Manaf Minta Anjing Liar Dimusnahkan

Singkawang

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 264

Manaf Minta Anjing Liar Dimusnahkan
Grafis (Suara Pemred / Koko)
Abdul Manaf, Kadis Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalbar 
"Anjing liar harus dimusnahkan tanpa ganti rugi,"

Yusnita Fitriadi, Kadis Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Kota Singkawang 
“Pemberian vaksinasi anti rabies sudah dilakukannya sejak 2016 hingga sekarang. Tapi yang paling kita prioritaskan adalah wilayah Singkawang Timur dan Selatan,"

SINGKAWANG, SP
- Pemerintah Kota Singkawang melalui  Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Singkawang terus memperkuat pemblokiran wilayah, dan  menggalakkan vaksinasi terhadap anjing yang rentan dengan penyebaran rabies, khususnya di Singkawang Timur dan Selatan.

Rabies atau biasa disebut dengan penyakit anjing gila, merupakan penyakit serius yang menyerang otak dan sistem saraf manusia. Penyakit rabies termasuk sebagai penyakit serius dan mematikan, apalagi bila tidak ditangani secara cepat.

Penyakit rabies disebabkan oleh virus lyssaviruses. Virus ini ditularkan ke manusia, melalui hewan yang sebelumnya telah terjangkit penyakit ini. Penyakit rabies dapat menulari manusia, jika air liur dari hewan rabies tersebut, masuk ke tubuh manusia melalui gigitan yang dilakukan. Bahkan rabies juga bisa menular melalui cakaran kuku binatang tersebut, bila sebelumnya hewan rabies tersebut telah menjilati kuku-kukunya.

Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Kota Singkawang, Yusnita Fitriadi mengatakan, “Pemberian vaksinasi anti rabies sudah dilakukannya sejak 2016 hingga sekarang. Tapi yang paling kita prioritaskan adalah wilayah Singkawang Timur dan Selatan," katanya, Rabu (28/3).

Namun celakanya, wabah gejala Rabies sepertinya tak bisa dielakkan khususnya di wilayah Singkawang Timur. Hal itu dikarenakan, wilayah tersebut berbatasan dengan Bengkayang yang memang sudah ada kasus. Sementara di Singkawang Selatan berbatasan dengan Monterado, Kabupaten Bengkayang.

"Sepanjang 2018 pun, kalau kita lihat yang paling banyak terjadi kasus gigitan anjing di Kecamatan Singkawang Timur," ungkapnya.

Dari Januari hingga minggu ketiga Maret 2018, sudah ada 17 kasus gigitan anjing terjadi di Kota Singkawang. Kasus yang paling banyak terjadi di Kecamatan Singkawang Timur dengan 11 kasus.

Dia belum bisa memastikan, apakah orang yang digigit itu juga dinyatakan positif. Karena berbagai upaya telah pihaknya lakukan, salah satunya memberikan vaksin sebanyak dua kali, kemudian minggu depan lagi akan dilakukan vaksinasi oleh petugas kesehatan.

"Saya berharap orang yang digigit itu pun tidak sampai menimbulkan masalah atau hal-hal yang negatif karena sudah divaksin," ungkapnya.

Dia pun meminta kepada masyarakat, khususnya yang memelihara anjing punya kesadaran diri, minta vaksinasi kepada petugas kesehatan.

Secara terpisah, Kasubag TU Puskeswan Singkawang, Okta Abdillah mengatakan, dikarenakan suspect pembawa virus rabiesnya adalah, anjing maka yang difokuskan untuk pemberian vaksinasi adalah anjing.

"Kecuali ada kucingnya dalam satu rumah dengan anjing. Agar tidak tertular, maka kucing juga bisa kita vaksinasi," katanya.

Secara keseluruhan, total vaksin yang dilakukan kepada anjing dan kucing sepanjang tahun 2017, sebanyak 2.500 ekor. 

Dia menuturkan, dari Januari hingga Maret 2018, pihaknya sudah dua kali mengirimkan sample kepala anjing ke laboratorium. Sementara tahun 2016-2017, nihil alias tidak ada. 

"Untuk pertama kali mengirim hasilnya langsung positip. Sedangkan yang kemarin kita masih menunggu hasilnya selama tiga hari kedepan," ungkapnya.

Dia berpesan, apabila ada warga yang terkena gigitan anjing, langkah pertama yang harus dilakukan adalah cuci bersih lukanya pakai sabun dengan alir mengalir selama 10 menit. Untuk membunuh virus diluka baru harus menggunakan antiseptik atau sabun.

"Jadi ambil sabun mandi, kemudian gosok lukanya dengan air mengalir selama 10 menit," pesannya. Kemudian, segera ke Puskesmas untuk mendapatkan vaksinasi.

Menurutnya, ada beberapa Puskesmas menyediakan vaksin anti rabies. Di Singkawang Timur bisa di Puskesmas Pajintan atau Mayasofa. Di Sedau ada Puskesmas Sedau. Di Singkawang Utara ada di Setapuk. Di Singkawang Barat di Puskesmas Jalan Alianyang.

Namun, karena masih tahapan sosialisasi, pihaknya harus jemput bola ke masyarakat. Hal itu dilakukan, guna menjaga agar wabah rabies tidak terjadi di Singkawang. Oleh karena itu, pihaknya harus aktif datang ke masyarakat.

Menurutnya, penyakit rabies sudah ada sejak zaman dulu. Mengingat polanya berantai, sehingga ini yang menyebabkan rabies sulit untuk dibasmi.

"Penyakit ini seperti Zombi, misalnya anjing A menggigit anjing B. Maka anjing B tertular virus itu juga. Tapi sebelum mati dalam 14 hari karena virus itu, seolah-olah otaknya memerintahkan untuk menggigit yang lain," jelasnya.

Dikarenakan virus ini menyerang otak, anjing yang terkena virus itu punya tugas menggigit yang lain. "Jadi apa yang dilihatnya pun digigit," katanya.

Sementara, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Singkawang, Djoko Suratmiarjo mengatakan, pihaknya telah melakukan vaksinasi anti rabies kepada orang yang jadi korban gigitan anjing liar.

"Disamping itu, kita juga telah mendirikan Rabies Center di Puskesmas dan mendistibusikan vaksin anti rabies di RSUD Abdul Aziz dan Vincentius Kota Singkawang," ungkapnya.

Dia minta masyarakat mengamankan anjing yang sudah menggigit. "Jadi jangan langsung dibunuh, tapi diamankan atau dikurung, karena kami masih dalam rangka pemberian vaksin terhadap anjing tersebut," pesannya.

Apabila dalam 14 hari anjing yang sudah di vaksin mati, maka anjing tersebut dinyatakan positip rabies. Tapi kalau tidak mati, berarti anjing tersebut aman dari rabies. 

Rabies Meluas 

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, Provinsi Kalbar, Abdul Manaf menilai, wabah rabies pada tahun 2018 semakin meningkat dan meluas, terutama di Kota Singkawang. 

Untuk mengantisipasi dan penanganannya, Pemprov Kalbar melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalbar, menggelar rapat koordinasi (Rakor) bersama Pemkot Singkawang, beberapa waktu lalu. 

"Di dalam Rakor itu, kami  minta agar Pemkot Singkawang memberikan sosialisasi kepada masyarakat, dimulai dari tingkatan paling rendah, RT, dusun, desa/lurah, dan kecamatan," katanya.

Pihaknya juga minta segera mendata anjing, dan terhadap anjing yang tertular untuk divaksin. Selain itu juga mengeliminasi atau pemusnahan terhadap anjing yang sudah tertular.

"Serta membentuk Rabies Center dengan menunjuk Puskesmas yang siap melayani kasus dan laporan gigitan anjing," terangnya. 

Pihaknya sudah minta Pemkot Singkawang membentuk Tim Anti Rabies. Bahkan telah meminta Pemkot Singkawang untuk mengeluarkan edaran, berupa imbauan untuk melakukan vaksinasi dan melarang untuk melepas atau mengeluarkan anjing. 

"Anjing liar harus dimusnahkan tanpa ganti rugi," tuturnya.

Manaf menuturkan, para petugas lapangan masih menemukan beberapa persoalan. Yakni, masih ada lokasi yang perlu pendekatan secara budaya. Ada beberapa kelompok yang menolak adanya vaksinasi, bahkan penolakan itu dilakukan dengan memberi uang kepada petugas.

Untuk mekanisme pencegahan awal, Kementerian Kesehatan sudah mengeluarkan tata laksana tentang penanganan kasus gigitan.Tata laksana itu harus dipahami seluruh petugas. 

Berdasarkan data yang dimiliki, total gigitan anjing mulai dari Januari hingga Maret 2018, sebanyak 383 orang tergigit anjing dengan hasil positif sebanyak 2 orang, korban meninggal sebanyak 4 orang, dengan populasi anjing sebanyak 190,173 ekor.

Dikatakannya, dari 14 kabupaten/kota di Kalbar, hanya Kota Pontianak yang belum terkena wabah rabies, akan tetapi statusnya terancam. Pihaknya juga sudah melakukan sosialisasi kepada seluruh pihak yang berwenang dalam upaya membasmi wabah rabies ini. Dari 13 kabupaten/kota yang tertular, jumlah terbesar ada pada Kabupaten Landak, dengan jumlah 3 orang meninggal dan 163 gigitan dari 53.851 ekor anjing.

Untuk semua petugas lapangan, Manaf menyatakan seluruhnya sudah diberi VAR untuk mengurangi risiko. Jumlah petugas yang sudah dilatih sebanyak 280 orang se-Kalbar. Para petugas itu berfungsi untuk memberikan penyuluhan dan mendampingi masyarakat.

"Kita menyediakan seratus ribu dosis vaksin untuk seluruh Kalbar yang saat ini sedang proses tender. Dari pusat sedang dalam perjalanan sebanyak tujuh ribu dosis.  Kalau masyarakat butuh, vaksin sudah siap," tuturnya

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Barat, Andy Jap menuturkan jumlah vaksin rabies untuk manusia masih tercukupi. 

"Vaksin rabies, kalau untuk manusia masih tercukupi dulu. Permasalahannya, vaksin tapi sekarang sudah aman," ujar Andy Jap.

Andy menerangkan, pada dasarnya tidak ada istilah memberi pencegahan kepada manusia. Justru pencegahan itu sebenarnya harus difokuskan kepada hewan penular rabies.

"Jadi VAR hanya diberikan kalau ada gigitan. Untuk stok vaksin sendiri masih ada ribuan. Artinya di pusat untuk stok vaksin manusia dalam kondisi aman, beda dengan tahun kemarin yang memang tidak mencukupi.

Pasca Digigit

Salah satu anak yang digigit anjing, Anjas Setiawan (12) menceritakan saat dirinya digigit anjing. Saat itu dia sedang duduk di warung. Tiba-tiba datang seekor anjing langsung menggigitnya.

"Anjing itu datang langsung menggigit kaki sebelah kanan saya," katanya.

Usai digigit, dia pun tidak merasakan yang aneh-aneh pada dirinya. "Ndak ada rasa apa-apa sih bang, biasa-biasa saja," ujarnya.

Bahkan, dirinya baru mendapatkan vaksinasi dari petugas, setelah seminggu pasca digigit anjing.

"Sekitar seminggu lah bang baru disuntik oleh dokter hewan," katanya.

Hal yang sama juga dialami anak lainnya, Juventus (11). Dia mengatakan, saat itu dirinya sedang bermain bola. "Saat mengejar bola, saya diikuti oleh anjing dan langsung menggigit kaki sebelah kiri saya," katanya.

Hal yang aneh pun tidak dirasakannya, usai digigit oleh anjing. "Biasa saja bang, tidak ada rasa sakit apa-apa," ujarnya. (bls/jek/rud/lis)

Hanya Sekali Divaksin

Salah seorang warga pemelihara anjing, Claudia (21) bercerita, dua ekor anjing di rumahnya hanya sekali divaksin rabies. Ketika anjing pertama kali diadopsi pertengahan 2017 lalu. Sejak saat itu hingga sekarang, tak pernah diberikan vaksin. Padahal mestinya vaksin diberi secara berkala.

"Malas (pergi vaksin) sih sebenarnya. Lagian dia ndak main yang kotor-kotor. Makanannya juga sama kayak makanan kami. Dimasak, tak dikasih daging mentah. Mandinya rutin," ceritanya, Rabu (28/3).

Kedua anjingnya dilepasliarkan. Dua anjingnya memang hanya main di daerah sekitar rumah. Namun perilaku ini tentu rentan terhadap penyakit rabies yang ditularkan anjing atau hewan lain. Dia berujar, anjing-anjing di kawasan Siantan, Pontianak tempat dia tinggal bersih-bersih.

Claudia mengaku tak tahu persis bagaimana ciri anjing yang kena rabies. Dia tak pernah melihat langsung. Hanya saja, dari informasi yang dia dapat dari televisi, anjing akan lemah tapi gampang marah. Pokoknya, terlihat tak sehat.

"Kan kelihatan tuh anjing kalau sehat dan lagi sakit. Tante orang kesehatan soalnya. Jadi kalau anjingnya ada apa-apa, dikasih obat sendiri. Lagian mereka tak pernah sakit," katanya.

Walau demikian, dia mengaku takut juga jika anjing-anjingnya terserang rabies. Untuk saat ini, menurutnya masih aman-aman saja. "Takut sih, tapi untuk saat ini amanlah," ujarnya.

Sementara itu, pecinta anjing lainnya, Keke (25) yang punya seekor anjing pun mengaku sama. Dia tak pernah memberi vaksin pada anjing yang dia adopsi beberapa tahun lalu itu. Keke yang berdiam di Kabupaten Ketapang, merawat anjing tersebut sejak kecil. Saat itu ada anjing kampung yang melahirkan belasan anak, satu anak dia bawa pulang.

"Di Ketapang tak pernah divaksin," ucapnya.

Sebelum menetap di Ketapang, dia juga memelihara anjing di Pontianak. Jumlahnya sepuluh ekor. Bedanya, di Pontianak anjing-anjing itu dia vaksin secara berkala. Tiap anjing punya buku periksa khusus. Kini anjing-anjing itu dirawat kakaknya.

"Di Ketapang katanya ada Puskeswan, tapi belum pernah ke sana," katanya.

Sebagaimana di Pontianak, anjingnya di Ketapang tidak dia lepas liarkan. Anjing itu hanya berada di lingkungan rumah yang berpagar. Itu pula yang jadi alasan dia yakin anjingnya akan baik-baik saja. (bls/lis)