Sembahyang Minta Restu Sebelum Ritual Cuci Jalan di Kota Singkawang, Kalbar (bagian pertama)

Singkawang

Editor sutan Dibaca : 1710

Sembahyang Minta Restu Sebelum Ritual Cuci Jalan  di Kota Singkawang, Kalbar (bagian pertama)
RITUAL CUCI JALAN – Seorang tatung melakukan sembahyang di dalam Vihara Tri Dharma Bumi Raya, sebelum melakukan cuci jalan. Ritual cuci jalan harus dilakukan sehari sebelum perayaan Cap Go Meh berlangsung, Senin (22/2). SUARA PEMRED/YODI RISMANA
Menjelang perayaan Cap Go Meh, para tatung mendatangi Tua Pekong atau Klenteng Tri Dharma Bumi Raya yang berada tepat di jantung Kota Singkawang. Bunyi tetabuhan dari tambur dan simbal, tiada henti mengiringi sembahyang para sang tatung.

Ada yang selalu terulang setiap tahun di Klenteng Tri Dharma Bumi Singkawang, menjelang dan selama Cap Go Meh atau hari ke 15 setelah Imlek. Wilayah itu menjadi pusat keramaian. Bunyi tetabuhan dan derap keriuhan mengiringi para manusia sakti menyambut ‘Hari Raya’. Ya, para tatung akan mendatangi klenteng di pusat kota ini, melaksanakan ritual atau sembahyang.

Bunyi tambur dan simbal mewarnai kedatangan para tatung yang diarak di atas altar menuju Vihara. Ada satu ritual yang mesti dilakukan, menjelang Cap Go Meh. Ritual itu biasa disebut dengan ritual cuci jalan.

Ritual itu bertujuan menyucikan jalan yang bakal dilalui para tatung, sebelum Cap Go Meh berlangsung. Tujuannya, menyucikan jalan dan lingkungan tersebut dari ruh-ruh jahat atau menganggu.  

Para tatung yang nantinya akan beraksi saat ritual Cap Go Meh, terlebih dahulu harus mendapatkan berkah dari klenteng, roh yang menjaga keselamatan penguasa alam semesta.

Seluruh tatung yang datang ke Klenteng Tri Dharma Bumi Singkawang kemarin, dalam keadaan ‘trance’ atau kemasukan roh. Tak heran bila, tatapan matanya terlihat kosong.

Sesekali mereka berteriak, sembari menengadahkan wajahnya ke langit Singkawang. Yang terlihat kelabu dan mendung, setelah sedari pagi diguyur gerimis hujan. "Usai minta berkah, maka Tua Pekong akan mengusir semua roh jahat yang ada di sepanjang jalan yang nantinya akan dilalui para tatung," ujar Bong Chin Nen, tokoh masyarakat Tionghwa Singkawang.

Dalam budaya Tiongkok, terdapat tiga strata dewa. Strata dewa yang pertama dipegang oleh Dewa Bumi dan berkuasa di atas bumi. Kedua, Dewa Alam Sekitar, berkuasa di klenteng atau pekong dan wilayah tertentu. Ketiga dan merupakan strata tertinggi dipegang oleh Dewa Langit sebagai penguasa tunggal. "Dewa Langit ini yang besok saat perayaan Cap Go Meh yang akan diundang," jelasnya.

Untuk mengundang kedatangan Dewa Langit, bukan perkara mudah. Selain dengan ritual khusus, harus juga dibuat altar pemujaan tiga tingkat yang menjadi pertanda tiga tingkatan dewa.

Para tatung yang beraksi pada ritual cuci jalan dan pada festival Cap Go Meh nanti, akan dimasuki oleh berbagai roh. Roh inilah yang nantinya mengarahkan segala tingkah laku para tatung di atas altar. "Jadi, tidak hanya satu roh saja. Tapi akan ada banyak jenis roh yang akan memasuki tubuh para tatung," jelasnya. (eliazer partoguan/lis)