Anak Korban: Tak Mungkin Ibu Berkata Kasar

Sekadau

Editor Angga Haksoro Dibaca : 158

Anak Korban: Tak Mungkin Ibu Berkata Kasar
Tempat kejadian perkara pembunuhan Supinah
Sekadau, SP - Kematian Supinah dengan cara yang tragis menyisakan duka bagi keluarga. Kendati demikian, pihak keluarga mengaku ikhlas dengan kepergian almarhumah.

“Kami sekeluarga insya Allah ikhlas. Kami tidak bisa menutupi jika musibah ini membuat kami terpukul dan sangat berduka,” kata Agus, salah seorang anak korban, Kamis (4/10).

Agus yang juga jurnalis Kapuas Post biro Sintang mengaku bersyukur akhirnya pelaku ditangkap. Ini berkat kerja keras Satreskrim Polres Sekadau yang di-backup Polsek Mandor dan jajaran Polda Kalimantan Barat.

“Keberhasilan ini tak terlepas dukungan dan doa keluarga, tetangga, masyarakat dan jajaran kepolisian. Kepada rekan-rekan media, kami juga berterima kasih atas dukungan dan doanya. Berkat informasinya, masyarakat yang membaca membantu dukungan doa,” tambah Agus.

Agus mengatakan, keberhasilan polisi mengungkap pelaku membuat pihak keluarga tegar dan ikhlas. Keluarga juga menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada kepolisian dan akan membantu memberikan informasi yang dibutuhkan hingga pelaku mendapatkan putusan hukum tetap.

“Kami tidak bisa menuntut pelaku atau bahkan membalas kekejian dengan kekejian. Tuntutan dan putusan kami serahkan sepenuhnya di pengadilan. Kami sebagai korban hanya berharap hukum ditegakan dan pelaku diganjarkan hukuman maksimal,” ujar Agus.

Menurut Agus, tersangka Suheri terhitung masih kerabat jauh. Ibunya sudah hampir 3 tahun tidak pernah bertemu Suheri. “Pernyataan (tersangka) sering diejek tentu sangat tidak mungkin. Ibu di mata kami sosok yang tidak banyak bicara, pendiam, dan tidak pernah mengumpat kata kotor sekalipun itu marah dengan anaknya. Almarhumah juga tidak pernah mencampuri urusan orang lain,” kata Agus.

Kapolres Sekadau, AKBP Anggon Salazar Tarmizi mengatakan tersangka mengakui perbuatannya. Namun untuk memastikan terjadinya tindak kejahatan, polisi akan melakukan gelar perkara. “Kami tidak mau hanya berdasarkan pengakuan yang bersangkutan. Pasal 184 tidak ada nilainya jika hanya pengakuan yang bersangkutan,” ujar Anggon. (akh)