DBD di Sekadau Kembali Marak

Sekadau

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 117

DBD di Sekadau Kembali Marak
Ilustrasi. (Net)
SEKADAU, SP - Belakangan ini, kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Sekadau kembali marak.  Beberapa bulan terakhir ini sudah puluhan pasien DBD  yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Sekadau .

Plt Direktur RSUD Sekadau, Henry Alpius menuturkan, beberapa bulan terakhir ini kasus DBD di Sekadau, khususnya yang dialami pasien di RSUD Sekadau, sedang terjadi peningkatan . Pada Februari hingga saat ini sudah tercatat 20 pasien yang dirawat di RSUD Sekadau.

“Hampir setiap hari ada kasus yang rawat jalan dan di Unit Gawat Darurat (UGD),” ujarnya, kepada Suara Pemred, Selasa (22/5).

Pihaknya, telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Sekadau,  untuk melakukan langkah dan upaya dini penanganan agar kasus DBD ini tidak semakin meningkat. Ia juga mengimbau peran serta masyarakat untuk bersama-sama melakukan upaya pencegahan. Salah satu yang dapat dilakukan masyarakat, yaitu menjaga kebersihan lingkungan.

“Masyarakat bisa melakukan 3M plus. Tidur menggunakan kelambu dan bisa menggunakan lotion anti nyamuk. Jika demam, jangan dianggap biasa dan harus dipastikan apakah DBD atau bukan,” tuturnya.

Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Sekadau, St Emanuel mengungkapkan, pihaknya berupaya untuk menekan terjadinya peningkatan kasus DBD tahun ini. Pihaknya telah mengadakan penyuluhan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat.

“Kemudian, pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan kegiatan fogging apabila ada ditemukan kasus DBD,” ungkapnya.

Namun, kata dia,  perlu pengertian dan pemahaman dari semua lapisan masyarakat. Sebab, fogging dinilai kurang efektif lantaran fogging hanya membunuh nyamuk dewasa saja. Untuk itu, ia juga  mengimbau masyarakat mengenai pentingnya kebersihan lingkungan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). 

Dijelaskannya, ada empat faktor yang mempengaruhi terjadinya penyakit. Pertama lingkungan sebesar 40 persen, kedua perilaku sebesar 30 persen, pelayanan kesehatan sebesar 20 persen dan keturunan sebesar 10 persen.

“Dari dua faktor terbesar itu ada ditangan individu. Maka harapan kami sebagai pelayanan kesehatan, untuk menekan kasus tersebut mari dikeluarga berbuat dengan melakukan 3M plus. Mendaur ulang barang-barang bekas, seperti kaleng bekas, menguras bak-bak air, serta menutup rapat tempat penampungan air,” pungkasnya. (akh/jek)