Tradisi Perang Meriam Karbit Gunakan Sampan, Semarak Hari Raya Idulfitri 1439 di Sekadau

Sekadau

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 111

Tradisi Perang Meriam Karbit Gunakan Sampan, Semarak Hari Raya Idulfitri 1439 di Sekadau
PERANG BEDIL - Sejumlah warga dari desa Tanjung, Sungai Ringin dan Mungguk mengikuti lomba perang bedil di Sungai Sekadau. Hal ini dilakukan dalam rangka memeriahkan hari raya idul fitri 1439 Hijriah. (SP/Akhmal)
Suasana hari raya idul fitri 1439 Hijirah di Kabupaten Sekadau semakin semarak dengan perang meriam atau yang disebut bedil. Menariknya, perang bedil tersebut dilakukan menggunakan sampan oleh sejumlah warga di Sungai Sekadau.

SP - Perang bedil ini rupanya menarik minat masyarakat untuk menyaksikannya dari bantaran Sungai Sekadau. Perang bedil merupakan ajang tahunan sudah menjadi tradisi yang dilakukan setiap tahunnya.

Sejumlah warga Desa Mungguk dan Tanjung, Kecamatan Sekadau Hilir mengayuh sampannya masing-masing. Dalam sampan tersebut terdapat dua hingga tiga orang, dimana satu orang yang menyalakan bedil dan satu atau dua orang lainnya mengayuh sampan.

Bahkan, meriam yang dibuat dari bambu dan juga kaleng itu diarahkan tepat kepada ‘lawan’ dalam perang tersebut. Seperti medan perang diatas air, perang bedil ini menjadi tontonan menarik bagi masyarakat lainnya.

Koordinator Meriam Karbit Kampung Tebal, Desa Sungai Ringin, Abang Akbardin menuturkan, secara bergiliran pihaknya menjadi pengurus kelompok meriam karbit. Hal ini, kata dia, dalam rangka menyambut hari raya idul fitri.

“Sudah dari dulu setiap menyambut ramadan dan idul fitri pasti membuat bedil dan meriam karbit. Sudah membudaya dan ini tetap kami lestarikan,” ujarnya.

Ia mengatakan, untuk membuat bedil dan meriam karbit pihaknya bergotong-royong bersama masyarakat setempat. Untuk membuat bedil, menggunakan kaleng cat yang lumayan besar. Sedangan, untuk meriam karbit menggunakan kayu durian.

Untuk itu, ia berharap kegiatan tersebut bisa terus eksis. Mengingat, empat tahun lalu diadakan festival meriam karbit dan perang bedil di Sungai Sekadau. Kegiatan yang dilakukan itu, kata dia, tetap memperhatikan aturan yang ada.

“Karena ini juga menjadi potensi wisata agar khazanah budaya masyarakat melayu bisa terus dilestarikan dengan baik,” ucapnya.

Hal Senada dengan Abang Rudi Hartono dari Moslem Forever Kampung Sewa' Desa Mungguk mengatakan, aktivitas yang dilakukan masyarakat dalam momen lebaran tahun 2018 ini adalah sebuah simbol aset budaya di kabupaten sekadau.

"Karena perang bedil dan membuat meriam karbit sudah ditanamkan dari orang tua terdahulu dan masih diterapkan hingga saat ini saat penyambutan bulan ramadhan,"ujarnya.

Abo Lolo sapaan akrab Abang Rudi Hartono, berpesan agar seluruh elemen masyarakat dalam hal merayakan idul fitri dengan penuh semangat lahir dan bathin. "Agar sebulan penuh menjalani bulan puasa ramadhan bisa membuat hari kemenangan ini menjadi berkah dan diberikan rido dari Allah swt, dan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari tentu berpegang teguh pada syariat dan sunnah rosul,"pungkasnya.

Kepala Desa Sungai Ringin Abdul Hamid mengatakan, perayaan idul fitri di desanya khususnya di wilayah bantaran sungai kapuas maupun sungai sekadau dilakukan dengan merias lingkungan dengan motif-motif islami dan membuat meriam karbit.

"Di Kampung tebal (wilayah sungai ringin), itu sering membuat Meriam karbit untuk memeriahkan idul fitri. Masyarakat sekitar memang sudah membudaya membuat itu,"ujarnya.

Anyang sapaan akrab Abdul Hamid menuturkan, pihaknya juga tidak membatasi masyarakat untuk melakukan apapun ketika memeriahkan perayaan keagamaan, baik Islam, Katholik, Budha, Hindu, Konghucu, Kristen, dan lainnya. 

"Karena di Desa Sungai Ringin masyarakatnya majemuk, memang secara mayoritas islam. Dan kita Pemerintah Desa juga sering melakukan bantuan kepada kelompok penyelenggara meriam karbit agar kelompok ini diberdayakan dengan baik,"ungkapnya.

Harapannya, kata dia, perayaan meriam karbit ini bisa terus dilakukan dan tentu kedepan akan ada festival yang menunjukan hasanah budaya masyarakat melayu (islam) sekadau.

"Ini juga harus dilirik Pemerintah Kabupaten, agar iventarisir aset budaya ini tidak punah tentu peran dan fungsi Pemkab sangatlah diharapkan, minimal membuat festival dan perlombaan budaya lainnya," tuturnya.

Kepala Desa Tanjung, Syamsudin mengatakan, makna dari perang tersebut adalah rasa kemenangan setelah menjalankan puasa sebulan lamanya. Ia mengatakan, meriam karbit dan bedil dilakukan setiap tahunnya.

“Sudah ada kelompok meriam karbit dan bedil dari dulu. Membudaya hingga saat ini,” ungkapnya.

“Kami dari Pemdes Tanjung berupaya membantu dalam hal memberdayakan kelompok tersebut agar tetap eksis,” sambungnya.

Pihaknya berkomitmen terus meningkatkan pemberdayaan kelompok tersebut. Dikatakannya, tak hanya budaya itu saja, melaikan juga tari melayu, hadrah, syair, berpantun dan seni lainnya.

“Nah, ini akan terus diberdayakan agar Desa Tanjung bisa menjadi brand Sekadau khususnya meningkatkan budaya melayu,” pungkasnya. (akhmal setiadi/jek)