Seribu Hektare Lahan Terdegradasi, Disebabkan Penambangan Ilegal Emas dan Bahan Bangunan

Singkawang

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 116

Seribu Hektare Lahan Terdegradasi, Disebabkan Penambangan Ilegal Emas dan Bahan Bangunan
RAZIA PETI – Anggota Polres Singkawang saat merazia penambangan emas tanpa izin (PETI) di Kota Singkawang, beberapa waktu lalu. Akibat penambangan ilegal, seribu hektare lahan mengalami degradasi dan kerusakan. (Ist)
SINGKAWANG, SP – Sekitar seribu hektare lahan di Kota Singkawang mengalami degradasi dan kerusakan diakibatkan pertambangan liar. 

Kepala Bidang Penataan Lingkungan Hidup, Dinas Lingkungan Hidup Singkawang, Nursahid mengatakan aktifitas pertambangan ilegal yang terjadi memang masih dalam skala kecil, namun cukup masif dari segi jumlah. 

“Dari pantaun dan informasi dari masyarakat seringkali ditemukan aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di sejumlah titik dan kucing-kucingan dengan aparat,” katanya, Minggu (18/3).

Menurut Nursahid, ada empat wilayah kecamatan di Kota Singkawang yang menjadi lokasi penambangan ilegal, yakni Singkawang Tengah, Timur, Utara dan Selatan. Tak hanya emas, para penambang juga mengambil tanah, batu dan pasir.

Dia mengatakan, pertambangan ilegal tanah, batu dan pasir, prosedur perizinan pertambangannya ada pada Provinsi Kalbar. Sejauh ini, baru ada satu titik yang telah mendapatkan izin, yakni di wilayah Sanggau Kulor.

"Yang sudah mendapatkan izin pertambangan dari yakni galian batu di Sanggau Kulor. Namun banyak pertambangan kecil dan tersebar di mana-mana," katanya.

Untuk lahan yang sudah rusak, katanya, solusi yang bisa dilakukan yakni berupa reklamasi untuk menunjang perbaikan atau penanaman pohon kembali.

"Namun akan lebih baik dilakukan pencegahan, agar kerusakan tidak semakin luas, namun di sisi lain material pertambangan ini digunakan untuk pembangunan," ujarnya.

Menurutnya, pengrusakan lingkungan secara sengaja ini dapat dihentikan, namun juga diperlukan aspek penegakan hukum yang seharusnya juga diterapkan.

"Kita telah melakukan sosialisasi dan imbauan baik secara langsung maupun tidak langsung terkait dampak lingkungan dan peraturan yang mengatur dalam izin pertambangan," katanya.

Secara terpisah, Kapolres Singkawang, AKBP Yuri Nurhidayat mengatakan, pihaknya berkomitmen untuk memberantas PETI di wilayah hukum Polres Singkawang.

"Bahkan, beberapa kasus sudah kita tangani," katanya.

Menurut Yuri, pertambangan ilegal di Singkawang sudah  menurun dibanding sebelumnya. Meski demikian, dia tetap meminta masyarakat melaporkan bila menemukan kegiatan PETI di wilayah Singkawang.

"Segera laporkan ke kantor polisi terdekat di jajaran Polres Singkawang," pintanya.

Dijadikan Embung


Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Singkawang, Asyir A Bakar sebelumnya mengatakan, akan menjadikan lokasi bekas Penambangan Emas Tanpa izin (PETI) di Kelurahan Pajintan, Kecamatan Singkawang Timur sebagai embung menampung air.

"Lahan eks PETI yang dulunya terbengkalai, telah dibenahi sedikit-sedikit oleh Pemerintah Kota Singkawang. Seperti tanah yang berlobang bekas tempat penambangan emas kita jadikan embung untuk menampung air," kata Asyir.

Sekarang ini, total embung yang dibangun di Kelurahan Pajintan, Kecamatan Singkawang Timur sudah ada dua.

"Kedua embung yang dibangun memiliki luas sekitar 2,7 hektare yang mampu menampung air sekitar 81 ribu kubik," ujarnya.

Sayangnya, jika disuplai untuk kebutuhan masyarakat dengan kebutuhan 11 ribu sambungan rumah (SR), maka kemampuan air yang ada hanya mencukupi selama 10 hari.

Sehingga, Pemkot Singkawang berencana untuk menambah tiga embung lagi di lokasi tersebut, yang nantinya saling terhubung.

"Yang sudah adakan embung A dan B. nanti akan kita bangun tiga lagi menjadi C, D dan E," ungkapnya. (rud/jee)