Tatung Singkawang Tewas Gantung Diri di RS Jiwa

Singkawang

Editor sutan Dibaca : 1063

Tatung Singkawang Tewas Gantung Diri di RS Jiwa
Foto Asang ketika masih hidup. saat menyambut perayaan Cap Go Meh, di Kota Singkawang, Selasa (15/2). (ANTARA/Hermanus Prihatna)
Rumah Bong Khin Dyung atau Ajung (63) di sebuah Gang di Jalan Budi Utomo, siang itu tak lagi ceria. Papan nama bertuliskan Tukang Gigi, masih setia tergantung di teras rumah. Namun, siang itu suasana tak lagi sama. Ada yang retak pada perasaan Ajung.

 Lelaki berjanggut masai atau kelabu tersebut, tak lagi ceria seperti biasa. Matanya terlihat berkaca-kaca.  Bagaimana tidak, keluarga besar Ajung diselimuti duka. Di St Yusuf RS Santo Vincensius, Asang (31), anak kedua Ajung meninggal dengan cara tragis.

 Budayawan dan pemain tatung di setiap perayaan Cap Go Meh ini, meninggal dengan cara gantung diri di RS Jiwa, Singkawang Barat, Selasa (1/11) pagi. Rencananya, jenazah dikebumikan pada Sabtu ( 5/11).     

Hari itu, Ajung berusaha tegar di rumah duka. Ia menceritakan, sosok mendiang anak keduanya. Menurutnya, Asang dikenal anak yang baik dan kreatif. Ia selalu disenangi oleh banyak orang. Yang tidak bisa dilupakan oleh Ajung adalah, Asang dikenal aktif meramaikan kegiatan budaya Tionghoa, seperti pagelaran Cap Go Meh.

Bagi masyarakat Singkawang, nama Ajung sudah dikenal masyarakat. Profesi kesehariannya adalah tukang gigi. Ajung sendiri memiliki 13 anak. Menariknya, dari semua anaknya, ada lima orang yang  mengikuti jejaknya sebagai tatung.

Satu di antaranya adalah Asang.
"Saya tidak bisa lupa, Asang pernah ikut  festival budaya Tionghoa sampai ke luar negeri. Paling sering di Malaysia," kata Ajung, merupakan tatung senior di Kota Singkawang.

Tahun ini rencananya Asang mengikuti Cap Go Meh di Singkawang. Tapi impian Ajung untuk bisa atraksi bareng bersama anaknya ini pupus. "Saya sedih tidak bisa ikut atraksi sama anak saya. Padahal, untuk ke depannya, Asang saya jadikan sebagai penerus saya," kata Ajung.

Norman Bong, abang alamarhum menambahkan, selama hidup Asang memiliki kepribadian yang ramah, rendah hati, dan supel. "Dia mudah bersahabat dengan siapa saja. Dia adalah pemuda yang sangat mencintai budaya Tionghoa," katanya.

Tak heran, nama Asang dikenal sebagai pelopor yang memperkenalkan budaya etnik Tionghoa di kota Singkawang hingga ke luar negeri.

Pada Rabu (2/11), keluarga dan saudara almarhum tampak sudah berkumpul, sembari menyiapkan prosesi pemakaman. Bahkan rumah duka almarhum juga banyak didatangi para tokoh masyarakat, untuk memberikan belasungkawa. Sebagian besar pelayat yang datang dari kalangan para tatung.

Ajung mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah datang, memberikan doa, dan dukungan moril kepala keluarga besarnya.

Tak lupa, dia meminta maaf kepada para sahabat mendiang Asang untuk dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya, jika selama ini ada hal yang tidak berkenan yang dilakukan Asang semasa hidup. "Terimakasih banyak, sudah datang," tutup Ajung. (abdul halikurrahman/lis/sut)