Minggu, 20 Oktober 2019


Bandara Singkawang Banjir Investor

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 101
Bandara Singkawang Banjir Investor

Grafis Koko

JAKARTA, SP – Rencana pembangunan bandar udara (bandara) di Kota Singkawang menarik minat banyak investor asing. Jumlahnya mencapai puluhan jika ditambah dengan investor lokal. Proyek tersebut saat ini memang tengah ditawarkan pemerintah untuk dikerjasamakan dengan swasta melalui skema Kerja sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).

"Sudah lebih dari 10 bahkan 20 kalau asing. Saya surprise sekali. Itu ada Singapura, Perancis, Kanada, Korea Selatan, Jepang, dan Tiongkok," ujar Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi di Kantor Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Jakarta, Senin (7/10).

Bandara Singkawang ditargetkan beroperasi tahun 2023. Pembangunannya diproyeksi membutuhkan investasi Rp4,3 triliun, terdiri dari biaya pembangunan bandara Rp1,7 triliun dan operasional bandara Rp2,6 triliun dengan masa konsesi 36 tahun. 

Selama masa konsesi, pemerintah memprediksi penerimaan bandara dari segi udara mencapai Rp15,9 triliun dan nonudara sebesar Rp2,1 triliun. Potensi itu memiliki rasio pendapatan sebesar 12 persen, serta rasio pengembalian modal sebesar 15 persen.

Budi menjelaskan peran investor asing dalam kerja sama ini sangat penting. Keterlibatan swasta, bertujuan agar pembangunan tidak melulu mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Pak Presiden secara khusus mengingatkan kami, berikan kesempatan swasta dan asing untuk masuk ke industri prasarana perhubungan. Kompetensi dan modal yang dimiliki swasta sangat diperlukan pemerintah untuk pembangunan infrastruktur yang begitu banyak," katanya.

"APBN kan terbatas sedangkan banyak sekali kawasan di Indonesia yang harus dikembangkan. Oleh karena itu memang harus bekerja sama dengan swasta dalam negeri dan luar negeri," tutupnya.

Direktur Bandar Udara Direktorat Jenderal Hubungan Udara Kementerian Perhubungan, Mohamad Pramintohadi Sukarno mengungkapkan, nilai investasi masih dapat berubah sesuai dengan perjanjian dan kajian lebih lanjut.

Lingkup KPBU dalam proyek ini mencakup tiga hal. Pertama adalah pengembangan sisi udara, landasan, serta fasilitas pendukung terkait. Pihak swasta juga akan bertanggung jawab atas operasional harian bandara. Nantinya, pihak swasta terpilih akan diberikan lisensi terkait oleh Kementerian Perhubungan sebagai pemegang kontrak dari pihak pemerintah.

“Swasta juga akan diberikan wewenang untuk pemeliharaan aset yang ada di bandar udara tersebut,” imbuhnya.

Bentuk KPBU yang dipilih pemerintah adalah Design, Build, Finance, Operate, Maintain, dan Transfer (DBFOMT). Badan usaha terpilih akan mendapat konsesi selama 32 tahun. Waktu konsesi akan dihitung dari operasional bandara yang ditargetkan mulai pada 2023.

Proyek tersebut akan dibangun berdekatan dengan jalur kereta api serta jalan raya Trans Kalimantan. Bandar udara Singkawang akan terletak 25 kilometer dari Pelabuhan Kijing, dan 115 kilometer dari ibu kota Kalimantan Barat, Pontianak.

Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie mengatakan pembangunan bandara di kotanya akan meningkatkan efisiensi akses ke wilayah tersebut. Hal ini dapat menunjang kegiatan ekonomi. Dia juga berharap hal ini dapat menekan harga tiket pesawat yang kerap meroket karena permintaan tinggi.

“Faktor waktu menurut saya amat penting untuk meningkatkan daya saing sebuah wilayah yang kaya akan daya tarik investasi seperti Singkawang. Saya cukup yakin kehadiran bandara akan mengerek kegiatan ekonomi sekaligus meningkatkan investasi,” tutur Chui Mie.

Wali Kota mengatakan setidaknya ada 90 orang investor tertarik. Mereka juga akan berkunjung langsung ke Singkawang untuk melihat lokasi bandara.

"Artinya, dari 90 orang investor yang hadir, ada berapa investor yang akan ke Singkawang untuk meninjau langsung lokasi bandara," ujarnya.

Hanya saja, dirinya mengaku belum mendapat secara detail berapa investor yang siap ke Kota Singkawang.

"(Senin) malam ini akan saya cek, ada berapa investor yang sudah siap ke Kota Singkawang," ungkapnya.

Menurutnya, letak Singkawang sangat strategis di pesisir utara Kalbar. Berbatasan dengan Sambas di sebelah utara, dan Bengkayang di sebelah selatan dan timur, serta dengan Laut Natuna di sebelah barat.

Jumlah wisatawan di sana pun terus meningkat. Terlebih beberapa event international dan nasional rutin diselenggarakan, seperti Cap Go Meh dan Naik Dango. Selain itu, dengan penduduk mayoritas, event keagamaan masyarakat Tionghoa seperti Sembahyang Kubur atau Ceng Beng dilaksanakan dua tahun sekali.

"Masyarakat Tionghoa Singkawang yang telah menetap dan tinggal di luar Singkawang dan Kalbar akan datang berkunjung kembali ke Singkawang untuk memberikan penghormatan kepada para leluhur," ujarnya.

Pemkot Singkawang mencatat, terdapat sekitar 30.000 orang Tionghoa Singkawang bermukim di Taiwan dan lebih dari 35.000 masyarakat Singkawang tinggal di luar Kalbar seperti Jakarta, Surabaya dan beberapa kota di Sumatera.

"Pada masa-masa perayaan Ceng Beng selalu terjadi kenaikan harga tiket pesawat dikarenakan meningkatnya demand atau permintaan penerbangan ke Kalbar," ungkapnya.

Pariwisata Singkawang pun tengah jaya. Gunung pantai terhampar dikelola. Di samping itu, sektor perdagangan dan jasa, industri, pertanian, perkotaan, kesehatan, pendidikan dan perumahan cukup menjanjikan. 

“Lahan (bandara) sudah kita serahkan, sudah dilakukan land clearing tahap 1 senilai Rp10 miliar menggunakan APBN dan diharapkan tahun 2020 akan ada bantuan dana land clearing tahap 2 senilai Rp60 miliar yang juga dari APBN," katanya.

Menurutnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) beratensi terhadap pembangunan bandar udara baru di Kota Singkawang. Ketika terakhir kali bertemu beberapa waktu lalu, Presiden sempat menanyakan progres pembangunnya. Dia pun menyampaikan jika proses bandara sedang dilakukan tahap pembersihan lahan untuk landasan pacu bandara.

"Di mana pengerjaan land clearing landasan pacu sepanjang 1.860 meter dengan lebar 170 meter ini sudah dimulai sejak 19 Juni lalu," ungkapnya.

Dia yakin pembangunan bandara bisa diselesaikan pada akhir masa jabatannya bersama Irwan pada 2022. Pemkot pun telah mengusulkan dana bantuan ke pusat untuk tahun 2020.

Timeline KPBU

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) telah meluncurkan timeline rencana Kerja Sama Pemerintah Badan Usaha (KPBU) untuk pembangunan Bandar Udara Singkawang, Kalimantan Barat.

Acara market sounding, Senin (7/10) merupakan proses sarana perkenalan proyek kepada pihak swasta. Pada tahap ini, pemerintah juga sudah dapat menerima Letter of Intent (LOI) dari calon investor yang tertarik menanamkan modal pada proyek ini.

Tahap selanjutnya adalah Final Business Case yang akan dilakukan dalam rentang waktu Januari hingga Juni 2020. Proses tersebut kemudian dilanjutkan dengan prakualifikasi pendaftaran untuk pihak swasta yang dinilai cocok oleh pemerintah pada Juni hingga September 2020.

Pada Oktober 2020 hingga Maret 2021, pemerintah akan membuka tahap pengumpulan proposal oleh badan usaha atau konsorsium yang terpilih pada tahap sebelumnya untuk dimasukkan pada tahap lelang. Tahap lelang akan dilakukan pada April 2021.

Badan usaha atau konsorsium terpilih nantinya akan menjalani proses tandatangan kontrak pada Mei 2021. Pemerintah akan memberi waktu pihak swasta selama 6 bulan yang dihitung sejak ratifikasi kontrak untuk melakukan pemenuhan pembiayaan (financial close).

Kemudian, pihak swasta akan melaksanakan dua fase konstruksi bandara yang dimulai pada 2021. Pemerintah menargetkan Bandar Udara Singkawang sudah dapat beroperasi pada 2023. Setelah itu, pihak swasta akan terus melanjutkan operasi dan konstruksi lanjutan hingga masa konsesi selesai pada 2055. (bis/kat/rud/bls)