di halaman rumah warga. Di Sekadau, jumlah penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) sepanjang tahun 2017 ini hingga bulan April mencapai 40 warga. (Net)
SEKADAU, SP – Sebanyak 40 warga Sekadau disebut menderita Demam Berdarah Dengeu (DBD) sepanjang kurun waktu Januari hingga April tahun 2017. Untuk itu, Dinas Kesehatan Sekadau meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan diri terutama menjaga lingkungan tetap bersih.

Anjas Asmara, Kepala Bidang Perencanaan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Sekadau memaparkan, penderita DBD terbanyak berasal dari Kecamatan Sekadau Hilir dan Sungai Ayak.

“Jadi masyarakat diminta untuk mewaspadai wabah demam berdarah. Di awal tahun ini 40 kasus telah terjadi di sejumlah kecamatan yang ada di Sekadau,” kata Anjas, Jumat (5/5).

Dia merincikan, dari 40 kasus tersebut 17 kasus tercatat terjadi di Sekadau Hilir, 15 kasus di Sungai Ayak. Sementara di Rawak dan Nanga Belitang masing-masing tiga kasus. “Daerah Simpang Empat satu kasus dan SD 3 Trans ada satu kasus,” ucapnya.

Terkait pencegahan, Dinas Kesehatan telah melakukan fogging di 26 kawasan rentan DBD. Namun tentunya penyemprotan untuk memberantas nyamuk lebih diutamakan di wilayah yang ada kasus. “Ini bentuk upaya penanggulangan agar tidak semakin banyak awarga yang terserang,” tuturnya.


Namun demikian, dari 40 kasus DBD tersebut seluruhnya berhasil dilakukan perawatan medis dan telah dinyatakan sembuh. “Warga penderita telah pulang ke rumahnya masing-masing setelah melakukan perawatan. Tidak ada korban jiwa. Semua sembuh,” jelasnya.

Anjas mengimbau warga untuk selalu waspada terhadap bahaya DBD yang bisa saja sewaktu-waktu mengancam. Untuk pencegahan, warga diminta memberantas tempat-tempat atau wadah air yang menjadi sarang berkembang biak nyamuk. 
Dinas juga telah merancang pembentukan Juru Pemantau Jentik.

Anggotanya akan melibatkan masyarakat yang nantinya dibekali kemampuan membasmi jentik-jentik nyamuk.

“Dalam waktu dekat ini akan dibentuk. Kalau bisa satu kepala keluarga satu orang. Nanti ada pelatihannya untuk mereka,” ungkapnya. Ajas berharap, masyarakat tidak menganggap remeh penyakit DBD. Jika ada sank keluarga yang mengalami demam panas tinggi, diminta segera memeriksakan kesehatannya di rumah sakit terdekat.

“Kami meminta masyarakat tidak menganggap demam adalah hal yang biasa. Jika sudah terjadinya demam, apalagi mendekati ciri-ciri DBD masyarakat bisa memeriksakan diri agar bisa diantisipasi secara dini,” ujarnya.

“Kalau demam, apalagi sudah timbul ruam bisa memeriksakan diri di Puskesmas. Di setiap Puskesmas, untuk tes DBD sudah ada, jadi bersama-sama mengantisipasi itu semua,” timpalnya.

Pelaksana Tugas Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sekadau, Henry Alpius mengatakan, sejumlah kasus DBD memang pernah ditangani dalam beberapa waktu terakhir. Namun belum ada pasien yang sampai menjalani rawat inap.

“Lebih banyak di poli. Baru demam dengue, belum ada yang dengue hemorhagic fever (DHF),” ujarnya. Sementara itu, Mulyadi Alip, Anggota Komisi C DPRD Sekadau menyayangkan jumlah 40 kasus penderita DBD sepanjang 2017 ini. Menurut dia, jika Dinas Kesehatan Sigap, sebenarnya jumlah penderita tidak akan sebanyak itu. “Kita sangat sayangkan terjadinya 40 kasus DBD itu,” kata Mulyadi.

Dia berharap, Dinas Kesehatan harusnya segera melakukan antisipasi dini pencegahan menyebarnya DBD di tengah masyarakat.

“Dan juga dinas harus belajar dari pengalaman sebelumnya bagaimana mengatasi dan mengantisipasi terjadinya gejala DBD itu," ujarnya. Penyakit DBD disebut sangat bahaya.

Menurut Mulyadi, tak sedikit warga Sekadau yang telah meninggal dunia akibat menderita DBD. "Saran saya dinas harus bertindak, jangan sampai penyakit ini bisa mewabah kemana-mana. Intinya kita minta perhatian khusus apalagi saat ini musim hujan," pungkasnya. (akh/ang)

Komentar