Kismet: Wagub Kalbar Dianggap Tidak Adil

Singkawang

Editor sutan Dibaca : 943

Kismet: Wagub Kalbar Dianggap Tidak Adil
Data Rekap Balita Gizi Buruk (slideshare.net)
SINGKAWANG, SP - Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Kota Singkawang mengatakan,  seharusnya Wakil Gubernur Christiandy Sanjaya tidak hanya menyebutkan wilayahnya saja yang terdapat kasus gizi buruk.

"Kalau mau adil,  jangan hanya menyebut Kota Singkawang
. Kenapa daerah lain tidak disebut, biar adil," kata Ahmad di ruang kerjanya, Jumat (11/3).


Wagub mengatakan hal itu pada pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Kota Singkawang, Selasa (8/3).

Menurut Kismet,  berdasarkan data yang diperolehnya  dari Dinas Kesehatan Kalbar pada 2015, seluruh kabupaten dan  kota di Kalbar ditemukan kasus gizi buruk. 

Di Kabupaten Sambas,  gizi buruk ditemukan sebanyak 17 kasus, Bengkayang 16 kasus, Landak 17 kasus, Mempawah delapan kasus,  Sanggau 30 kasus, Ketapang 53 kasus, Sintang 25 kasus, Kapuas Hulu 112 kasus, Sekadau 2 kasus, Melawi dua kasus, Kayong Utara dua kasus, Kubu Raya 41 kasus, Kota Pontianak 27 kasus dan Singkawang 19 kasus.


Kismet memaparkan,  penyebab gizi buruk  tidak semata-mata karena aspek kesehatan. "Gizi buruk juga disebabkan karena aspek budaya hidup masyarakat," ujarnya.


Kismed menambahkan, jumlah penderita gizi buruk dalam setahun di Singkawang, tumbuh berkisar antara enam hingga tujuh kasus.

"Dalam setahun memang ada sekitar lima sampai tujuh kasuslah," ungkap Kismet.

Dalam penanganan penderita gizi buruk, tambahnya, dibutuhkan penanganan khusus dan membutuhkan waktu yang relatif tidak sebentar.
Pihaknya pun selalu tanggap dalam penanganan gizi buruk.

Bahkan tahun depan akan dibangun pusat rehabilitasi kesehatan yang akan mengatasi masalah gizi di kalangan anak-anak.
Untuk mengatasi gizi buruk di Singkawang, menurutnya,dibutuhkan kerjasama lintas sektoral antardinas.

 "Sektor pertanian dapat memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang pemanfaatan lahan pekarangan untuk kebutuhan konsumsi. Dengan begitu, dinas sosial juga dapat memberikan pembekalan kepada masyarakat," papar Kismet.

Menurut  Kepala Seksi Gizi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Singkawang, Hendri Tri Purwati, ciri-ciri balita penderita gizi buruk secara umum dapat langsung diketahui.  Di antaranya, saat dilakukan penimbangan dua kali berturut-turut,  si balita tidak mengalami kenaikan berat badan. "Kondisi ini bisa juga disebabkan karena gizi buruk," ungkapnya.

Menurut Hendri, penyebab gizi buruk di Singkawang tidak hanya karena masalah gizi. Secara persentase, 50 persen penyebab gizi buruk di Singkawang akibat asupan gizi yang buruk, dan 50 persen lainnya karena penyakit bawaan, seperti TBC dan diare.


"Jadi perbandingannya setengah-setengah," tukasnya. Dia juga menegaskan, dalam pengambilan kasus gizi buruk di Singkawang, pihaknya menggunakan data real yang didapat langsung dari posyandu dan laporan masyarakat. (jee/sut)


Dewan Segera Mengecek 

Kalangan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Singkawang, segera mengecek temuan kasus gizi buruk yang terjadi di kota setempat.

"Saya prihatin masih adanya kasus gizi buruk yang terjadi di kota ini. Mengenai temuan itu, kami akan mengecek langsung di lapangan, jika memang masih ada kasus tersebut, berarti ada kegagalan dalam penanganan kasus gizi buruk di Kota Singkawang," kata Wakil Ketua DPRD Singkawang, Sumberanto Tjitra,  Jumat.

Menurutnya, permasalahan gizi buruk jangan dianggap sepele dan dipandang sebelah mata. Apalagi penanganan kasus ini harus di lakukan instansi terkait. Karena bisa saja disebabkan faktor kemiskinan masyarakat.

Dengan munculnya kasus itu dia berharap agar pemkot melakukan validasi data dan turun langsung ke lapangan. Di samping itu, peran RT juga diharapkan untuk selalu aktif melaporkan temuan kasus ini kepada Pemkot Singkawang. (ant/sut)