Kelompok ISIS asal Kota Singkawang Setahun Menghilang

Singkawang

Editor sutan Dibaca : 1223

Kelompok ISIS asal Kota Singkawang Setahun Menghilang
PETA
PONTIANAK, SP – Detasemen Khusus (Densus) 88 menangkap 14 orang yang diduga akan bergabung dengan Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) yang kini menyebut diri Islamic State (IS).
Menariknya, lima dari 14 orang tersebut, saat didata berasal dari Kota Singkawang, Kalbar. Bahkan, satu di antara warga Singkawang tersebut, diduga berprofesi sebagai guru.


Informasi yang diperoleh Suara Pemred, penangkapan warga diduga ISIS tersebut, bermula dari koordinasi antara Densus 88 dan Kasat Intel Polres Singkawang, diketahui ada lima orang warganya sudah setahun menghilang dari Kota Singkawang.  

Keberadaan mereka tidak diketahui sebelum diamankan oleh Tim Anti Teror (AT) Mabes Polri. Saat ini, WNI asal Singkawang tersebut masih diamankan, guna menjalani pemeriksaan oleh Tim Densus 88 AT Mabes Polri.

Kelimanya diketahui masih satu keluarga berasal dari Singkawang. Mereka adalah sepasang suami-istri, Rosnazizi Khairoman Muksin dan Safitri Arfan Umran. Anak mereka: Murdifin, Aqila Zahidah, dan Adiyat Zofir Rosnazizi.

Satu lagi, justru berprofesi guru, yakni Ya' Muhamad Rizal.
Ya’ Muhammad Rizal, kelahiran Ngabang, 14 April 1984. Ia beralamat di Jalan Yos Sudarso, RT 6 RW 2 Kelurahan Kuala, Singkawang Barat, dan berprofesi sebagai guru SMKN 1 Singkawang.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari mantan istri Rizal, yang namanya enggan dipublikasikan, diketahui bahwa Rizal dan Rosnazizi telah saling kenal sejak lama.

 Dia mengatakan, saat itu suaminya juga pernah mengenalkan Rosnazizi, biasa dipanggil Rosi. "Pernah mengenalkan dengan saya dia bilang ini kawan saya, anaknya baik, agamanya juga bagus. Dia juga sering keluar berdua hingga larut malam," ujarnya.

Dia menceritakan, awalnya suaminya, Rizal merupakan sosok suami yang supel dan memiliki pergaulan umumnya laki-laki biasa. Rizal dikenal memiliki hobi balapan. Rizal dan istrinya menikah pada November 2013.

Perubahan sifat Rizal mulai terlihat ketika usia pernikahan memasuki usia enam bulan. Pada Maret 2015, Rizal bercerai dengan istrinya. Saat itu, Rizal mulai diajak beberapa orang dari luar Singkawang, berdiskusi mengenai jihad di masjid yang ada di sekitar wilayah Kuala, Singkawang.

Rupanya, materi-materi tersebut sangat berpengaruh terhadapnya. "Bicaranya selepas itu selalu tentang ngomong akhirat, orangtua juga diceramahi tentang akhirat," katanya.

Rizal juga mulai melarang istrinya menghadiri acara-acara undangan pernikahan. Bahkan menganggap musik yang ada merupakan sesuatu yang haram.

"Dia bilang ISIS itu benar. Dia juga bilang mau ke Suriah untuk menolong umat muslim di sana," ujar sang istri Rizal.

Tak hanya itu, Rizal bahkan minta sang istri berhenti sebagai pegawai negeri, dan ikut dengannya berangkat ke Suriah. "Dia minta saya harus ikut sebagai istri. Dari situlah akhirnya kami sering bertengkar, kemudian jatuhlah talak cerai," katanya.

Menurutnya, saat itu, Rizal telah dibai'at melalui perantara yang dilakukan seorang ustadz. "Dia mengakui begitu ke saya. Bacaannya merupakan buku-buku mengenai jihad. Dia juga sangat mengagumi Amrozi dan Ba'asyir," ungkapnya.

Ia mengatakan, terakhir berkomunikasi dengan Rizal tahun 2015. Itu pun pembicaraan sebatas urusan perceraian. Kepala Sekolah SMKN 1 Singkawang, Najimi mengatakan, Rizal telah mengundurkan diri sebagai guru di SMKN 1 Singkawang. "Pengajuan pengunduran diri pada pertengahan Februari 2016. Pangkat golongan terakhirnya 2B," jelasnya.

Ia bercerita, gelagat awal Rizal memilih jalannya bergabung ke ISIS telah terlihat. Saat itu, Rizal lebih banyak mengutamakan urusan akhirat, dan banyak mengatakan bahwa sesuatu haram untuk dilakukan, termasuk pekerjaan yang digelutinya. "Akhirnya, kami diskusi dan menganjurkannya berhenti. Dia menyetujui itu," katanya.

Paspor Singkawang

Kepala Seksi (Kasi) Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian (Wasdakim) Kantor Imigrasi Kelas II Singkawang, Jose Rizal membenarkan adanya pembuatan paspor yang digunakan oleh lima orang atas nama Rosnazizi Khairoman Moksin, Safitri Arfan Umran, Murdifin dan Adiyat Zohfir Rosnazizi.

Keempatnya merupakan warga Singkawang yang ditangkap di Bandara Soekarno Hatta oleh pihak kepolisian karena diduga hendak bergabung dengan ISIS di Timur Tengah. "Sedangkan untuk AZ atau Akila Zaihizah yang juga kabarnya ikut ditangkap, ketika kita cari datanya di sistem kita tidak ketemu," katanya, Senin (14/3).

Menurutnya, saat itu alasan mereka melakukan pengurusan paspor untuk kepentingan umroh. Mereka melakukan mengurusan paspor pada 15 Februari 2015. "Jadi, saat sesi wawancara, mereka alasannya untuk umroh sekeluarga. Tapi anehnya saat melakukan pengurusan paspor tidak dilakukan bersamaan,” ujarnya.

Biasanya kalau umroh sekeluarga, pengurusan paspor juga diurus serempak. Dia juga meragukan bahwa Akila Zaihizah dan Murdifin merupakan satu keluarga dengan ketiga orang lainnya.

Pasalnya, saat pengurusan paspor, nama mereka tidak berada dalam satu kartu keluarga. "Jadi nama mereka ini terpisah-pisah. Tidak dalam satu KK, Murdifin ini malah beralamat di Kelurahan Roban, sedangkan Rosnazizi alamatnya di Sedau,” katanya.

Dari penelusuran yang dilakukan terhadap Rosnazizi Khairohman Moksin di Singkawang, diketahui bahwa sebelumnya semasa tinggal di Singkawang, ia sempat membuka bengkel motor.

Selanjutnya, ia bersama keluarganya pindah ke Bekasi, dan melanjutkan usaha serupa. Adik kandung Rosnazizi, Amron (28) yang juga memiliki usaha bengkel motor di Jalan Ratu Sepudak, Sungai Bulan, Kecamatan Singkawang Utara mengatakan, Rosnazizi bersama kelurganya hijrah ke Bekasi sejak dua tahun lalu. "Sudah sekitar dua tahun pindah ke sana. Tapi bulan Desember kemarin sempat pulang," katanya.

Amron saat dijumpai belum mengetahui bahwa, abang kandungnya saat ini tengah ditangkap karena dugaan akan bergabung dengan ISIS. Amron mengatakan, komunikasi terakhir yang pernah dia lakukan dengan Rosnazizi pada bulan lalu, membahas mengenai modifikasi kendaraan bermotor.
"Biasanya menanyakan tentang modifikasi motor. Dia biasa diskusi dengan saya, tidak pernah bicara tentang agama," jelasnya.

Menurutnya, keseharian Rosnazizi wajar saja. Tidak terlihat adanya prilaku yang mengarah akan bergabung dengan organisasi terlarang, ISIS. "Salat ya salat Bang, tidak ada yang aneh. Wajar-wajar saja," ungkapnya.  

Warga Waspada

Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Kota Singkawang, Ahyadi meminta kepada masyarakat di Kota Singkawang untuk mewaspadai masuknya ajaran kelompok ISIS. "Terlebih organisasi terlarang ini menyasar di semua kalangan," katanya di Singkawang.

Menurutnya, kewaspadaan yang harus dilakukan, di antaranya dengan memperkuat keimanan serta wawasan kebangsaan. Guna menangkal pengaruh ajaran terlarang ini, semua elemen termasuk pejabat publik harus memperkuat keimanannya.

"Jangan mudah terpengaruh oleh ajakan yang dapat menyesatkan. Perkuat juga wawasan kebangsaan," ujarnya. 

Di samping itu, sinergitas dan berbagi informasi juga perlu ditingkatkan dalam forum maupun kelompok-kelompok masyarakat. Misalnya, dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Forum Pembaruan Kebangsaan, jajaran Kesbangpol, perlu meningkatkan komunikasi dengan mereka.

Kapolda Kalbar, Brigjen Arief Sulistyanto memastikan bahwa, lima dari 14 warga negara Indonesia yang  ditangkap Densus 88 Mabes Polri di Bandara Internasional Soekarno Hatta Tangerang, adalah warga Singkawang. Ke-14 warga tersebut, sebut Arief diamankan pada saat hendak terbang menuju Syria dengan menggunakan pesawat Air Asia QZ.
 
"Mereka itu diduga kuat hendak bergabung dan menjadi kelompok militan ISIS di Suriah," kata Arief. Kelima orang yang diketahui sepasang suami-istri beserta dua anaknya dan seorang pegawai negeri sipil tersebut, diketahui telah menghilang selama satu tahun dari Singkawang.
"Tidak diketahui keberadaannya di Singkawang, hingga kemudian keberadaannya diketahui pada saat telah diamankan oleh tim anti teror Mabes Polri," ungkapnya.

Sebelumnya, sejumlah warga Indonesia juga ditangkap di Malaysia dan Singapura karena diduga hendak berangkat bergabung dengan ISIS.
Pembaiatan ISIS terjadi di Indonesia setidaknya sejak 2014 lalu. Terus berkembang, akhirnya kelompok radikal ini melakukan serangan teror di kawasan Thamrin, Jakarta, Januari lalu.
(jee/ang/ant/cnn/det/lis)