Sabtu, 16 November 2019


Komunitas Suku Dayak di Singkawang Bantah Usir Warga Tionghoa

Editor:

sutan

    |     Pembaca: 1646
Komunitas Suku Dayak di Singkawang Bantah Usir Warga Tionghoa

AKSI- Suasana aksi demonstrasi di Kantor KPU Kota Singkawang pada Selasa, (21/11) lalu. (SP/Ist)

PONTIANAK, SP – Komunitas masyarakat Suku Dayak membantah keras telah memobilisasi massa untuk mengusir etnis Tionghoa. Sebelumnya telah terjadi pengrusakan di Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Singkawang,  patung naga dan beberapa lokasi usaha  pada Selasa (22/11) lalu.

“Tidak ada hubungan dengan komunitas Suku Dayak di Kota Singkawang. Tidak bisa dicampuradukkan, karena bisa merusak tali silaturahmi antar masyarakat. Kami tetap posisi netral pada Pilkada 15 Februari 2017 mendatang,” kata Aloysius Kilim, Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kota Singkawang, Sabtu (26/11).

Diberitakan sebelumnya, aksi keributan yang membawa simbol Dayak, merupakan massa pendukung Moses Ahie  – Amir Fattah (MAAF). Mereka dimotori Kristianus (32 tahun) dan Ulin Anak Gaho (42 tahun), marah lantaran KPU Kota Singkawang, mencoret pasangan MAAF. Sebab pasangan ini tidak mampu memenuhi persyaratan minimal dukungan calon masyarakat pemilih.

Aloysius Kilim  menilai  aparat keamanan terdiri dari TNI dan Polri sudah bekerja maksimal, sehingga keributan tidak melebar.
Menurut Aloysius Kilim, kalaupun dalam aksi keributan ada teriakan mengatas namakan Dayak, kemudian terungkap pula indikasi sikap kebencian terhadap Etnis Cina.

"Itu  hanya ulah segelintir oknum, karena etnis Cina dengan Pilkada 2017, sama sekali tidak ada hubungan sama sekali," ujarnya.
 
Aloysius Kilim mengatakan, kalaupun ada Etnis Cina dinyatakan memenuhi syarat sebagai peserta Pilwako Singkawang, sudah merupakan hak politiknya sebagai warga negara Indonesia.  Lagi pula mayoritas penduduk Kota Singkawang berasal dari etnis Cina. (aju)