PGRI Dorong Guru di Sekadau Sesuaikan Pola Ajar

Sekadau

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 106

PGRI Dorong Guru di Sekadau Sesuaikan Pola Ajar
Sekjen PGRI, M Qudrat Nugraha
SEKADAU, SP - Berbagai kasus penganiayaan terhadap tenaga pendidik telah kerap terjadi, bahkan hingga meninggal dunia. Ada juga guru berhadapan dengan hukum karena dilaporkan kepada pihak berwajib. Hal inilah yang menjadi perhatian Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Sekjen PGRI, M Qudrat Nugraha menuturkan, di era milenial saat ini guru dituntut merubah cara mengajarnya. Hal ini sejalan dengan transformasi kebudayaan dan teknologi. Sehingga, menuntut guru untuk membuka diri.

“Guru bisa jadi korban, atau guru mungkin tidak cocok lagi mengajar seperti zaman dulu. Misalnya, menjewer anak zaman dulu sepertinya tidak apa-apa, kalau sekarang bisa jadi kasus,” kata Qudrat saat mengunjungi Sekadau, baru-baru ini.

Ia mengatakan, untuk PGRI terdepan untuk memberitahu dan membina guru. Hal itu sesuai dengan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

“Kalau ada yang sedikit offside, sesuai dengan amanat undang-undang, PGRI akan tetap membela guru dalam memperoleh keadilan seadil-adilnya. Jadi, harus melindungi untuk memperoleh keadilan,” ucapnya.

Bahkan, guru ada yang meninggal. Ia menilai lebih banyak guru yang menjadi korban dibandingkan melakukan kesalahan. Menurutnya, anak-anak yang bermasalah di sekolah umumnya memiliki masalah di rumah.

“Tidak ada anak-anak yang baik di rumah bikin masalah di sekolah. Maaf, bukan ingin menyalahkan orangtua. Kami sedih, kadang sekolah menjadi tumpahan untuk memperbaiki mereka, ini fakta bukan ingin menyalahkan orangtua,” tuturnya.

Qudrat meminta agar guru selalu update diri. PGRI selalu mengadakan pembinaan, workshop sebagai upaya merubah paradigma guru dalam mengajar.

“Kita sudah mengarah ke digital pedagogi, nanti guru tidak lagi bersentuhan dengan siswa. Berdasarkan amanah Presiden, guru akan akan mendampingi dengan penguatan pendidikan karakter sesuai Perpres Nomor 87 Tahun 2017,” jelasnya.

Menurutnya, hal itu merupakan restorasi dan reformasi di bidang pendidikan. Hal ini, wujud dalam mempersoapkan generasi emas 2045 mendatang agar mampu bersaing.

“Apalah arti pintar, apalah arti smart, kalau tidak punya karakter? Itu adalah tanggung jawab semua guru, tanggung jawab sekolah dan masyarakat,” kata dia.

Sementara itu, Ketua PGRI Kalbar, Prof Samion berharap, kasus-kasus guru, baik itu guru terhadap murid, murid terhadap guru maupun orangtua terhadap guru tidak lagi terjadi. Ia mengatakan, pengurus PGRI harus peduli terhadap kasus-kasus guru.

“PGRI juga mengawal dan mendampingi bila ada kasus terhadap guru. Ada juga bantuan hukumnya,” ungkapnya.

Ia mengatakan, tentu dalam penyelesaian masalah tersebut mengedepankan musyawarah dan kekeluargaan. “Kalau tidak bisa, ikuti proses yang berlaku di negara ini,” pungkasnya. (akh/ang)