Polres Singkawang Tetapkan Perawat Puskesmas Tersangka Malapraktik

Singkawang

Editor sutan Dibaca : 798

Polres Singkawang Tetapkan Perawat Puskesmas Tersangka Malapraktik
ILUSTRASI (pinterest.com)
SINGKAWANG, SP - Polres Singkawang menetapkan status tersangka terhadap SH,  petugas perawat polimata saat itu berstatus RO (Refraksionish Oftician). SH sendiri bertugas salah satu puskesmas di Kota Singkawang.

Kapolres Singkawang, AKBP Sandy Alfadin Mustofa melalui Kasat Reskrim Singkawang, AKP Edy Haryanto mengatakan, saat kasusnya dilaporkan oleh korban, sebelumnya SH berstatus saksi.

Setelah melakukan tiga kali gelar perkara, akhirnya SH ditetapkan tersangka. "Setelah kita melakukan pemeriksaan ahli dan saksi mata, kita panggil saksi. Setelah itu dilakukan gelar perkara,” tutur Edy, Senin (13/6).

Dalam melakukan gelar perkara, Kasat Reskrim, Edy mengatakan, pihaknya menghadirkan seluruh kesatuan Polres Singkawang. Saat melakukan pemeriksaan, Kapolres menyarankan agar pemeriksaan yang dilakukan harus sesuai dengan peraturan Kapolri Nomor 14 Tahun 2012, tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana.

"Dalam pemeriksaan kita juga memanggil tiga orang saksi ahli," jelasnya.

Dikarenakan SH berstatus sebagai pegawai negeri sipil (PNS), dalam pemeriksaan, Edy mengatakan, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan pihak walikota Singkawang. "Karena ini pegawai negeri maka dipanggil melalui walikota," ujarnya.


SH sebelumnya dilaporkan oleh Efdi Ibrahim ke Polres Singkawang  pada 18 Desember 2015, dengan nomor laporan: TBL/380/B/XII/2015/Kalbar/Res Skw, karena diduga melakukan tindakan malapraktik terhadap istrinya, Yenny Hestiaty (37).
SH kala itu berstatus sebagai RO di puskesmas. Ia diduga melakukan tindakan pengobatan yang dilarang dan di luar kewenangan.

Di mana saat itu, mata sebelah kiri Yenny mengalami kelilipan dan meminta pengobatan dan bertemu dengan SH. Di sini letak masalahnya. Saat mendianogsa, SH malah menggunakan jarum lembut pada mata Yenny yang berujung kebutaan. Padahal menurut aturan, SH berstatus RO tidak boleh mengambil tindakan, karena status RO adalah ahli kacamata dan bukan dokter mata. SH mestinya menyampaikan hal ini kepada dokter jaga, namun tidak dilakukan.

"Proses hukum ini adalah pilihan yang tepat, berdasarkan bukti-bukti dan telah ditetapkan tersangka oleh Kepolisian. Citra hukum harus ditegakkan, yang bermartabat dan berpihak kepada para pihak yang mencari keadilan," tutur Efdi, suami Yenny.(jee/loh/sut)