Kasus DBD di Tujuh Desa Sekadau Menurun

Sekadau

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 166

Kasus DBD di Tujuh Desa Sekadau Menurun
FOGGING - Petugas tengah melakukan pengasapan (fogging) untuk membasmi nyamuk aedes agyepti penyebab demam berdarah. Kasus DBD di tujuh desa di Sekadau tahun ini dinilai mengalami penurunan. Ist
SEKADAU, SP – Jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah Puskesmas Sekadau tahun 2017 menurun dibandingkan tahun 2016.

Tercatat hingga akhir 2017, kasus DBD yang tercatat di Puskesmas Sekadau sebanyak 24 kasus. Sedangkan di periode yang sama tahun 2016, kasus DBD yang terjadi sebayak 42 kasus.

Meskipun demikan, warga diimbau untuk tetap waspada terhadap ancaman DBD, mengingat Sekadau saat ini masih dalam kondisi penghujan yang akan diikuti dengan perkembangan nyamuk aedes aegypti penyebab demam berdarah.

Kepala Puskesmas Sekadau, Radiok menjelaskan dari tujuh desa di wilayah kerja yang masuk wilayah Kerja Puskesmas Sekadau, 14 kasus DBD ditemukan di Desa Mungguk .

“Desa Sungai Ringin tujuh kasus dan Sungai Kunyit ada tiga kasus DBD,” jelasnya, Selasa (22/11).

Desa Mungguk menurutnya merupakan kawasan yang paling rentan penyebaran DBD. Di tahun sebelumnya, desa ini juga menjadi daerah terbanyak kasus DBD. Tercatat terdapat 21 kasus DBD di sana, disusul Desa Sungai Ringin sebanyak 18 kasus. 

“Kemudian Seberang Kapuas ada satu kasus dan Peniti sebanyak dua kasus DBD pada tahun lalu,” ungkapnya.

Menurut Radiok, kesadaran masyarakat untuk menerapkan pola hidup bersih di lingkungannya semakin meningkat. Masyarakat juga tanggap melaporkan kasus DBD ke pihaknya jika ada warga yang menderita DBD.

“Kami juga mengimbau masyarakat selalu proaktif meningkatkan kesehatan lingkunganya sebagai upaya pencegahan DBD,” pungkasnya. (akh)

Sementara Camat Sekadau Gilir, Safi’I Yanto mengajak warganya untuk menerapkan kegiatan Jumat Bersih setiap minggunya.

“Karena mengantisipasi DBD ini harus dilakukan mulai dari bawah hingga tingkat atas,” pungkasnya. (akh/jee)