Minggu, 26 Januari 2020


Warga Gunakan Rakit untuk Menyeberang

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 78
Warga Gunakan Rakit untuk Menyeberang

RAKIT – Sebuah Rakit bolak-balik mengantar warga yang ingin menyeberang Sungai Meragun. Rakit ini menjadi alat menyeberang bagi warga pasca putusnya Jembatan Sungai Meragun karena diterjang banjir bandang pada 6 Desember 2019 lalu. SUARA PEMRED/AKHMAL

SEKADAU, SP – Pasca putusnya Jembatan Sungai Meragun akibat diterjang banjir bandang pada 6 Desember 2019 lalu, masyarakat di Desa Meragun, Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau, kini hanya bisa mengandalkan rakit untuk menyeberang sungai. 

Rakit tersebut menjadi satu-satunya alat bagi masyarakat setempat untuk menyeberangi sungai. Saban hari, petugas atau juru mudi rakit, bolak-balik mengantar warga yang ingin menyeberang. Ada dua dusun yang berada di seberang sungai itu, yakni Kelampuk dan Ladak. 

Salah seorang warga yang membawa rakit, Albertus mengungkapkan, rakit tersebut dibuat atas inisiatif pihak desa. Sehingga, akses transportasi masyarakat bisa berjalan normal, kendati hanya menggunakan rakit yang dibuat menggunakan kayu dan bambu. 

“Ada motor, pejalan kaki, anak sekolah. Rakit beroperasi mulai pukul 06.00 WIB hingga 18.00 WIB,” kata Albertus, Rabu (8/1). 

Sehari, kata Albertus, sepeda motor yang naik rakit itu mencapai 50 unit. Ia menambahkan, anak sekolah gratis naik rakit, sedangkan masyarakat umum yang membawa sepeda motor dikenakan tarif sebesar Rp5 ribu.

“Kalau pulang pergi (PP) Rp10 ribu. Hanya motor, kalau orang ndak bayar. Harapan kami sebagai masyarakat, jembatan yang roboh bisa cepat dibangun. Supaya masyarakat bisa melewati akses yang nyaman, untuk membawa karet atau durian,” ucap Albertus. 

Sementara itu, Kepala Desa Meragun, Ima Kulata mengatakan, rakit tersebut dibuat untuk memperlancar akses transportasi masyarakat pasca putusnya Jembatan Sungai Meragun. 

Sebab, kata dia, masyarakat kesulitan menyeberangi sungai dan putusnya jembatan itu membuat akses transportasi masyarakat terhambat.

Jembatan Sungai Meragun yang putus diterjang banding bandang memiliki panjang 40 meter dengan lebar 1,5 meter. 

“Sementara ini untuk memperlancar akses masyarakat kami membuat rakit,” ungkap Ima. 

Menurut Ima, pihaknya sudah mengajukan proposal yang disampaikan ke BPBD Kabupaten Sekadau. Ia berharap, kondisi tersebut dapat segera ditangani.

 “Kami berharap secepatnya ditangani,” harapnya.

Seperti diketahui, tercatat ada sebelas unit bangunan jembatan milik aset Pemkab Sekadau yang rusak akibat diterjang banjir, beberapa waktu lalu.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Sekadau, Akhmad Suryadi mengungkapkan, sebelas jembatan yang rusak berlokasi di tiga kecamatan.

"Masing-masing Sekadau Hulu sebanyak dua unit, Nanga Taman delapan unit, dan Nanga Mahap satu unit," kata Akhmad, belum lama ini.

Untuk kecamatan Sekadau Hulu, jembatan yang rusak adalah Jembatan Segiam dan Jembatan Gantung Nanga Biaban.

Kecamatan Nanga Taman yang terbanyak yakni, Jembatan Gantung Kenolan, Jembatan Sungai Meragun, Jembatan Sungai Taman, Dusun Meragun, Jembatan Sungai Taman, Dusun Kelampuk, Jembatan Gantung Lubuk Tajau, Jembatan Gantung Sungai Mentuka, Jembatan Gantung Sungai Kitai dan Jembatan Batu Jato.

“Sedangkan di Kecamatan Nanga Mahap yakni Jembatan Gantung Setugal yang rusak parah. Banjir juga merusak jalan utama dari Pantok menuju Batu Jato dengan kerusakan berupa longsor sepanjang lebih kurang lebih 500 meter," ungkap Akhmad.

Untuk menanggulangi kerusakan tersebut, Pemkab Sekadau bersama DPRD serta PDAM Sirin Meragun melakukan rapat tanggap bencana yang berlangsung di ruang rapat Ketua DPRD Sekadau, Selasa (10/12). Hasilnya, kerusakan jembatan dan jalan akibat banjir akan ditanggulangi melalui dana darurat yang posnya berada di Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah. (akh)

Pipa Induk PDAM Rusak

Tak hanya jembatan, banjir bandang yang melanda Desa Meragun, Kecamatan Nanga Taman, pada  6 Desember 2019 lalu mengakibatkan berbagai infrastruktur penting lainnya rusak. Salah satunya pipa induk PDAM Sirin Meragun di intake Meragun. 

Akibatnya, penyaluran air bersih untuk warga terkendala dan hingga saat ini air PDAM belum dapat mengaliri rumah-rumah warga.

Menindaklanjuti hal tersebut, tujuh tujuh anggota DPRD Kabupaten Sekadau meninjau ke lokasi intake PDAM Sirin Meragun, Senin (6/1) kemarin. Peninjauan dilakukan sebagai respon atas banyaknya keluhan dari masyarakat.

“Kami berterima kasih kepada pihak PDAM yang sudah mendampingi untuk meninjau langsung. Kami banyak mendapat keluh kesah dari masyarakat. Mengapa air PDAM belum mengalir hingga sekarang?,” kata Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Sekadau, Yodi Setiawan di lokasi intake Meragun.

Pasca peristiwa tersebut, pihak PDAM Sirin Meragun mengaku terus melakukan perbaikan. Medan yang sulit menuju ke kawasan Bukit Raya itu cukup menjadi kendala tersendiri. Selain berbukit, jarak yang harus ditempuh pun cukup jauh. 

“Saat ini musim hujan, ini jadi kendala mereka untuk menyambung pia-pipa itu. Kalau hujan kan mereka tidak bisa kerja,” ucapnya. 

Politisi Fraksi Partai Gerindra itu mengatakan, untuk kembali normal memang belum bisa diprediksi dan pengerjaannya membutuhkan waktu. Untuk itu, Yodi berharap, masyarakat bisa bersabar, apalagi pihak PDAM sudah menyiapkan plan B. 

Direktur PDAM Sirin Meragun, Yok Kelak mengatakan, pihaknya terus berusaha segera memperbaiki dan mobilisasi material untuk perbaikan. 

“Kami bentuk 2 tim, karena tujuan kita agar air mengalir, rata-rata petugas yang mengerjakan 20-25 orang dan dibantu oleh masyarakat,” beber Yok. 

Langkah PDAM sementara ini menggunakan pipa lama yang disambungkan dan dibenamkan di sungai. Sehingga air mulai mengalir dan bisa dinikmati oleh sebagian masyarakat, pada Minggu (5/1) malam kemarin. 

“Maksud kami, untuk yang sementara ini jalan (air, red) kepada masyarakat, kami juga bisa bekerja dengan tenang,” pungkas Yok. (akh)