Dibuang Keluarga, Ahong Tinggal Berminggu-minggu di Kuburan

Singkawang

Editor hendra anglink Dibaca : 905

Dibuang Keluarga, Ahong Tinggal Berminggu-minggu di Kuburan
MENOLONG - Gunawan, warga Kota Singkawang menolong seorang pria lanjut usia yang ditelantarkan selama beberapa hari di Komplek Pemakaman Abadi Singkawang, belum lama ini. (Ist/SP)
Malang nasib Ahong. Orangtua ini harus menderita akibat perlakuan keluarganya yang telah menelantarkannya. Selama belasan hari, ia tinggal di salah satu pemakaman di Kota Singkawang. Akibatnya, pria yang warna rambutnya kian memutih ini, harus menahan rasa sakit yang dideritanya.

Kondisinya seperti itu pula mengundang keprihatinan orang-orang yang melihatnya, tak ayal bantuan pun datang untuknya yang kini hidup sebatang kara tersebut. Sekarang, Ahong telah hidup tenang dengan pelayanan yang baik pula di Panti Asuhan Werda Sinar Abadi di Kota Singkawang.

Diceritakan pimpinan panti Werda Sinar Abadi, Malika Tjhai Nyit Khim bahwa, saat ditemukan kondisi Ahong sangat miris, dengan pakaian yang tak layak, berminggu-minggu tidur di pemakaman dengan cuaca kadang panas dan hujan. Ahong tak pernah membersihkan kotoran berminggu-minggu dan jarang makan.

Kejadiannya dua hari yang lalu. Saat itu tokoh masyarakat Rajawali, yakni Susan yang juga aktivis, memberikan laporan kepada Malika bahwa, ada orangtua telantar di pemukiman pekuburan Jalan Natuna Singkawang.

“Mendapat laporan tersebut, kita langsung mengambil tindakan," ujarnya saat dihubungi Suara Pemred, Selasa (1/8).

Kejadian yang diderita Ahong, sungguh menyayat hati. Bagaimana tidak, sebenarnya Ahong masih mempunyai sanak saudara, namun tidak ada yang perduli dengannya lagi. Dari situlah, ia ditelantarkan.

"Panti asuhan kita ini kan punya prosedur, makanya saya minta sama Susan (si pelapor) untuk mengurus prosesnya, agar bisa ke panti kita,” ujar Malika.

Syarat itu diantaranya, surat keterangan dari aparat, bahwa mengatakan Ahong yang memang terlantar dan tindak punya keluarga atau tuna sejahtera.

Tidak hanya itu, harus ada pemutusan hubungan dari pihak saudara yang menelantarkannya dan tidak mampu, memberikan tunjangan baik secara pangan makan dan lainnya.

"Setelah semua proses prosedur itu lengkap, melalui fasilitas, kita jemput Pak Ahong dengan Satpol PP, Dinas Sosial, Susan dan ada beberpa didampingi masyarakat setempat," terangnya.

Ia menjelaskan pula, kenapa prosedurnya harus ada pemutusan hubungan dari pihak saudara, agar kedepan tidak ada tuntutan dari pihak keluarga. Selain itu, panti asuhan tersebut hanya menerima orang yang hidup sebatang kara.

"Di panti asuhan ini juga, nantinya Pak Ahong ditanggung semua, dari makan, minum, tempat tinggal, perhatian dan yang lainnya, hingga nanti sampai menuju akhir hidupnya," katanya.

Untuk saat ini pula, keadaan Ahong sudah lebih baik dari sebelumnya. Ia pun berharap, Ahong selama di panti asuhannya tersebut, dapat menjalani hari-hari tuanya dengan kebahagiaan bersama sekitar 50-an penghuni panti yang ada.

"Saya juga berharap kejadian seperti ini untuk terakhir kalinya terjadi, tidak ada lagi anak-anak yang menelantarkan orangtuanya," harapnya.

Ia juga mengimbau agar anak-anak dapat berbakti kepada orangtua, tidak pernah mengecewakan orangtua, dan selalu membalas budi orangtua, bukan sebaliknya.

"Ingat satu hal, kita nanti juga akan besar dan punya anak. Apa jadinya nanti, kita yang malah ditelantarkan orangtua. Maka dari itu, selalu sayangi orangtua kita. Karena mereka lah kita ada di dunia ini," pungkasnya. (saiful fuat/lis)