Lima Orang di Singkawang Meninggal Karena DBD

Singkawang

Editor Tajil Atifin Dibaca : 351

Lima Orang di Singkawang Meninggal Karena DBD
Demam Berdarah – Sejumlah pasien demam berdarah dari kalangan anak saat menjalani perawatan di rumah sakit. Di Kota Singkawang, hingga September 2017 penderita DBD telahmencapai 107 kasus
SINGKAWANG, SP - Kasus Demam Berdarah (DBD) di Kota Singkawang terus meningkat. Data Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Singkawang mencatat, pada tahun 2016 kasus DBD diderita 76 orang. Namun pada September 2017 kasusnya meningkat hampir dua kali lipat.  

"Dari Januari sampai 13 September 2017 tercatat 109 kasus DBD dan menelan korban jiwa lima orang," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Singkawang, Djoko Suratmiarjo, Rabu (13/9).

 
Berbagai upaya pun telah pihaknya lakukan guna menanggulangi penyakit musiman tersebut. Di antaranya, sebut Joko, menggalakkan fogging (pengasapan).

"Fogging ini sudah kita lakukan hampir di lima kecamatan yang ada di Kota Singkawang. Dan yang terbaru kita lakukan fogging di Kelurahan Kampung Jawa tapatnya di belakang SDN 17 Singkawang Tengah,” ungkapnya.


 
Selain fogging, upaya lain yang dilakukan adalah dengan menggalakkan abatisasi ke rumah-rumah warga dan sekolah, khususnya ke wilayah rawan penyebaran DBD. Alasan pihaknya menggalakkan abatisasi di sekolah, karena berdasarkan analisis data dari tiga tahun terakhir, bahwa kasus demam berdarah penderitanya adalah rata-rata anak-anak sekolah.

"Maka itulah sekolah juga tak luput dari pemberian bubuk abate tersebut," jelasnya.

Di samping melakukan upaya-upaya penanggulangan penyebaran DBD, dia juga mengharapkan peran serta masyarakat Singkawang menerapkan gerakan menguras, menutup, dan mengubur (3M) guna memberantas jentik nyamuk di tempat penampungan air. Hal itu diingatkan dia, sepanjang masih ada jentik-jentik di tempat penampungan air maka DBD akan masih berisiko tinggi bagi masyarakat.

"Maka itulah kita harapkan peran lurah, RT, dan masyarakat untuk selalu menggalakkan gerakan 3M. Terlebih memasuki musim penghujan saat ini," pintanya.

Di tempat yang sama, Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Kota Singkawang, Mursalin mengatakan, berdasarkan pemetaan pihaknya, ada 226 rukun tetangga (RT) yang paling berisiko DBD.

"Dan kami dari dinas sudah melakukan abatisasi setiap tiga bulan sekali dalam setahun," katanya.

Curah hujan yang yang terjadi dari Januari hingga September 2017 menurut Mursalin juga menjadi pemicu kenaikan jumlah kasus DBD.


  “Tingginya intesitas hujan juga mempengaruhi peningkatan kasus. Karenanya abatisasi sangat penting dilakukan, jika ini diabaikan angka kasus bisa saja lebih dari yang sekarang,” pungkasnya. (rud/jee)