Senin, 17 Februari 2020


Oknum Guru Minta Maaf kepada Orangtua Murid, Gara-gara Denda Uang Nonton Cap Go Meh

Editor:

Kiwi

    |     Pembaca: 392
Oknum Guru Minta Maaf kepada Orangtua Murid, Gara-gara Denda Uang Nonton Cap Go Meh

MAAF - Oknum Guru SDN di Kota Singkawang, RS dan orangtua murid saling memaafkan dan berpelukan, Kamis (13/2). Suara Pempred/Rudi

SINGKAWANG, SP - Oknum guru salah satu sekolah dasar negeri (SDN) di Kota Singkawang, RS akhirnya meminta maaf kepada semua pihak, terkait adanya denda berupa uang terhadap beberapa murid yang dengan sengaja menonton Festival Cap Go Meh, Sabtu (8/2) lalu.

Permintaan maaf itu dirangkai dengan acara konferensi pers bersama media massa di Kantor Wali Kota Singkawang yang turut dihadiri Wali Kota Singkawang, Kapolres Singkawang, Ketua dan Anggota DPRD Singkawang, Kepala Dinas dan Kebudayaan Singkawang, Kemenag Singkawang, MUI Singkawang dan FKUB Singkawang.

"Dalam kesempatan ini, saya mengakui kesalahan saya dan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada semua pihak, karena viralnya video tersebut telah membuat kegaduhan dan keresahan di masyarakat," kata RS, yang merupakan guru Agama Islam. 

Dia juga berjanji tidak akan mengulangi perbuatan serupa, dan mudah-mudahan dari kejadian ini dapat memberikan pelajaran bagi masyarakat, terutama kepada dirinya. "Mudah-mudahan saya sebagai seorang guru, kedepan bisa lebih memahami dan mendukung keberagaman serta toleransi yang ada di Kota Singkawang," ujarnya.

Ketua MUI Singkawang, Muchlis AR menyatakan, sangat mendukung jika predikat Singkawang sebagai kota tertoleran di Indonesia harus dipertahankan.

Kemudian, MUI Singkawang dalam mengeluarkan imbauan-imbauan, baik itu dalam hal keagamaan atau kenegaraan, selalu menekankan sikap untuk toleransi antar umat beragama, khususnya di Kota Singkawang.

"Maka dari itu, kita harus menghadapi masalah ini dengan sebaik mungkin. Kita bantu pemerintah dalam membina kehidupan, keamanan, kedamaian dan ketentraman, khususnya dalam kehidupan beragama di Kota Singkawang," ujarnya.

Kalau ada hal-hal yang kiranya berkenaan dengan pemahaman tentang keagamaan, maka hendaknya masyarakat harus tabayun. Dalam artian, masyarakat bisa bertanya langsung kepada yang ahlinya.

 

"Misal, kalau berkenaan dengan keagamaan, silakan bertanya langsung ke MUI, dan kalau ada hal-hal yang membingungkan, bisa kita bicarakan kembali untuk dibahas, sehingga kita bisa mendapatkan informasi dan pemahaman yang benar," ungkapnya.

Tetapi jika berkenaan dengan ketenteraman atau sikap-sikap intoleran dan lain-lain, maka masyarakat harus bertanya kepada pihak keamanan. "Insya Allah kalau itu bisa kita lakukan dengan baik, maka kita akan hidup dengan damai, tenteram dan tenang di Kota Singkawang," jelasnya. 

Diungkapkan dia, setiap menjelang Cap Go Meh di Kota Singkawang, memang MUI setiap tahunnya mengeluarkan imbauan dalam rangka menjaga toleransi kehidupan umat beragama di Kota Singkawang. "Saya memahami setiap orang pasti ada perbedaan-perbedaan dalam memahani imbauan tersebut, maka dari itu, kita perlu memberikan pembelajaran dan pemahaman, sehingga semua orang tahu, bahwa toleransi dalam umat beragama itu yang bagaimana seharusnya," jelasnya.

Ketua FKUB Singkawang, Baharuddin mengatakan, video yang viral tentang denda yang diberlakukan oleh seorang oknum guru kepada beberapa murid memang cukup mengejutkan. "Karena dampak viralisasi dari video itu berimbas luas, sampai-sampai FKUB dari Jawa sempat menanyakan apakah video itu benar," katanya.

Mau tidak mau, dirinya pun harus menjelaskannya secara tranparan, bahwa video itu memang benar. Hanya saja, permasalahannya tidak sebesar viralnya video tersebut. "Alhamdulillah, Kamis (13/2) sore ini bapak Kapolres bertindak sangat cepat, mulai dari tadi malam sampai hari ini (kemarin,red) beliau pun bekerja keras untuk mendukung keamanan dan keteriban di Kota Singkawang," ujarnya.

Dengan sudah adanya pengakuan kesalahan dan permintaan maaf dari oknum guru tersebut, dia berharap permasalahan ini selesai dan tidak berkepanjangan.  "Karena kita semua berkeinginan agar di tahun 2020 Kota Singkawang tetap sebagai kota tertoleran di Indonesia," ungkapnya.

Kepada seluruh masyarakat Singkawang, janganlah men-share berita-berita seperti itu lagi, karena hal tersebut dapat merusak pemikiran-pemikiran cerdas bagi masyarakat Kota Singkawang.  "Karena bagaimanapun kemapaman maupun kondisi ekonomi harus lebih kita utamakan dalam rangka mencapai kesejahteraan untuk Singkawang hebat dan maju," jelasnya.

Sementara itu, Kapolres Singkawang, AKBP Prasetiyo Adhi Wibowo mengatakan, jika sebelumnya pihaknya sudah menggelar pertemuan antara oknum guru dengan  orangtua murid yang dimintai uang denda, karena anaknya menonton Festival Cap Go Meh. "Pertemuan itu adalah sebagai upaya pihaknya untuk meredam kegaduhan dan keresahan yang sempat timbul di tengah-tengah masyarakat, karena beredarnya video yang dibumbui dengan bahasa-bahasa jika di Singkawang sudah ada cikal bakal intoleran. Jadi harus sama-sama kita pahami bahwa kata-kata itu tidak benar," katanya.

Sehingga, dirinya selaku Kapolres Singkawang menegaskan, berdasarkan fakta-fakta yang ada bahwa untuk kata ‘kalau di Singkawang sudah ada cikal bakal intoleran’ itu adalah tidak benar. "Insya Allah Kota Singkawang masih aman, tertib dan damai," ujarnya.

Namun, video yang viral mengenai adanya pernyataan permintaan uang denda sebesar Rp30 ribu ke murid dari oknum guru di salah satu sekolah itu memang benar. "Tapi, antara kedua belah pihak pada Kamis (13/2) pagi ini, sudah menyelesaikannya secara kekeluargaan," ujarnya.

Bahkan oknum guru yang meminta uang denda tersebut sudah meminta maaf atas kekhilafannya kepada orangtua murid yang bersangkutan. Sementara orangtua murid yang bersangkutan juga sudah memaafkan, dan pihak sekolah juga sudah menyatakan mulai hari ini berjanji tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi.

Terkait dengan hal ini pula, pihak kepolisian akan menyerahkan sepenuhnya kepada komite sekolah dan PGRI Singkawang untuk menyelesaikannya secara internal.

Dalam kesempatan itu juga, dia mengimbau kepada seluruh masyarakat Singkawang, apabila ada berita, baik itu diduga benar ataupun belum tentu benar, dan apabila ada imbauan baik resmi maupun diduga tidak resmi apalagi resmi baik dari dinas, instansi ataupun badan, bila dirasa meragukan atau bingung untuk mengartikan isi imbauannya, agar mengkonfirmasi kepada pihak yang mengeluarkan imbauan tersebut.

"Sehingga tidak terjadi penjabaran yang terlalu jauh untuk menghindari kejadian-kejadian seperti ini, agar tidak terulang kembali," pintanya.

Mengingat yang terjadi sekarang ini, dinilainya telah ada miss komunikasi atau mensalahartikan terhadap imbauan yang ada. (rud/yun)

Selesaikan dengan Baik

Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie mengucapkan terima kasih kepada semua pihak terkait seperti MUI, FKUB, Kemenag dan Polres Singkawang yang sudah sangat cepat menanggapi viralnya video tersebut.

"Inilah sebagai bukti bahwa Kota Singkawang sebagai kota tertoleran," katanya.

Tentu penyelesaian masalah seperti ini merupakan hal yang baik untuk Kota Singkawang, terlebih oknum guru yang bersangkutan sudah mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada masyarakat Kota Singkawang.

"Saya juga mengajak kepada seluruh masyarakat Singkawang untuk lebih arif dan bijaksana dalam menanggapi apapun di media sosial," ujarnya.

Dia mengimbau masyarakat Singkawang, agar tidak men-share berita-berita yang dapat meresahkan dan membuat gaduh masyarakat. "Sehingga keamanan dan kenyamanan serta harmonisasi yang sudah kita raih bisa kita jaga dengan baik," ungkapnya. (rud/yun)