Senin, 17 Februari 2020


Gagal Terbang Bandara Singkawang Lewati Military Training Area Pesawat Tempur Lanud Supadio

Editor:

Kiwi

    |     Pembaca: 8506
Gagal Terbang Bandara Singkawang Lewati Military Training Area Pesawat Tempur Lanud Supadio

SINGKAWANG, SP - Pemerintah Kota Singkawang terus merapikan semua dokumen hasil rapat dan site visit Bandar Udara (Bandara) Kota Singkawang, yang rencananya dibangun di Kelurahan Pangmilang, Kecamatan Singkawang Selatan. 

Hasil dari site visit sendiri, menghadirkan 43 calon investor, yang langsung meninjau lokasi Bandara. Kegiatan ini turut dihadiri Pangdam XII/Tpr, Mayjen TNI Muhammad Nur Rahmad, Kapolda Kalbar, Irjen Pol Didi Haryono, dan pejabat dari Kementerian Perhubungan, BKPM dan PT PII.  

Walau demikian, ternyata Bandara Singkawang belum mendapatkan izin terbang, karena melewati wilayah udara militer dari Mabes TNI AU. Wilayah udara Singkawang, merupakan Military Training Area (MTA), yang telah diakui oleh dunia internasional, sebagai tempat latihannya TNI AU, dalam hal ini pesawat-pesawat tempur milik Skadron Udara (Skadud) 1 lanud Supadio.  

Menurut Danlanud Supadio, Marsekal Pertama (Marsma) TNI Palito Sitorus, wilayah udara Kalbar, khususnya Kota Singkawang, sudah sangat sempit. Apabila banyak penerbangan, akan semakin sempit. Tanpa izin dari TNI AU, penerbangan di sekitar MTA sangat berbahaya terhadap keselamatan. 

“Memang dengan berkembangkanya pemekaran wilayah pemerintahan, kita melihat semakin menjamurnya pengembangan transportasi, khususnya transprotasi udara. Tujuannya memang dalam rangka meningkatkan perekonomian masyarakat,” ujar Danlanud, saat ditemui Suara Pemred, beberapa waktu lalu. 

Kalbar dan Kota Singkawang, secara khusus, lanjut Danlanud, sebagai MTA, di mana wilayah udara mulai dari 1 jengkal di atas tanah sampai beberapa ribu feet punya aturan. Ketika MTA dimasuki pesawat asing atau tidak berizin, maka ketentuannya harus disikapi secara militer. 

“Kemudian, apabila Bandara semakin banyak, maka wilayah udara akan semakin sempit, sementara wilayah tersebut sudah digunakan secara internasional yang merupakan wilayah udara militer, sehingga tidak segampang mungkin mendapatkan izin penerbangan,” paparnya. 

Danlanud Supadio berharap, apabila Pemda, Pemprov, Pemkot/Pemkab ingin membangun Bandara, terlebih dahulu melihat bahwa wilayah udara Kalbar, termasuk Singkawang sudah sangat sempit. Seolah-olah sudah tidak ada ruang udara untuk terbang, maka harus ada kajian dengan baik. 

“Kami berharap, bisa dilakukan kajian terbaik, yang melibatkan TNI AU (Lanud) Supadio, terutama untuk kajian udaranya. Wilayah Bandara tidak hanya di darat saja, yang terpenting adalah wilayah udara. Bagaimana posisinya, di mana letak strategisnya, maka kajian terbaik harus dilalukan oleh semua pihak,” kata Marsma TNI Palito. 

Lanud Supadio sendiri, punya wewenang dan kemampuan untuk mengkaji dari sisi ijin udara atau penerbangan Danlanud menggarisbawahi, bahwa kajian udara ini demi keselamatan penerbangan, karena secara posisi sudah masuk pada MTA, yang setiap hari dipakai sebagai wilayah latihan militer. 

“Sebagai MTA, tempat latihan pesawat tempur Skadron 1 Lanud Supadio, sudah cukup krodit untuk dilalui oleh pesawat lainnya. Apabila di kawasan itu ada Bandara, sungguh sangat berbahaya. Tentunya ini kepentingannya adalah keselamatan terbang,” ujarnya. 

“Silahkan saja, namun ada kajian khusus, bagaimana jalan keluar terbaik. Kalau membangun kami diajak bicara, kami diikutsertakan. Sehingga kajiannya akan semakin konfrehensif. Ada dari sisi kementerian perhubungan, Air Nav, dan semua pihak. Lanud Supadio dari sisi wilayah pengamanan udara saja,” lanjut Danlanud. 

Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie mengatakan, puluhan calon investor yang datang adalah berasal dari Jepang, Singapura, China, Malaysia dan Indonesia. Hadirnya 43 calon terssebut, merupakan tahapan yang sudah dilakukan. 

“Seperti market soundhing dan site visit, ini membuktikan bahwa Pemkot Singkawang serius untuk membangun bandara dengan menjalin kerjasama antara pemerintah dengan badan usaha (KPBU)," kata Walikota. 

Terlebih, lahan bandara seluas 151,45 Hektare yang disiapkan Pemkot Singkawang sudah Clear dan Clean dan sudah bersertifikat hak pakai. Untuk tahapan selanjutnya, Pemkot Singkawang akan membentuk Konsorsium dan membentuk PT Badan Usaha Bandar Udara (BUBU) guna menentukan siapa yang menjadi pemenang tender. 

Sehingga, dengan sudah dibentuknya semua itu, maka Pemkot Singkawang menargetkan di tahun 2021 sudah harus mulai dilakukan konstruksi dan di tahun 2022 pembangunan bandara di Kota Singkawang ditargetkan akan selesai. 

"Artinya, antara calon investor dengan tim dari Kementerian dari sisi kerjasama pemerintah dengan badan usaha (KPBU) ini, kemudian hasil dari kita paparan mereka (calon investor) banyak mengajukan pertanyaan. Dari situlah yang akan kita rapikan untuk Pemkot Singkawang serahkan kepada Menteri Perhubungan RI dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas)," papar Tjhai Chui Mie. 

Menurutnya, hal tersebut merupakan prosedur-prosedur yang akan pihaknya lakukan. Dan setelah perayaan Imlek, dirinya akan fokus kembali untuk menyampaikan berkas hasil rapat dan Site Visit bandara ke Menteri Perhubungan RI dan Bappenas. 

Tjhai Chui Mie mengungkapkan, selain sudah mendapatkan SK terkait penetapan lokasi (Penlok) dari Menteri Perhubungan, pihaknya juga sedang berupaya untuk mendapatkan izin terbang melewati wilayah udara militer dari TNI AU. 

"Terkait dengan rencana pembangunan bandara, dari saya sendiri bersama Danlanud Supadio, sebenarnya sudah pernah saya paparkan langsung kepada Bapak Marsma TNI Palito Sitorus. Kalau tidak salah waktu itu di Restoran Dayang Resort Singkawang," ungkapnya.

 Dia juga mempertanyakan mengenai perkembangan hasil rapat antara Pemkot Singkawang dengan TNI AU yang sudah pernah dilakukan oleh Dinas Perhubungan Singkawang. 

"Tetapi jika memang masih diperlukan rapat, Pemkot Singkawang siap menggelar rapat kembali bersama TNI AU," jelasnya. 

Guna percepatan pembangunan bandara Singkawang, Tjhai Chui Mie meminta dukungan semua pihak Singkawang dan sekitarnya dan masyarakat Kalbar pada umumnya. "Dan kita siap melakukan apa-apa saja yang sudah menjadi kewajiban Pemkot Singkawang," katanya. 

Lahan bandara Singkawang yang ditinjau adalah seluas 151,45 Hektare yang sudah disiapkan Pemkot Singkawang dalam kondisi Clear dan Clean dan sudah bersertifikat hak pakai.  Sejumlah calon investor menyatakan tertarik dan akan menjalin kerjasama dengan Pemkot Singkawang guna mewujudkan bandar udara baru di Kota Singkawang.

Seperti yang diungkapkan salah satu calon investor dari China, Adon Liu, melalui penterjemahnya mengatakan, setelah melihat lokasi bandara, dia sangat ingin bekerjasama dengan Pemkot Singkawang untuk membangun bandara.

"Hanya saja, saya masih menunggu penjelasan lebih lanjut dari Ibu Wali Kota Singkawang, mengenai kerjasamanya seperti apa yang ditawarkan," katanya. 

Senada dengan calon investor dari Jepang, Isao Hata. Melalui penterjemahnya mengatakan, tertarik dan akan menjalin kerjasama dengan Pemkot Singkawang.  Bahkan, kerjasama itu bukan hanya fokus pada bandaranya saja, tapi juga bisa pada infrastruktur pendukung lainnya khususnya di dalam Kota Singkawang. 

Menyangkut masalah pembangunan bandara, jika dia boleh menyarankan, ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian Pemkot Singkawang.

Pertama, Pemkot Singkawang harus konsen terhadap pembangunannya, karena lokasi tanah yang akan dibangun bandara memiliki level air tanah yang cukup tinggi. 

"Sehingga, apabila pesawat mau mendarat, dikhawatirkan landasannya akan retak. Kedua, akses jalan masuk juga masih menjadi perhatian. Karena, apabila aksesnya susah, tentu akan menghambat pembangunan,” katanya. (rud/mul)

Semakin Krodit karena Semelagi Airport

KAWASAN Udara Singkawang, semakin krodit atau sempit, apabila Pemkot Singkawang akan membangun Bandara baru. Karena sebelumnya, 

Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie telah melakukan peletakan batu pertama pembangunan Kantor Bandara PT Smart Cakrawala Aviation (SCA), di Jalan Demang Akub, Kelurahan Semelagi, Kecamatan Singkawang Utara, Senin, 11 Maret 2019.
Saat itu, Wali Kota menyatakan bahwa kehadiran Bandara swasta di Kota Singkawang, bukti bahwa Pemkot Singkawang selalu menyambut kepada para investor yang niatnya bertujuan untuk kemajuan Singkawang. Terlebih, lanjutnya, kehadiran bandara ini juga nantinya bisa melayani sesuatu hal yang bersifat genting, sehingga akan memudahkan masyarakat untuk segera cepat sampai ke tempat tujuan.

“Untuk itu, kepada masyarakat yang tinggal di Kelurahan Semelagi Kecil diharapkan bisa mengambil peluang dari kehadiran bandara ini,” katanya.

Tjhai Chui Mie juga berjanji akan membenahi infrastruktur jalan-jalan yang masih rusak guna mewujudkan Singkawang sebagai kota pariwisata. "Segera kita perbaiki," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Smart Cakrawala Aviation (SCA) Pongky mengatakan, dengan kehadiran dan beroperasinya bandara ini sembari menunggu bandara baru milik pemerintah, pihaknya siap bekerjasama dengan Pemkot Singkawang untuk bisa memanfaatkan bandara ini agar bisa berkembang.

Bandara itu juga, menurutnya, bisa dijadikan sebagai sarana edukasi untuk kemajuan Kota Singkawang. "Yang kami operasikan untuk saat ini untuk di Kalimantan Area ada tiga pesawat," ujarnya.

Dan harapannya kedepan untuk wilayah Kota Singkawang akan pihaknya jadikan sebagai tempat perawatan pesawat-pesawat dari bendera lain, khususnya perawatan pesawat kelas perintis dan menengah.

"Artinya, ketika bandara Singkawang sudah jadi, maka bandara kamilah yang paling siap di wilayah Kalbar, untuk melayani parawatan pesawat khususnya pesawat kelas perintis dan menengah," katanya.

Manager Area PT Smart Cakrawala Aviation, Fransiskus mengatakan, lahan yang disiapkan untuk pembangunan bandara pribadi tersebut luasnya mencapai 34 hektare lebih. Persyaratan untuk pembangunan dan izin penggunaan lapangan terbang juga telah dikantongi pihak perusahaan. Seperti izin amdal lahan, izin prinsip yang dikeluarkan Pemkot Singkawang dan surat rekomendasi dari Gubernur Kalbar yang ditujukan ke Menteri Perhubungan Republik Indonesia. 

"Untuk izin dari Kementerian sudah kami dapatkan dalam bentuk Surat Izin Usaha Angkutan Udara (SIUAU), yang istilahnya dari Kementerian bukan izin prinsip tapi fungsinya sama," ujarnya. 

Beberapa alasan yang menjadikan pihaknya untuk membangun bandara pribadi di Singkawang, utamanya untuk menjadi base pesawat yang dimiliki pihak perusahaan. 

"Nantinya untuk ukuran pesawat yang bisa masuk maksimal sekelas Cessna Caravan 208, Twin Otter dan Cassa. Semua pesawat dibawah tipe ini bisa masuk," ungkapnya. 

Selain itu juga untuk mengundang investor untuk berinvestasi dibidang bengkel pesawat di Singkawang. Jika diperlukan perusahaan juga siap bekerja sama dengan Pemkot Singkawang untuk pemanfaatan transportasi orang dan barang sambil menunggu bandara Pangmilang rampung.

"Sekarang inipun kami sedang mempersiapkan perancangan dan rencananya hari Senin mendatang kami paparkan di Kantor Wali Kota Singkawang," tuturnya. 

Terpisah, Lurah Semelagi Kecil, Kecamatan Singkawang Utara, Kusnadi mengatakan bahwa masyarakat sekitar lokasi pembangunan lapangan terbang mendukung adanya pembangunan lapangan terbang milik PT Smart Cakrawala Aviation.

"Alhamdulillah, masyarakat sangat mendukung dan investor juga masuk ke Semelagi dengan santun dan melakukan pendekatan kepada masyarakat," katanya. 

Pihak perusahaan juga telah melakukan pertemuan dengan masyarakat. Turut hadir dalam pertemuan, dikatakan Kusnadi yakni, Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie beserta Forkopimda, perwakilan Polres Singkawang, anggota DPRD Singkawang yang berdomisili di sekitar kawasan pembangunan bandara Kasdim 1202/Singkawang, Camat Singkawang Utara, lurah se-Kecamatan Singkawang Utara serta tokoh masyarakat, pemuda dan agama Kelurahan Semelagi Kecil. (rud/jee/mul)