Kawasan Cagar Budaya Dijadikan Markas Anak Punk, Dirikan Gubuk Lengkap dengan Kasur dan Alat Masak

Singkawang

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 1333

Kawasan Cagar Budaya Dijadikan Markas Anak Punk, Dirikan Gubuk Lengkap dengan Kasur dan Alat Masak
PENERTIBAN – Petugas menertibkan bangunan liar yang dibangunan sekelompok anak punk dan pengamen di kawasan cagar budaya Rumah Keluarga Tjhia di Jalan Budi Utomo. Digubuk tersebut, petugas juga menemukan alat hisap sabu, kasur dan peralatan memasak. (SP/
SINGKAWANG, SP – Kawasan cagar budaya rumah Keluarga Tjhia di Jalan Budi Utomo, Kota Singkawang dijadikan kawasan tempat tinggal oleh sekelompok anak punk dan pengamen. Mereka mendirikan bangunan liar di kawasan bersejarah itu.

Resah dengan kondisi tersebut, Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bersama Satuan Polisi Pamong Praja Singkawang merobohkan bangunan liar tersebut dan mengamankan 10 orang anak punk dan pengamen, Kamis (22/3).

Kepala Bidang Rehabilitasi Perlindungan dan Jaminan Sosial, Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Singkawang, Agus Purnomo mengatakan, penertiban ini sebenarnya sudah lama direncanakan.

"Karena kita menilai bahwa budaya hidup mereka sangat tidak mengikuti norma-norma agama, apalagi mereka membangun bangunan liar di dekat kawasan cagar budaya," katanya.

Berdasarkan pantauan dinasnya, tidak ada batasan mereka yang tinggal di gubuk-gubuk yang mereka dirikan. Laki-laki dan perempuan tinggal bersama. Hal ini tentunya akan memberi dampak negatif terhadap pertumbuhan mereka.

Belum lagi dengan penyahgunaan obat-obatan dan narkoba yang biasanya kerap digunakan oleh anak punk dan pengamen. Hal ini terbukti dengan ditemukannya alat hisap narkoba jenis sabu saat petugas membongkar gubuk mereka.

"Sewaktu dilakukan penertiban kita juga temukan alat hisap narkoba seperti bong di TKP," ujarnya.

Mereka yang diamankan pada penertiban hari itu umumnya pernah terjaring saat  operasi serupa. Selain dari Singkawang, mereka juga berasal dari Kalimantan Selatan, Jawa Timur dan Pontianak.

Mengenai anak yang menggunakan narkoba akan titipkan ke LSM Merah Putih untuk mendapat rehabilitasi. Sedangkan mereka yang berasal dari luar Singkawang akan dikembalikan ke daerah asalnya.

Kepala Bidang Trantib Satuan Polisi Pamong Praja Singkawang, Jarvid mengatakan anggotanya harus membagi empat regu anggotanya untuk menertibkan anak punk dan pengamen di kawasan cagar budaya Keluarga Tjhia.

"Tim kita bagi sebanyak empat regu, satu regu masuk dari Bank Mandiri, satu regu masuk dari Kompas, satu regu masuk dari Kantor Perpustakaan yang lama dan satu regu lagi masuk dari toko foto Mawar," katanya.

Selain ditemukan alat hisap sabu, di gubuk berukuran 2x2 meter yang ditertibkan, juga ditemukan tempat tidur dan peralatan memasak.

"Mereka membuat gubuk sendiri lengkap dengan tilam dan tempat masak," sesalnya.

Agar mereka tak kembali lagi ke gubuk itu, pihaknya pun dengan sangat terpaksa harus melakukan pembongkaran.

"Kita bongkar supaya mereka tidak lagi kembali ke situ," pungkasnya.

Perlu Pembinaan Berkesinambungan


Satgas Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Singkawang, Maya Satriani mengatakan perlu ada pembinaan berkesinambungan untuk menangani masalah anak.

"Tidak bisa diberikan pembinaan yang cukup singkat karena tidak akan memberikan efek apa-apa bagi mereka," katanya.

Sebenarnya, dirinya ingin sekali menampung mereka di Shelter Harmoni milik Dinas Sosial. Hanya saja, pihaknya tidak ada anggaran khusus untuk menampung dan membina mereka.

"Mereka-mereka ini sebenarnya perlu bimbingan sehingga bisa mandiri," ujarnya.

Untuk itulah dia menyarankan, agar pemerintah bisa menyiapkan rumah rehabilitasi anak agar dirinya bisa fokus untuk memberikan pembinaan.

"Terlebih masalah masing-masing anak itukan berbeda-beda. Sehingga butuh penanganan yang sesuai dengan persoalan yang dihadapi anak tersebut," ungkapnya. (rud/jee)