Langganan SP 2

Kapolres Singkawang: Kasus Penyebaran Kalender Palu Arit Dihentikan

Singkawang

Editor sutan Dibaca : 731

Kapolres Singkawang: Kasus Penyebaran Kalender Palu Arit Dihentikan
- Polres Singkawang saat melakukan ekspose hasil penyelidikan kalender bergambar palu arit di Kantor Wali Kota Singkawang, Jumat (9/9). (SUARA PEMRED/Abdul Halikurrahman)
SINGKAWANG, SP - Kasus penyebaran kalender bergambar palu arit terhenti,  pada tahap penyelidikan oleh pihak kepolisian. Pasalnya, tidak ditemukan alat bukti yang cukup, untuk dilanjutkan ke tahap penyidikan.

"Sampai saat ini, kesimpulannya memang kita belum mempunyai bukti yang cukup, untuk meningkatkan status kasus ini ke tahap penyidikan," kata AKBP Sandi Alfadien Mustofa, Kapolres Singkawang kepada wartawan, usai gelar ekspose di Kantor Walikota Singkawang, Jumat (9/9).

Kapolres mengungkapkan  berdasarkan rangkaian hasil penyelidikan, melakukan gelar perkara dengan memeriksa sepuluh orang saksi, baik di Polres Singkawang dan Polda Kalbar, dan meminta keterangan saksi ahli, polisi juga tidak menemukan adanya bukti yang cukup.

Menurut kapolres, bagi pihak yang merasa tidak puas, merupakan hal yang wajar. Dia mempersilahkan pihak yang tidak puas, untuk menempuh ke jalur yang benar.

"Masalah tidak puas tentu hal yang wajar. Namun, hukum sudah mengatur bagaimana mekanismenya. Polisi juga mempunyai prosedur sendiri. Kita berharap, masyarakat tetap menjaga kondusifitasnya," tutur Sandi.

Ekspose dihadiri sejumlah tokoh masyarakat, tokoh pemuda, pihak Dandim, Kepala Kejaksaan Negeri Singkawang, asisten tiga pemkot setempat dan saksi ahli Dekan Fakultas Hukum Untan Pontianak.

Sementara itu, Ketua KNPI Kota Singkawang, Kadri merasa tidak mendapatkan sebuah dasar, atas kesimpulan penyelidikan yang dilakukan kepolisian, yang hanya berujung sampai tahap penyelidikan alias dihentikan.

"Jika memang kalender palu arit tersebut, dipasok dari luar negeri, harusnya pihak Bea Cukai yang mempunyai otoritas meloloskan barang dari luar, tentu sudah mendeteksinya," ujar Kadri.

Atas dasar itu, Kadri menduga, kalender bergambar palu arit yang sempat beredar di Singkawang beberapa waktu lalu itu, diproduksi di dalam negeri.

Menurutnya, kalau kalender itu  dipasok dari Tiongkok, kenapa Bea Cukai tidak memeriksanya dan  polisi tidak memeriksa Bea Cukai. Pihaknya mencurigai kalender ini, tidak datang dari Tiongkok, tapi dibuat di dalam negeri.
"Kalau begitu, kami melihat ini ada unsur kesengajaan," ungkap Kadri.

Atas ketidakpuasan tersebut, Kadri beserta beberapa lembaga lainnya akan melakukan gugatan  class action ke Pengadilan Negeri Singkawang.

Kepala Kejaksaan Negeri Singkawang mengatakan semua pihak berhak melakukan pengontrolan dan pengawasan terkait pengungkapan kasus tersebut. 

Namun, tentunya berdasarkan kewenangan yang sesuai porsinya.
"Dalam hal ini, tentu kita mempercayakan pihak kepolisian untuk menyelesaikannya," kata Ravik.

Menurut Ravik, bagi masyarakat yang ingin memberikan masukan-masukan kepada pihak polres boleh saja dilakukan, asalkan dengan mekanisme dan prosedur yang benar.

Ravik menegaskan kasus tersebut tidak boleh terulang kedua kalinya. Oleh sebab itu, kita berharap, semua pihak saling bekerjasama.
"Menyampaikan informasi yang bersifat penting ke pihak yang berwenang," pungkasnya. (abd/sut)

Didasari pada Niat
Sementara itu, saksi ahli yang juga  Dekan Fakultas Hukum Untan Dr Sy Hasyim Azizurrahman SH M Hum menerangkan, untuk melihat ada tidaknya perbuatan melawan hukum dalam kasus tersebut, harus didasari pada niat.

Dalam hal ini, ada bentuk tindak pidana tertentu, namun terpenuhi atau tidak, maka harus di lihat unsur-unsurnya? Mengenai ukuran dasar untuk melihat ada tidaknya niat terkait penyebaran kalender bergambar palu arit tersebut, bisa di lihat dari modusnya.

"Untuk mengetahui hal itu, tentu yang lebih tahu penyidik dari pihak kepolisian. Karena mereka yang melakukan pemeriksaan dan penyelidikan," papar Hasyim. (abd/sut)