Kamis, 19 September 2019


Polres Tetapkan Dua Tersangka Pembakar Lahan

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 71
Polres Tetapkan Dua Tersangka Pembakar Lahan

MEMADAMKAN - Kebakaran lahan yang terjadi di Kota Singkawang, beberapa waktu lalu. Hingga saat ini, kasus karhutla di Singkawang makin meluas. Ist

SINGKAWANG, SP - Polres Singkawang sudah menangani bahkan menetapkan dua orang tersangka pada kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di wilayah polres setempat. 

Kapolres Singkawang, AKBP Raymond M Masengi mengatakan, saat ini pihaknya sudah menangani dua laporan polisi dan menetapkan dua orang tersangka yang diduga sebagai pelaku pembakaran lahan.

Ditambah lagi dengan hari Minggu (8/9), pihaknya sedang memeriksa satu orang yang diduga melakukan pembakaran di daerah Sagatani, Kecamatan Singkawang Selatan. 

"Sedangkan untuk wilayah Pasir Panjang, kami juga sedang melakukan pemeriksaan untuk mencari pelaku yang membakar lahan tersebut," kata Raymond, Senin (9/9). 

Menurutnya, kebakaran yang terjadi di Pasir Panjang Sabtu (8/9) sore adalah seluas 7 hektare lebih. 

"Pemilik lahan sudah kita panggil untuk meminta pertanggungjawaban kejadian tersebut. Walaupun bukan dia yang membakar lahan tersebut," ujarnya.

Sesuai dengan perintah pimpinan dan tren yang terjadi saat ini, kata dia, pihak kepolisian akan mengejar setiap pelaku pembakaran lahan atau hutan yang ada.  

Karena kabut asap yang terjadi saat ini, sudah dirasakan sudah cukup pekat dan mengganggu kehidupan masyarakat. 

"Otomatis kami akan melakukan upaya-upaya kepolisian untuk meminimalisir, dengan melakukan penegakan hukum," katanya.

Dia juga mengimbau kepada masyarakat Singkawang, bahwa dalam mengelola lahan agar tidak dengan cara dibakar. 

"Saat ini, tidak diperbolehkan membakar dalam mengelola lahan. Silakan gunakan cara lain tanpa membakar," pintanya. 

Pada kesempatan yang sama, Pelaksana Tugas (Plt) Kasat Reskrim Polres Singkawang, Iptu Supriatin mengatakan, penanganan karhutla yang ditangani ada dua laporan polisi dan dari laporan tersebut, sudah ada dua orang tersangka yang diduga sebagai pelaku pembakaran lahan. 

Untuk TKP yang pertama, kata dia, adalah di Jalan Veteran dengan luas lahan yang terbakar sebanyak 7,5 hektare. Sedangkan untuk TKP yang kedua, Jalan Wonosari dengan luas lahan yang terbakar sebanyak 6,6 hektare. 

"Kemudian, ada satu laporan polisi lagi yang akan kami tingkatkan penanganannya menjadi penyidikan, yaitu kejadian karhutla di Kelurahan Sagatani, Kecamatan Singkawang Selatan," ungkapnya. 

Di daerah Sagatani, telah terjadi kebakaran lahan sekitar 7 hektare. Penanganan kasus ditingkatkan ke tahap penyidikan, karena yang bersangkutan diduga melakukan pembakaran lahan dengan sengaja. 

"Sehingga merembet ke lahan warga yang lain, terutama tanaman karet dan perkebunan," tuturnya.  

Sementara untuk kejadian kebakaran lahan di Pasir Panjang pada Sabtu (7/9) sore kemarin, yang sempat viral di media social, sebenarnya kebakaran tersebut terjadi di pinggir jalan. 

Beruntung, kebakaran tersebut cepat dipadamkan oleh TNI, Polri, dan pemadam kebakaran swasta di wilayah tersebut. 

"Meski demikian, kita akan tetap melakukan pemanggilan kepada pemilik lahan, guna mencari pelaku yang membakar lahan tersebut," jelasnya. 

Menurutnya, mengenai karhutla untuk ancaman, sebenarnya sudah jelas menurut UU Lingkungan Hidup dan Perkebunan. 

"Ancamannya di atas lima tahun dengan denda Rp2-3 miliar," katanya. (rud/lha)

Tindak Tegas

Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie mengatakan, bagi masyarakat Singkawang yang memang dengan sengaja membakar lahan harus ditindak tegas. 

"Terlebih imbauan karhutla ini kan, sudah ditegaskan mulai dari Presiden dan seluruh kepala daerah serta kepolisian yang ada di Kalbar untuk tidak membakar lahan, khususnya pada musim kemarau," katanya.

Dia juga mengingatkan, kepada warga khususnya yang tinggal di sekitar lahan kosong dan kering, untuk selalu waspada dan berhati-hati. 

"Mengingat sekarang ini musim kemarau, bagi masyarakat yang merokok diimbau untuk tidak membuang puntung rokok sembarangan, apalagi dibuang ke lahan yang kering," pintanya. (rud/lha)